Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
situs purbakala Sulawesi Selatan Bulukumba
GUA PASSEA
- 19 April 2016

GUA PASSEA, SITUS PURBAKALA BULUKUMBA

*****

Siapa yang menyangka, jauh di selatan kota Makassar kita akan temukan peninggalan kebudayaan yang telah terlupakan dan keberadaannya terancam musnah. Kekayaan masyarakat bulukumba masa lampau ini merupakan warisan yang mereka turunkan untuk kita jaga bersama dari ancaman-ancaman pencurian dan upaya pengerusakan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Situs purbakala Gua Passea ini terletak di Desa Lembanna kecamatan Bonto Bahari sekitar 150 km dari kota makassar. Gua yang terletak di tengah kebun warga yang ditumbuhi semak belukar ini tersembunyi dari mereka yang baru pertama kali akan ke lokasi, satu petunjuk besar akan letak gua ini adalah pohon besar yang tumbuh menjulang tinggi ke langit dan pada batangnya mulut gua berada.

Gua Passea dalam bahasa lokal yang memiliki arti “Penderitaan” ini merupakan Gua yang memiliki nilai sejarah yang sangat panjang bagi warga desa Ara. Menurut budayawan Drs.Muhannis yang lahir di Desa letak Gua tersebut mengatakan jika Gua Passea telah dihuni sejak abad 4 atau 8 abad SM.

Gua yang memiliki panjang 59 meter ini bertipe gua horisotal dengan lantai gua yang cukup rata dengan stalagtit dan stalagmit yang masih terus bertumbuh, tapi disayangkan karena tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan kurangnya perhatian sehingga banyak stalagtit dan stalagmit yang rusak parah. Jika berpacuh pada pertumbuhan rata-rata stalagtit 0,13 mm setiap tahunnya maka bisa dipastikan keberadaan gua tersebut sudah ada sejak ratusan ribuh tahun yang lalu dengan adanya stalagtit dan stalagmit yang telah menyatu dan membentuk pilar gua yang cukup tinggi dan besar.

Di dalam gua passea terdapat tiga buah peti mati yang terbuat dari kayu dengan panjang peti mati sekitar 2 meter dan lebar sekitar 0,5 meter dan tergeletak begitu saja di lantai gua dengan kerangka manusia yang sudah cerai berai, sebelumnya Peti mati tersebut jumlahnya puluhan dan tergantung di langit-langit gua, namun gua Passea tidak luput dari pengerusakan banyak situs-situs di sulawesi oleh gerombolan DI/TII pada tahun 1960-an. Selain itu, peti mati ini jumlahnya tersisa tiga buah karena orang-orang yang tidak bertanggung jawab menjualnya kepada kolektor benda-benda prasejarah, dari salah satu situs mengatakan jika peti mati ini di jual kepada warga asing yang berkunjung ke Bulukumba. Selain itu kita akan menemukan pecahan gerabah dan penggalian yang tersebar hampir di setiap sudut gua.

Salah satu hal yang sangat menarik dari gua passea adalah adanya benang merah peradaban ribuan tahun yang telah hilang dan terlupakan di selatan Makassar ini dengan yang ada di Toraja yang tidak akan kita temukan di Kabupaten lain yang ada di Sulawesi. Yang mana menurut analisa awam penulis terdapat kesamaan yang signifikan antara tata cara pemakaman jenasah dan bentuk peti mati yang ada di Toraja. Hal ini menandakan jikalau kebudayaan yang ada di Bulukumba dan Toraja dulunya sama dan tidak menutup kemungkinan antara Kabupaten Bulukumba dengan Kabupaten Toraja dulunya sama dan tidak menutup kemungkinan masih terdapat gua yang serupa yang mungkin belum ditemukan atau disembunyikan oleh warga setempat dikarenakan sifat masyarakat Sulawesi selatan yang biasanya menyembunyikan sesuatu hal yang mereka sakralkan.

Tidak jauh dari Gua passea masih terdapat Liang Sabboa yang memiliki masa yang lebih jauh lagi dari Gua passea, yang mana menurut Drs.Muhannis jika Gua ini telah dilakukan penelitian sejak jaman Belanda yang mana telah berusia 15.000 tahun SM.

Kedepannya, diharapkan situs Purbakala ini mendapat perhatian lebih dan penelitian yang lebih lanjut guna memperkaya catatan sejarah di Sulawesi-selatan yang saat ini masih berpusat pada satu daerah saja.

Tulisan ini hanya gambaran kepada pembaca guna memberikan informasi untuk di gali lebih dalam dan lebih lengkap.

Bulukumba, 18 April 2016

Oleh : Zulengka Tangallilia

Pecinta Sejarah dan Penggiat pendidikan Kabupaten Bulukumba yang saat ini mengumpulkan naskah kuno Lontara yang ada di Bulukumba.


 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu