Esa hilang dua terbilang. Hal yang sudah tidak asing lagi sepertinya, apabila kalian tidak pernah mendengar peribahasa ini. Berarti sikap bela negara kalian perlu dipertanyakan. Cimahi adalah kota yang penuh dengan budaya danadat istiadatnya. Jangan kaget dengan warna hijau yang mendominasi dinding dinding kasarbagunan elok dan kokoh. Bukan artinya cinta hijau,tapi karena lekatnya citra tentara di cimahi. Para pengabdi bangsa dan pelindung NKRI , TNI , mempunyai banyak keunikan dan budaya untuk terus maju melawan sekutu daripada hidup tanpa jasa. Budaya ini sangat melekat dan ternyata mempengaruhi dan mengajarkan masyarakat tentang arti perjuangan dan persatuan. Esa hilang dua terbilang, mati satu tumbuh seribu. Peribahasa yang digunakan TNI divisi siliwangi ( kodam III ). Patah tumbuh yang hilang berganti. Apabila musuh mematikan satu maka akan tumbuh dua. Hal ini telah menjadi sejarah sekaligus budaya pemberi semangat melawan ketakutan untuk melawan sekutu kita , penjajah kita. Walaupun terdengar sederhana, tapi hal ini memiliki arti yang sangat besar dan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia. Esa yang artinya satu dan hilang yang artinya tiada , mundur memang hal yang dominan negative, tetapi betapa hebatnya rasa optimis para pendahulu kita mengubah hal itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Dengan menambahkan dua terbilang, dua dan terbilang yang artinya satu hilang akan tumbuh dua. Artinya keputus asaan ketika kita kalah merupakan hal yang sia sia karena hal yang lebih baik akan datang apabila kita terus berjuang dan bekerja sama. Hal ini telah menjadi budaya sejak lama. Kita bisa melihat cetakan tebal kata kata itu di depan atau di tengah bangunan tentara dengan jelas. Saya rasa hal itu adalah hal yang perlu diajarkan pada anak anak penerus bangsa dan menjadi budaya serta rasa yang mengakar pada masyarakat kita saat ini dan seterusnya. Di samping telah pudarnya rasa peduli dan rasa perjuangannya bagi negara sendiri.
Istilah "Sayang Anak 5k" merujuk pada sebuah fenomena sosial dan hiburan rakyat yang sangat lekat dengan suasana pasar tradisional, pasar malam, maupun ruang publik lainnya. Kalimat "sayang anak, sayang anak..." merupakan jargon khas dan ikonik yang biasa diserukan dengan lantang oleh abang-abang penyedia wahana permainan odong-odong. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian para orang tua yang sedang melintas atau berbelanja agar bersedia menyenangkan buah hati mereka.Seruan ini bermakna rayuan hangat agar orang tua rela menyisihkan uang senilai Rp5.000 (5k) sebagai tiket masuk. Dengan biaya yang sangat terjangkau tersebut, anak-anak sudah bisa merasakan kebahagiaan luar biasa menaiki wahana odong-odong yang biasanya dihiasi lampu warna-warni dan diiringi alunan lagu-lagu anak ceria. Praktik ini tidak hanya sekadar transaksi ekonomi kecil-kecilan, melainkan telah menjadi sebuah tradisi atau "ritual" hiburan murah meriah yang menghadirkan senyum dan tawa...
Dodol Kinca merupakan kuliner tradisional khas Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang dikenal dengan cita rasa manis legit serta teksturnya yang khas. Berbeda dari dodol pada umumnya, dodol ini dibuat dari campuran buah kinca (kawista) dan gula, dengan tambahan sedikit tepung tapioka sebagai pengikat, yang dimasak hingga mengental. Buah kinca sendiri adalah sebutan lokal untuk buah kawista, yang memiliki perpaduan rasa manis dan asam dengan aroma yang khas. Selain varian manis, Dodol Kinca juga memiliki variasi rasa pedas yang memberikan sensasi unik. Hidangan ini tidak hanya menjadi sajian khas, tetapi juga mencerminkan identitas kuliner serta tradisi masyarakat Bima dan Dompu.
Rimpu merupakan tradisi busana khas perempuan suku Mbojo di Bima, Nusa Tenggara Barat, yang dikenakan dengan menggunakan dua lembar kain sarung untuk menutup kepala hingga seluruh tubuh. Lebih dari sekadar pakaian, Rimpu merepresentasikan nilai kesopanan, identitas budaya, serta ketaatan terhadap ajaran Islam. Tradisi ini memiliki beberapa bentuk, di antaranya rimpu mpida yang dikenakan oleh perempuan belum menikah dengan menutup seluruh wajah kecuali mata, serta rimpu colo yang digunakan oleh perempuan yang telah menikah dengan memperlihatkan wajah. sumber gambar: https://etnis.id/menjaga-spirit-budaya-rimpu-di-tanah-rantau/
Beberuk Terong atau yang biasa disebut dengan Rusu/Lasuk oleh masyarakat Lombok adalah makanan khas Lombok yang terbuat dari terong bulat mentah yang dipotong kecil-kecil dan dicampur sambal tomat yang pedas, cukup mirip dengan sambal pelecing. Beberuk Terong biasanya disajikan sebagai pelengkap untuk makanan utama seperti ayam taliwang, sate rembiga, atau ikan bakar. Membuat Beberuk Terong ini sangat mudah dan hanya menggunakan bahan-bahan sederhana yang sering kita gunakan di dapur. Berikut bahan-bahan dan cara pembuatan Beberuk Terong: Bahan Terong bulat hijau/ungu Kacang panjang (opsional) Cabai rawit Bawang merah Tomat Terasi Jeruk Limau Garam Sedikit minyak goreng Cara Pembuatan Potong kecil-kecil terong bulat, bisa dipotong dadu atau diiris Potong kecil-kecil kacang panjang, jika menggunakan kacang panjang Untuk sambalnya, uleg kasar cabai rawit dan juga terasi Masukkan irisan bawang merah dan tomat, uleg kasar Tambahkan garam dan aduk ra...
SEJARAH SINGKAT Songket Palembang memiliki akar sejarah yang panjang, berawal dari masa Kerajaan Sriwijaya. Menurut buku Seni Kriya Nusantara karya Deni Setiawan, songket sudah dikenal sejak masa kejayaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi, ketika Palembang menjadi pusat perdagangan internasional di tepi Sungai Musi. Banyak peninggalan budaya berupa wastra (kain tradisional) ditemukan. Salah satunya adalah kain songket yang menjadi bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya sebagai penguasa jalur perdagangan di Selat Malaka. Hubungan dagang dengan India, China, dan Arab membawa pengaruh besar terhadap teknik dan motif songket. Dari China datang benang sutra, dari India benang emas dan perak. Perpaduan inilah lahir kain songket Palembang yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Melayu-Sumatera. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, songket digunakan sebagai simbol kebesaran dan status sosial. Para bangsawan dan keluarga kerajaan mengenakannya dalam upacara resmi. Beberapa mo...