“Aceh adalah negeri penuh cerita.” Jargon ini sudah sering kita dengar, baik dari orang Aceh sendiri maupun dari orang luar yang datang ke Aceh. Bukan hanya itu, dalam jargon lain disebutkan bahwa “Orang Aceh suka cerita dan bercerita”. Asumsi ini kemudian dikaitkan dengan berserabutnya warung kopi-warung kopi di Aceh. Di samping itu, kegemaran orang Aceh yang senang menyebutnya dengan ureueng Aceh dalam bercerita acapkali disampaikannya kepada alam. Misalnya, sembari melaut atau mencangkul di sawah, saat senggang (istirahat) terkadang dia berkisah kepada alam, entah mengadu tentang perjalanan hidupnya atau menceritakan sesuatu yang ada di alam. Dia menceritakan itu sambil berirama. Dari sinilah salah satu ihwal munculnya sebuah kesenian bercerita di Aceh, yakni kesenian tutur.
Hikayat PMTOH merupakan salah satu kesenian bercerita (bertutur) tersebut. Cara bercerita gaya PMTOH ini pertama sekali dipopulerkan oleh Tgk. H.Adnan. Dia merupakan tukang hikayat yang sangat populer sejak tahun 1960-an. Kabarnya, kelihaian dalam berkisah membuat ia sering diundang dalam acara-acara atau pesta, baik pesta perkawinan, sunat rasul, atau acara-acara kesenian. Dia juga dikenal sebagai tukang cerita keliling dan tukang obat keliling.
Nama PMTOH diambil dari kata poh tèm, yaitu kata lain dari bercerita. Dalam tradisi Aceh, bercerita disebut juga dengan peugah haba, meuhaba, pohaba, poh cakra, poh tèm, cang panah, yang kemudian menjadi sebuah nama salah satu kesenian bercerita di Aceh. Untuk jenis poh cakra, poh tèm, cang panah, biasanya dilekatkan pada bercerita yang membahas segala hal, kadang tak tentu ujung pangkalnya. Dari kata poh tèm itulah kemudian dipelesetkan menjadi pèm toh/ peng toh, yang kemudian diselaraskan bunyinya menjadi pe-em-toh.
Dalam bahasa Aceh memang banyak variasi bahasa yang dipelesetkan seperti di atas, misalkan bu kuloh (boh kulu), kayèe meulakém (kayém meulakè) sabang meuglé (sabé meuglang), langsa bak phong (langsong bak pha), dan masih banyak lagi, mulai dari yang bagus untuk didengar hingga kepada yang “jorok” semisal gampông punggét (gapét punggông). Menurut ilmu linguistik, kasus bolak-balik kosa kata seperti ini dimasukkan dalam variasi bahasa yang disebut dengan variasi slang. Karena itu, ada yang mengatakan PMTOH pelesetan dari poh tem (pem toh/ pe-em-toh) bila ditinjau dari variasi slang.
sumber : Acehdalamsejarah
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...