Matianak adalah hantu Baweanyang memiliki beberapa kesamaan dengan hantu yang telah diakui secara nasional di Indonesia, kuntilanak. Atau dalam budaya Jawa, disebut sundel bolong. Matianak digambarkan sebagai hantu perempuan (atau betina?) berambut panjang, wajah pas-pasan, suara menyeramkan (sebagaimana semua hantu lainnya), dan yang menjadi ciri khasnya: hanya menggoda kaum pria—ini menimbulkan kecurigaan bahwa jumlah perempuan di dunia hantu sudah sangat banyak melampaui jumlah kaum pria, sehingga hantu-hantu perempuan juga mencoba untuk menggoda kaum pria non-hantu.
Tidak ada konfirmasi pasti apakah Matianak memiliki lobang berulat dipunggungnya atau tidak. Sepertinya alam imajinasi sebagian orang Baweandipengaruhi oleh gambaran kuntilanak sehingga mengira Matianak punya lobang dibelakangnya. Padahal tidak ada laporan yang meyakinkan tentang itu. Tapi yang perlu dibahas, apakah ada jenis laki-lakai dalam ras Matianak ini? Karena beberapa laporan dari penampakan-penampakan terakhir menyebutkan jika ada laki-laki (atau jantan?) dalam komunitas Matianak.
a.
dari mana datangnya?
Kita coba telusuri terlebih dahulu asal muasal hantu tak cantik ini. Apakah hantu ini dari tanah Jawa—dugaan ini mencuat karena diketahui jika dataran Jawa memiliki koleksi hantu yang paling banyak di Indonesia dan letak geografisnya paling dekat dengan pulau Jawa—atau Matianak adalah hantu berdarah Bawean asli?
Orang tentunya banyak menduga kuntilanak dari Jawa, bisa jadi dia berpindah ke Baweandengan ikut kapal nelayan, atau kapal dagang, atau mungkin dengan menumpang awan hitam di langit. Sulit membayangkan kuntilanak terbang melintasi lautan karena kuntilanak bukanlah penerbang handal seperti halnya boeing atau falcon atau stealth. Kuntilanak adalah hantu berkelebat. Artinya, dia melompat terbang hanya untuk berpindah tempat sebagai mana seekor belalang. Seekor belalang akan melakukan lompatan cepat dan melayang beberapa detik di angkasa untuk berpindah tempat atau berburu mangsa dengan cepat.
Namun yang perlu kita pertanyakan, bagaimana dengan lobang di belakangnya? Dan anak kecil yang biasa digendongnya? Matianak yang di Baweantidak menggendong bayi, mereka memang mendatangi bayi, tapi tidak menculik si bayi dan memangsanya atau menggendongnya ke mana-mana layaknya baby sitter. Kedatangan Matianak ke tempat ibu hamil melahirkan adalah—konon—untuk menghisap darah persalinan. Tapi alasan yang lebih bisa diterima adalah kedatangannya itu untuk belajar bagaimana cara bersalin yang tepat dan aman. Kita manusia tidak pernah tahu betapa banyak kasus kematian Matianak perempuan saat melahirkan.
Dan lagi, Matianak tidaklah sekejam sundel bolong, bahkan bisa dibilang Matianak ini sebagai si genit yang menyebalkan. Matianak memang menggoda para pria—beberapa orang mengaku diremas itunya oleh hantu kurang ajar ini—tapi tidak sampai membunuhnya. Mungkin benar dugaan di awal tadi, bahwa terlalu banyak perempuan di dunia Matianak, sehingga dia melanggar Aturan Melintas Batas, masuk ke dunia manusia dan menggoda para pria—mungkin anda pernah dengar tentang beberapa orang yang punya istri simpanan hantu perempuan di rumahnya, itu perbuatan yang menjijikkan. Matianak tidak sampai membunuh para korbannya.
Kalau demikian, dari manakah Matianak ini? Tebakan yang paling kuat adalah bahwa dia, Matianak ini, adalah hantu asli pulau Bawean, walaupun belum bisa diketahui melalui pembuktian ktp atau catatan sipil. Dugaan yang kuat adalah bahwa Matianak adalah anak kandung Mengmang dengan Lentong-lentong (wewe gombel), atau beberapa kabar miring mengabarkan, Matianak adalah hasil perselingkuhan lentong-lentong dengan Ilung Lanjang!
Untuk mempersingkat, kita perlu tahu bahwa Ilung Lanjang adalah hantu impotent. Itulah kenyataannya. Dia tidak bisa lagi berhubungan dengan siapapun maupun dengan apapun. Belum lagi, ada kecurigaan Ilung Lanjang adalah seorang (?) pedofilia. Jadi tidak mungkin dia berselingkuh dengan lentong-lentong yang jelas-jelas adalah hantu perempuan dewasa. Jadi, kemungkinan bahwa Matianak adalah anak kandung mengmang dengan lentong-lentong adalah sangat kuat. Masalahnya, semua manusia yang pernah bertemu dengan mereka tidak pernah sempat untu menanyakan hal ini, jadi manusia belum punya kepastian tentang hal ini kecuali hanya sebuah dugaan kuat. Kita juga tidak bisa mengatakan apakah keluarga mengmang + lentong-lentong + Matianak adalah keluarga yang bahagia atau kacau balau karena pemberontakan Matianak anaknya (mengmang dan lentong-lentong adalah hantu penyesat manusia dalam perjalanan, sementara Matianak adalah hantu penggoda pria). Dan satu lagi, kita tidak tahu pasangan mengmang-lentong-lentong yang manakah yang menghasilkan Matianak! Ini sangat sulit. Bahkan saya sendiri tidak mau menemui salah satu dari hantu-hantu itu hanya untuk mendapatkan informasi yang valid mengenai ini. Apa kau gila? Menemui setan kuno menyeramkan hanya untuk posting di blog? Gila!
b.
adakah kaum pria di kalangan Matianak?
Polemic ini muncul karena kepercayaan masyarakat menyebutkan Matianak adalah hantu perempuan. Tidak ada konfirmasi dia sebagai hantu pria sebelumnya. Tapi laporan-laporan terakhir menyebutkan jika ada laki-laki di kalangan Matianak.
Beberapa orang yang sempat berinteraksi dengan Matianak, mengidentifikasi adanya pria di antara gerombolan Matianak. Namun demikian, jumlahnya sangat jaraang. Untuk sementara, kita ambil hipotesis bahwa memang ada kaum pria di antara para Matianak. Setidaknya pemikiran ini bisa sedikit melegakan kaum pria manusia, bukan?
Masa kejayaan dan keruntuhan Matianak
Tak ubahnya dengan Ilung Lanjang, Matianak juga mengalami kemundurannya saat Baweanmulai memasuki era modern. Tapi, berbeda dengan ilunglanjang, Matianak masih jauh lebih beruntung. Orang-orang masih ingat dan menghawatirkannya. Tiap kali ada orang melahirkan, orang memasang lampu di depan rumah, di atas tempat penguburan ari-ari sebagai pengusir Matianak.
Itu adalah warisan budaya lama yang masih terus dipegang. Dan tradisi akan senantiasa dilaksanakan selama kepercayaan pada Matianak tetap ada. Sebenarnya, kita bisa menilai bahwa itu merupakan cara yang dipakai orang-orang jaman dulu untuk mengusir binatang, agar tidak menggali dan memakan ari-ari anak mereka. Kita tahu jika anjing memiliki penciuman yang sangat tajam. Ini adalah penjelasan untuk mereka yang tidak percaya pada superstition. Banyak hal yang diperbuat orang-orang jaman dulu yang dikaitkan dengan hantu-hantu tertentu sebenarnya memiliki alasan rasional jika saja kita mau mencoba menggali rahasia dibalik iu. Kesimpulannya, orang jaman dulu adalah orang yang cerdas, mereka tahu bagaimana menjelaskan suatu fenomena dan mebuat orang melakukan suatu hal dengan cara yang bisa dipahami dan diterima orang sesuai dengan takaran kemampuan berpikirnya saat itu. Karena saat itu orang-orang sangat memegang takhayul, maka para pemikir jaman dulu memakai takhayul untuk mengubah sikap dan tingkah-laku orang-orang di masa itu. Hanya saja kita yang terlalu tolol menerima semua itu dengan mentah-mentah. Namun, jika anda percaya jika Matianak itu memang benar-benar ada, percayalah, dengan menaruh lampu di atas penguburan ari-ari anak anda, itu sudah sangat aman. Dengan ijin Allah, tentunya.
DATA TENTANG MATIANAK:
Nama hantu: Matianak
Jenis kelamin: perempuan, beberapa laporan menyebutkan ada juga laki-lakinya.
Usia: tidak terdeteksi. Matianak tidak memiliki akta kelahiran atau semacamnya.
Habitat: tempat-tempat rimbun di hutan atau di pinggir kampung. Bisa di atas pohon raksasa atau semak belukar. Tapi mayoritas laporan menyebutkan habitat Matianak adalah poho-pohon besar rimbun dan angker.
Spesialisasi: menghantui pria dewasa dan memangsa ari-ari bayi. Menghisap darah persalinan.
Ancaman bagi manusia: menakuti manusia, baik laki perempuan, anak-anak atau dewasa.menyerang ibu hamil dan yang melahirkan. Memakan ari-ari bayi.
Asal: kemungkinan berasal dari tanah Jawa, tapi lebih masuk akal bahwadia hantu asli pulau Bawean.
Cara mengatasi: maki dia dengan kata-kata yang sangat kotor.
Sumber: https://arulchandrana.wordpress.com/2009/10/03/2-hantu-hantu-bawean-series-matianak-hantu-transgenic-dari-jawa-atau-hantu-pelarian/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...