Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Barat Kalimantan Barat
KISAH PEREBUTAN TENGKORAK PATIH GUMANTAR
- 13 November 2018

Patih Gumantar adalah pemimpin Kerajaan Mempawah berkedudukan di dekat pegunungan Sidiniang, Sangking, Mempawah Hulu yang berdiri kira-kira tahun 1340 Masehi. Konon Patih Gajahmada adalah saudara dari Patih Gumantar ini, salah satu peninggalan Patih Gajahmada di kerajaan Mempawah ini adalah sebuah keris Susuhan yang diberikan Patih Gajahmada sesudah ia melakukan lawatannya ke kerajaan Muang Thai untuk membendung serangan pasukan Mongol.

Patih Gumantar dikenal sebagai raja yang berjaya dan sangat kaya raya, sehingga banyak juga yang ingin merebut kekayaan ini. Pasukan dari kerajaan MIAJU nekad menyerangnya dengan kekuatan yang besar sehingga mengalahkan kerajaan Patih Gumantar dan terkayaunya kepala Patih Gumantar, karena memang saat itu adalah masa tenang dimana masuk musim berladang. kemudian dibawa oleh pasukan MIAJU ini ke kerajaannya. Tengkorak kepala Patih Gumantar diyakini memiliki khasiat yang luar biasa bagi kerajaan MIAJU ini sehingga kepala ini jaga dengan ketat dan disimpan didalam sebuah tajau / balanga disebut TAJAU TARUS.

Itulah pula yang menyebabkan dua bersaudara antara Banyuke dan Mempawah Ulu berkayau setelah itu karena Banyuke mengganggap orang-orang Mempawah Ulu tak mampu menjaga Patih Gumantar dan semenjak kejadian itu Kerajaan Mempawah menjadi vakuum selama 200 tahun akibat keturunan Patih Gumantar sebanyak tujuh orang adalah putri semua. Salah satu puteri Patih Gumantar yang dikenal akan ilmu pengobatannya adalah DARA HITAM atau nama aslinya adalah DAYANG SALIMPAT, ia sangat disayangi oleh masyarakatnya karena suka membantu setiap orang tanpa ragu dan pamrih.

Suatu ketika DARA HITAM sedang mandi di Sungai, konon ia memiliki rambut yang sangat panjang, ketika mandi ini tercabut sehelai rambut DARA HITAM dan karena sangking panjangnya satu helai ini rambut ini memenuhi sebuah bokor. Rambut ini terhanyut dan terlihat oleh pengawal RAJA PULANG PALIH – seorang keturunan Raja Jawa di Banten, kemudian hal ini dilaporkan kepada Raja Pulang Palih, karen sangking herannya Raja Pulang Palih menjadi penasaran untuk mencari siapa pemilik rambut tadi. Kemudian raja dan pengawalnya ini menyusuri sungai untuk mencari sang pemilik rambut tersebut.

Setelah jauh mereka mendayung sampailah mereka disebuah kampung di Tembawang Selimpat, disana mereka bertanya kepada seorang anak yang sedang menimba air, apakah dikampung itu ada pemilik rambut tersebut, sang anak ini menjelaskan dengan rinci bahwa di kampung ini ada seorang wanita cantik jelita yang memilikinya namun orang tersebut sedang mengobati orang lain, maka Raja Pulang Palih membuat suatu siasat dengan berpura-pura sakit, dan ia mengutus anak buahnya untuk meminta pertolongan Dara Hitam. Mendengar hal itu Dara Hitam bergegas datang membawa ramuannya untuk membantu mengobati Raja Pulang Palih tanpa mengetahui bahwa itu hanyalah akal bulus dari Raja Pulang Palih. Ketika Dara Hitam naik ke sampan Raja, dengan cepat pengawal raja memutuskan tali tambat dan membuat Dara Hitam tidak sadarkan diri kemudian mereka mendayung dengan cepat dari TEMBAWANG SELIMPAT menuju TEMBAWANG AMBATOR.

Ketika sampai di Tembawang Ambator, Raja Pulang Palih mencoba merayu Dara Hitam untuk menikahinya – Raja Pulang Palih ini memiliki banyak sekali istri – Maka Dara Hitam memiliki suatu rencana cerdik, ia tidak langsung menolak permintaan raja tetapi memberikan suatu syarat  yaitu jika Raja Pulang Palih mampu merebut kembali tengkorak ayahnya PATIH GUMANTAR dari kerajaan BIAJU maka Dara Hitam bersedia menikahi sang raja.

Maka sang raja menjadi bimbang namun karena hatinya yang sudah terpikat dengan Dara Hitam, ia kemudian mengumpulkan penasihatnya untuk menanyakan pendapat dan strategi merebut Tengkorak PATIH GUMANTAR dari kerajaan BIAJU, sebab pasti Raja Pulang Palih akan menghadapi pertempuran yang sengit. Maka disarankan untuk membuat sebuah JONG atau kapal besar, kemudian Raja memerintahkan untuk mencari kayu yang paling baik yaitu kayu MELABO, kemudian pergilah suruhannya mencari kayu itu dan ditemukan di Sungai Sepatat. Kayu Melabo adalah nama sejenis pohon penghasil kayu keras berkualitas tinggi anggota suku Fabaceae (Leguminosae), kadang juga disebut sebagai kayu besi

Kayu Melabo

Kayu Melabo

Kemudian rakyat Raja Pulang Palih mencoba menebang pohon ini, namun anehnya mereka tidak bisa menebang pohon ini, sebab setiap kali mereka mencoba menebang pohon ini keesokan harinya pohon itu bersatu kembali. Melihat hal ini raja Pulang palih menjadi sangat kecewa sebab ia tentu tidak akan bisa mendapatkan Dara Hitam. Kemudian Dara Hitam mencoba memberi saran kepada Raja Pulang Palih, bahwa ada seorang pemuda bernama RIYA SINIR yang mampu menebang pohon MELABO itu, Riya Sinir dan Dara Hitam sebenarnya adalah saudara jauh, sama-sama dari trah keturunan Bujangk Nyangko si manusia Dewa dari gunung Bawang.

Maka Raja mengirim utusannya untuk mengundang RIYA SINIR, maka berangkatlah RIYA SINIR ke Tembawang Ambator untuk membantu raja. Anehnya ketika Riya Sinir mengayunkan kampaknya hanya dengan sekali tebasan Pohon MELABO ini tumbang sehingga membuat orang banyak tercengang dengan kesaktian RIYA SINIR. Setelah berhasil menebang pohon bakal JONG tadi, Riya Sinir kembali kekampungnya dan rakyat Tembawang Ambator membangun sebuah Kapal Besar – Jong tadi.

Replika JONG

Replika JONG

Permasalahan timbul ketika mereka mencoba meluncurkan JONG tadi ke sungai, raja sudah mengerahkan seluruh rakyatnya namun kapal tersebut tidak bergerak sedikitpun. Maka Dara Hitam pun kembali mengusulkan untuk memanggil Riya Sinir kembali – nampaknya Dara Hitam diam-diam sudah jatuh hati kepada Riya Sinir. Maka raja mengirim utusannya untuk meminta bantuan Riya Sinir. Maka Riya Sinirpun bersedia membantu raja, Riya Sinir memberikan syarat untuk memindahkan JONG ini berupa 7 wanita yang sedang hamil tua dan kesemuaanya harus hamil anak pertama sebab ketujuh wanita ini akan dijadikan bantalan alas JONG yang diluncurkanm kemudian tujuh buah telor ayam yang baru pertama kali bertelor, tiga gantang uang logam, campuran perak, tembaga dan uang timah. Sungguh permintaan yang cukup berat buat Raja, namun dengan mengerahkan segenap sumber dayanya, raja Pulang Palih berhasil memenuhi semua syarat yang ditentukan Riya Sinir.

Ketika syarat sudah lengkap, kemudian Riya Sinir menyuruh ketujuh wanita yang hamil tua tadi untuk tidur terlentang didepan JONG, sebab perahu itu akan meluncur melalui perut wanita tadi. Kemudian Riya Sinir berjalan ke buritan JONG dan dengan kesaktiannya ia hanya memukul buritan JONG maka JONG tadi meluncur dengan baik ke sungai, namun anehnya ketujuh wanita tadi tidak mengalami apa-apa bahkan mereka merasa lebih sehat dari sebelumnya, kemudian ketujuh telor ayam tadi disuruh untuk dieramkan sehingga menetaskan 7 ayam jago.

Kemudian Riya Sinir diminta untuk menjadi pemimpin ekspedisi ini, dan Raja Pulang Palih menjanjikan apabila Riya Sinir berhasil maka ia akan mengaruniakan hadiah sesuai permintaanya. Maka Riya Sinir memerintahkan untuk memasukan semua peralatan perang kedalam JONG. Kemudian berangkatlah mereka ke daerah kekuasaan kerajaan BIAJU.

Sesampainya didaerah kekuasaan BIAJU, Riya Sini dan pengikutnya mencoba mengintai keadaan Rumah Betang kerajaan Biaju ini, terlihat mereka menaruh tengkorak Patih Gumantar didalam sebuah Tajau Turu di sebuah pondok yang dijaga dengan ketat. Melihat begitu sulitnya menembus pertahanan biaju ini, maka Riya Sinir sudah mempersiapkan suatu taktik yaitu dengan menggunakan uang 3 gantang yang sebelumnya ia mintakan dari Raja Pulang Palih. Pada malah hari ia mengangkut semua uang tadi dan dengan sengaja ia menghamburkan uang itu ditempat orang-orang Biaju biasa menimba air, ada jug auang yang diikat dan disangkutkan ke atas pokok pohon untuk menuba (meracuni) ikan. Esok paginya ketika orang-orang Biaju pergi menimba air, terlihatlah begitu banyak uang yang bertaburan. Kemudian mereka segera berlarian ke rumah betangnya dan memberitahukan uang yang jatuh dari langit, tanpa pikir panjang pergilah berduyun-duyun semua orang biaju dari rumah panjangnya untuk memungut uang yang bertaburan dan tersangkut di pokok pohon tadi, kemudian mereka menebang pohon tuba itu sehingga meracuni ikan yang didalam sungai dan membuat banyak ikan yang yang timbul sehingga semakin ramai lah mereka memungut uang dan ikan tadi sehingga mereka meninggalkan penjagaan terhadap tengkorak Patih Gumantar tadi.

Melihat kesempatan itu Riya Sinir sesegara mungkin mengambil Tajau yang berisi tengkorak Patih Gumantar kedalam perahu mereka dan kemudian Riya Sinir memerintahkan “Ayo, mengayuhlah sekuat tenagamu, awas jangan sampai kita terkejar musuh”, maka dengan cepatlah mereka meninggalkan daerah Biaju untuk kembali ke Tembawang Ambator.

Sesampainya di kerajaan Pulang Palih, Riya Sinir disambut oleh raja dan Dara Hitam, maka Raja Pulang Palih teringat akan janjinya, Raja Pulang Palih hendak mengaruniakan salah satu dari istrinya yang memang terkenal akan kecantikannya, maka Raja memerintahkan keenam istrinya untuk berdandan sebaik mungkin sedangkan Dara Hitam ia sembunyikan didalam dapur dan sengajak digosok arang (itulah sebabnya namanya disebut Dara Hitam). Kemudian raja berkata kepada Riya Sinir untuk bebas memilih dari keenam istrinya itu, namun hadiah itu ditolak oleh Riya Sinir sebab ia pun jatuh hati kepada Dara Hitam. Kemudian Riya Sinir berkata kepada raja “Kepada siapa kunang-kunangku itu terbang hinggap maka ialah yang akan menjadi istriku” maka dengan kesaktiannya Riya Sinir mengambil daun sirih kemudian dilucut-licutkannya dan keluarlah seekor kunang-kunang. Kunang-kunang ini terbang ke arah dapur, maka sang raja menjadi sangat gelisah sebab disana Dara Hitam berada. Maka benarlah kunang-kunang Riya Sinir hinggap pada Dara Hitam, melihat hal itu Raja Pulang Palih sangat kecewa namun ia sudah terlajur berjanji kepada Riya Sinir, maka raja mau tidak mau memberikan Dara Hitam kepada Riya Sinir.

Kemudian Raja berkata “Riya Sinir, tidak akan kutahan pilihanmu, hanya aku mohon kiranya kandungan Dara Hitam melahirkan anak laki-laki maka ia adalah anakku, dan apabila perempuan ia adalah anak Dara Hitam” kemudian Riya Sini mengiyakan permintaan raja tadi. Riya Sinir dan Dara Hitam pulanglah kembali kekampung halamannya dan disana ia disambut oleh ayah Riya Sinir bernama Riya Jambi kemudian warga kampung disana mengadakan pesta pernikahan kedua pasangan ini.

Beberapa bulan setelah pernikahan Riya Sinir dan Dara Hitam maka mengandunglah Dara Hitam dan melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan masing-masing ia beri nama LUTIH dan KARI. Mendengar Dara Hitam melahirkan anak laki-laki juga, hati raja Pulang Palih menjadi sangat gembira kemudian Raja Pulang Palih datang menjenguk Riya Sinir dan terutama anak kembar mereka.

Sumber: Sejarah Hukum Adat dan Istiadat Kalimantan Barat. Karangan J.U. Lontaan. 1975.

Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2014/03/13/kisah-perebutan-tengkorak-patih-gumantar/

#SBJ

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu