Indonesia adalah negara yang mempunyai sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif.Tak hanya sumber daya manusianya saja,tetapi juga sumber daya alam yang melimpah. Keistimewaan ini merupakan salah satu kekayaan yang dimiliki oleh negara tersebut.Bahkan tercatat bahwa hampir 8 hektar Negara Zamrud Khatulistiwa ini merupakan lahan pertanian.Dimana sebagian lahan tersebut digunakan para petani untuk menanam tanaman seperti salah satunya adalah eceng gondok.
Tanaman Eceng Gondok merupakan salah satu jenis tumnuhan air yang mengapung yang berperan sebagai produsen pada ekosistem air tawar.Tanaman ini seringkali menimbulkan kerugian.Jika tidak benar benar di atasi dengan baik.Tumbuhan eceng gondok ini bisa menyebar keseluruh permukaan air dimana dapat mengganggu lalu lintas diperairan,dan dapat menyebabkan evaprotranspirasi yang berarti jumlah kehilangan air akan bertambah besar.Sebagai warga Indonesia yang memiliki inovasi dan kreatifitas yang sangat tinggi,warga dari daerah Ambarawa, Kota Semarang memanfaatkan eceng gondok ini sebagai kerajinan yang bernilai seni tinggi.Kerajinan ini bernama Klaster Kerajinan Eceng Gondok “Klinting” Ambarawa.
Kerjainan ini termasuk dalam UKM atau industri kecil berbasis kerajinan. Olahan Enceng gondok ini bisa berupa sandal, dompet, tempat Tissue, pigura, miniatur kereta, vas bunga, dll Salah satu warga sekaligus ketua kluster,Bu Komsah mengungkapkan “komunitas ini sudah didirikan sejak lama , saya dipilih menjadi ketua kluster karena dapat dipercaya untuk menghandle para warga dan memang tujuannya adalah untuk mengajak dan melatih para warga agar memiliki keterampilan dan usaha” ujarnya.Para warga menyambut dengan sangat antusias hingga akhirnya di daerah tersebut sudah menjadi daerah pengrajin eceng gondok.
“Komunitas ini sangat bermanfaat karena bisa sekaligus mensejahterakan kebutuhan masyarakat setempat,para warga tinggal diberikan target dalam orderan dan kegiatan ini bisa dilakukan di rumah mereka masing-masing sehingga kenyamanan tetap diperhatikan” tambahnya.
Tak heran jika pemesanan terus mengalami diagram yang meningkat setiap tahunnya,karena kerja sama disini merupakan modal awal pembentuk komunitas eceng gondok di Ambarawa tersebut.Sudah beberapa kali warga dari luar kota bahkan luar pulau tertarik dan memesan kerajinan eceng gondok ini hingga cangkupan yang sangat besar dan banyak. Karena tahun ke tahun semakin produktif, kerajinan ini sudah bisa dinikmati sampai luar negara.Dan akhirnya kerajinan Indonesia salah satunya eceng gondok bisa dikatakan sudah mendunia.
#OSKMITB2018
Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa,tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendi...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.