Suku baduy terbagi menjadi 2, yaitu suku Baduy luar dan suku Baduy dalam. Suku Baduy memiliki keyakinan yang kuat akan hal mistis, terutama suku Baduy dalam. Karena memiliki keyakinan akan hal mistis yang sangat kuat, wilayah Baduy dalam tidak dapat disusupi oleh siapapun. Oleh karena itu, suku Baduy dalam dapat mengisolasi wilayahnya dari hal-hal yang merubah tatanan hidup orang zaman dulu atau perubahan zaman. Pintu masuk yang aman untuk dilewati hanya satu, yaitu melalui jembatan bambu dan jembatan tersebut dijaga ketat oleh suku Baduy luar dan mereka akan memberi tahu jika boleh atau tidak boleh dimasuki wilayah tersebut. Jika ada yang melanggar, maka nyawa taruhannya. Penagkal wilayah mereka sangat kuat, bahkan negara penjajah tidak bisa menembusnya.
Suku baduy menganut kepercayaan turun temurun yang disebut Wiwitan. Wiwitan merupakan kepercayaan yang berbentuk penghormatan kepada roh alam. Kepercayaan ini dimaksudkan atau ditujukan untuk melestarikan alam sekitar, sperti menjaga sungai agar tetap bersih karena itu merupakan sumber air minum, menjaga gunung, menjaga hutan agar tidak ditebang, menghidupkan lahan pertanian agar hasil panennya berlimpah dan dapat dikonsumsi oleh mereka, dan lain-lain. Salah satu ajaran dari kepercayaan wiwitan yang dijadikan ketentuan adat yang mutlak adalah "panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung". Jadi jika mereka ingin bembuat rumah atau yang lainnya mereka harus memanfaatkan yang sudah jadi. Di wilayah mereka, ada daerah yang dilarang untuk dikunjungi atau ada tempat disekitar rumah mereka yang dilarang untuk dilewati, karena jika dikunjungi atau dilewati maka nyawa yang melewati atau mengunjungi akan terancam saat itu juga.
#OSKMITB2018
Hubungi call center resmi Pinjam Flexi (0857) 58337054 atau CS Pinjam Flexi (0831)69265049 dan melalui email cs@pinjamflexi.id. layanan customer service Pinjam Flexi dapat dihubungi Senin-Minggu pukul 08:00-23:00 WIB.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara