Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta DI Yogyakarta
Goa Nagabumi
- 20 November 2018

Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang sangat besar dan kuat. Kerajaan itu bernama Mataram. Wilayah kekuasaan kerajaan Mataram meliputi seluruh tanah Jawa, bahkan pengaruhnya meluas sampai ke berbagai negeri di seberang lautan. Raja yang bertahta di Kerajaan Mataram itu bergelar Kanjeng Panembahan Senopati. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Mataram dengan pesat berkembang menjadi sebuah kerajaan yang besar.

Sejak sebelum menjadi raja, Kanjeng Panembahan Senopati adalah seorang prajurit yang tangguh dan perkasa. Sikapnya yang satria memperkuat kedudukannya sebagai senopati yang sangat dicintai oleh para bawahannya, dan sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan.

Kanjeng Panembahan Senopati terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa dan sangat pintar dalam menyusun siasat perang. Itulah sebabnya, maka banyak raja dari negeri lain menyatakan takluk di bawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Kesaktian Kanjeng Panembahan Senopati tidak hanya membuat kerajaan-kerajaan manusia menjadi takut, tetapi juga membuat gentar kerajaan-kerajaan makhluk halus yang ada di Pulau Jawa.

Salah satu dari sekian banyak kerajaan makhluk halus itu ada yang terletak di sekitar Segara Kidul. Kerajaan itu diperintah oleh seorang ratu (raja perempuan) yang bergelar Kanjeng Ratu Kidul. Oleh karena letaknya yang dekat dengan pusat kerajaan Mataram, maka untuk menghindari agar jangan sampai kerajaannya hancur lebur bila bertentangan dengan Kanjeng Panembahan Senopati, maka Kanjeng Ratu Kidul berusaha menggabungkan kerajaannya dengan Kerajaan Mataram.

Suatu saat, ketika Kanjeng Panembahan Senopati sedang mengasingkan diri di pantai selatan, Kanjeng Ratu Kidul menemuinya dengan menyamar menjadi manusia biasa, dalam wujud seorang puteri yang sangat cantik. Melihat kecantikan puteri jelita yang datang menghampiri itu, Kanjeng Panembahan Senopati terpikat hatinya. Singkat cerita, Kanjeng Ratu Kidul lalu diperisteri oleh Kanjeng Panembahan Senopati. Akibat dari perkawinannya dengan Kanjeng Ratu Kidul itu, maka Kerajaan Mataram wilayahnya menjadi sangat luas. Dan, bukan hanya manusia saja, melainkan juga seluruh mahkluk halus di wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya menjadi takluk di bawah kekuasaan Kanjeng Panembahan Senopati.

Dari perkawinannya dengan Kanjeng Ratu Kidul, Kanjeng Panembahan Senopati memiliki seorang putera yang dinamakannya Raden Ronggo. Oleh karena ia adalah anak dari dua orang yang sangat sakti, maka Raden Ronggo pun setelah besar, menjadi seorang pemuda yang tampan, dan terkenal sangat sakti. Tak ada seorang pun yang berani membantah kata-kata Raden Ronggo karena kesaktiannya dan juga karena dia adalah putera Kanjeng Panembahan Senopati, raja Mataram.

Makin lama Raden Ronggo menjadi makin sombong, bahkan mulai bertindak sewenang-wenang pada penduduk Mataram. Setiap kemauannya harus tersampaikan. Apabila ada orang yang berusaha membantah atau menghalangi niatnya, dilawannya dengan kekuatan atau kesaktiannya, juga dengan wewenangnya sebagai putera raja. Tidak segan-segan Raden Ronggo menindas, menyiksa, bahkan membunuh siapa saja yang berani menentang atau merintangi maksudnya. Rakyat Mataram pun menjadi resah.

Berita mengenai sikap semena-mena anaknya terhadap rakyat Mataram itu, membuat Kanjeng Panembahan Senopati prihatin. Beliau menyadari kedudukannya sebagai raja, haruslah menjadi pengayom rakyat dan penjamin kesejahteraan hidup rakyat seluruh negerinya. Sangat sedih hati Kanjeng Panembahan Senopati, mengetahui kelakuan puteranya yang ternyata tercela di mata rakyatnya. Seharusnya puteranya bersikap melindungi rakyatnya, tetapi nyatanya malah bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat.

Kanjeng Panembahan Senopati adalah seorang raja yang adil dan bijaksana. Tidak kepalang tanggung baginda memberikan hadiah kepada rakyatnya yang berjasa kepada negara. Dan, tidak segan-segan pula beliau menjatuhkan hukuman kepada siapa saja yang melanggar undang-undang.

Namun kali ini ia merasa terpojok. Ternyata puteranya sendiri telah bertindak sebagai warga negara yang melanggar undang-undang. Tidak boleh tidak, ia harus menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada puteranya.

Kanjeng Panembahan Senopati menyadari bahwa puteranya sangat sakti. Tak seorang pun dari rakyat dan hambanya mampu mengimbangi kesaktian puteranya itu. Maka dari itu, Kanjeng Panembahan Senopati menentukan sikap untuk tidak akan menyerahkan puteranya kepada pengadilan, sebab tak ada seorang pun dari rakyatnya yang berani bertindak atas diri Raden Ronggo, meskipun berdasarkan putusan pengadilan.

Untuk melaksanakan hukuman atas diri puteranya, Kanjeng Panembahan Senopati lalu memanggil Kanjeng Ratu Kidul, yang bertahta di dasar Segara Kidul. Kepada Kanjeng Ratu Kidul, Kanjeng Panembahan Senopati bersabda: “Puteramu, si Ronggo, ternyata mencemarkan kewibaan keluarga raja, dan tentu saja mencemarkan kewibawaanku sebagai raja. Kalau dia tidak segera disingkirkan, aku khawatir rakyatku makin cemas. Maka dari itu, ambillah dia. Bawalah pulang ke keratonmu.”

“Baiklah kakangmas”, jawab Kanjeng Ratu Kidul.

“Terserah bagaimana caramu menyingkirkan dia dari lingkungan kerajaan Mataram”, sabda baginda.

Setelah mendapat perintah dari Kanjeng Panembahan Senopati, maka Kanjeng Ratu Kidul pun lalu mencari akal untuk mengambil puteranya dari daratan Mataram. Untuk itu, Kanjeng Ratu Kidul mengutus seekor naga yang bertempat tinggal di dasar laut pantai selatan menjemput Raden Ronggo. Namun, naga itu diperintahkan terlebih dahulu untuk memporak-porandakan wilayah perkampungan penduduk yang ada di tepi pantai agar Raden Ronggo terpancing dan berusaha membunuh si naga.

Setelah naga itu naik ke darat, kemudian ia langsung mengganas di wilayah perkampungan penduduk. Naga itu mengganggu ketenteraman penduduk. Ternak-ternak penduduk menjadi mangsa si naga. Orang-orang yang tinggal di sekitar pantai berusaha untuk membunuhnya. Namun hal itu ternyata sia-sia, sebab naga itu sangat sakti. Tak ada seorang pun yang mampu membunuhnya. Makin lama rakyat menjadi makin tintrim (resah, cemas, gelisah, takut). Ulah si naga semakin mengganas. Jumlah ternak yang musnah akibat menjadi mangsa naga itu, makin hari makin bertambah. Penduduk khawatir, jangan-jangan naga itu akhirnya akan memangsa mereka bila jumlah ternak sudah makin menipis.

Warga sekitar pantai kemudian bermusyawarah mencari untuk cara agar si naga dapat segera dimusnahkan. Dalam musyawarah itu, salah seorang diantaranya berkata: “Kalau Raden Ronggo mau bertindak, tentu mampu membunuh naga itu.”

“Ya, ia adalah orang sakti”, sambung yang lain.

“Kalau dia mau, naga itu tentu dapat dibunuhnya,” kata yang lainnya lagi.

“Kalau begitu, sebaiknya kita menghadap padanya”, yang lain mengusulkan.

“Setuju”, lainnya lagi menguatkan. “Kita perlu menghadap Kanjeng Panembahan Senopati, memohon kesediaannya untuk menitahkan Raden Ronggo turun tangan membunuh naga itu.”

Begitulah, Raden Ronggo yang semula dibenci oleh rakyat karena sikapnya yang menindas rakyat dan senantiasa menyiksa rakyat, akhirnya diangkat sebagai pahlawan. Kepada Raden Ronggo, segenap rakyat menumpukan seluruh harapan, untuk membebaskan mereka dari ancaman bencana yang mungkin ditimbulkan oleh naga itu.

Setelah Kanjeng Panembahan Senopati mendengarkan permintaan rakyatnya, yang menggantungkan harapannya kepada Raden Ronggo untuk menolong mereka, maka baginda pun lalu memanggil Raden Ronggo untuk menghadap.

“Ronggo, anakku”, kata baginda kepada puteranya setelah Raden Ronggo duduk bersimpuh di hadapannya. “Kau tahu rakyat kita sekarang dalam keadaan cemas karena adanya naga yang mengganggu ketenteraman.”

“Ya, ayahanda”, jawab Raden Ronggo seraya menyembah dengan hormat.

“Dan kau pun tahu, bahwa tak seorang pun dari rakyat kita yang berani menghadapi naga itu,” kata baginda lagi.

“Ya, ayahanda.”

“Sekarang, bagaimanakah sikapmu?”

“Maksud ayahanda?”

“Apakah engkau sampai hati hanya berdiam diri saja, membiarkan rakyat cemas mengkhawatirkan keselamatan hidupnya?”

Raden Ronggo termenung, kepalanya makin merunduk mendengar sabda baginda yang bernada sedih itu.

Selanjutnya bagianda raja berkata lagi: “Kau harus bertindak, anakku.”

“Jadi maksud ayahanda, hamba harus membunuh naga itu?” sembah Raden Ronggo.

“Ya,” kata baginda dengan tegas. “Kau harus turun tangan. Rakyat tahu, bahwa kau memiliki kemampuan luar biasa. Dan rakyat yakin, bahwa hanya kaulah yang mampu membunuh naga itu.”

Raden Ronggo merenung sejenak, lalu sembahnya: “Kalau ayahanda memerintahkan, hamba pun akan melaksanakannya.”

“Bagus!” kata baginda. “Kalau kau mau bertindak membunuh naga itu, berarti tidak sia-sialah harapan rakyat yang ditumpukan ke pundakmu.”

“Atas perintah baginda, hamba akan bertindak”, sembah Raden Ronggo.

“Bagus”, kata baginda. “Demi keselamatan jiwa rakyat dan ketenteraman negara, aku memerintahkan kau membunuh naga itu.”

Setelah memohon restu dari baginda raja untuk menunaikan tugas berat itu, Raden Ronggo lalu mundur dari hadapan ayahandanya dan berangkat menghadapi naga yang mencemaskan hati rakyat itu.

Setelah mengetahui bahwa Raden Ronggo bersedia turun tangan akan membunuh naga itu, maka segenap rakyat lalu bersorak-sorak: “Hidup Raden Ronggo, hidup Raden Ronggo.”

Begitu keluar dari istana, dengan tenangnya Raden Ronggo berjalan, dan orang banyak berduyun-duyun berjalan di belakangnya. Kepada Raden Ronggo, orang banyak itu menunjukkan lokasi naga itu berada, yaitu di suatu goa dekat pemukiman mereka. Sesampai di depan pintu goa, orang banyak yang mengiringi perjalanan Raden Ronggo itu pun berhenti, sedang Raden Ronggo meneruskan masuk ke dalam goa.

Tidak lama setelah Raden Ronggo masuk ke dalam goa, terdengarlah suara dahsyat dari dalam goa. Terjadilah pertempuran hebat antara Raden Ronggo dengan naga yang ganas itu. Kedua-duanya memiliki kesaktian yang luar biasa. Suara gelegar bagai guruh dan guntur yang menyambar-nyambar terdengar dari dalam goa itu. Tiap gelegar suara diiringi oleh goncangan bumi bagai gempa.

Pada akhirnya suara menggelegar dan goncangan bumi bagai gempa itu pun berhenti. Itu menandakan bahwa pertempuran telah berakhir. Dan, ternyata baik Raden Ronggo maupun sang naga, kedua-duanya mati. Selesainya pertempuran dahsyat yang diakhiri dengan kematian kedua belah pihak itu, alam menyambutnya dengan curahan hujan yang sangat lebat. Segenap rakyat berterima kasih terhadap jasa Raden Ronggo, yang telah mengorbankan dirinya demi kelangsungan hidup rakyat.

Goa tempat berlangsungnya pertempuran antara Raden Ronggo dengan naga yang ganas itu, sampai sekarang masih ada dan dikenal dengan nama Goa Nagabumi.

 

 

 

Referensi:

  1. Indotim (https://indotim.wordpress.com/cerita-rakyat-nusantara-2/cerita-rakyat-nusantara-viii/7/)

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu