Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Budaya perjuangan Jawa Barat Cimahi
Esa Hilang Dua Terbilang
- 11 Agustus 2018

Esa hilang dua terbilang. Hal yang sudah tidak asing lagi sepertinya, apabila kalian tidak pernah mendengar peribahasa ini. Berarti sikap bela negara kalian perlu dipertanyakan. Cimahi adalah kota yang penuh dengan budaya danadat istiadatnya. Jangan kaget dengan warna hijau yang mendominasi dinding dinding kasarbagunan elok dan kokoh. Bukan artinya cinta hijau,tapi karena lekatnya citra tentara di cimahi. Para pengabdi bangsa dan pelindung NKRI , TNI , mempunyai banyak keunikan dan budaya untuk terus maju melawan sekutu daripada hidup tanpa jasa. Budaya ini sangat melekat dan ternyata mempengaruhi dan mengajarkan masyarakat tentang arti perjuangan dan persatuan. Esa hilang dua terbilang, mati satu tumbuh seribu. Peribahasa yang digunakan TNI divisi siliwangi ( kodam III ). Patah tumbuh yang hilang berganti. Apabila musuh mematikan satu maka akan tumbuh dua. Hal ini telah menjadi sejarah sekaligus budaya pemberi semangat melawan ketakutan untuk melawan sekutu kita , penjajah kita. Walaupun terdengar sederhana, tapi hal ini memiliki arti yang sangat besar dan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia. Esa yang artinya satu dan hilang yang artinya tiada , mundur memang hal yang dominan negative, tetapi betapa hebatnya rasa optimis para pendahulu kita mengubah hal itu menjadi sesuatu yang luar biasa. Dengan menambahkan dua terbilang, dua dan terbilang yang artinya satu hilang akan tumbuh dua. Artinya keputus asaan ketika kita kalah merupakan hal yang sia sia karena hal yang lebih baik akan datang apabila kita terus berjuang dan bekerja sama. Hal ini telah menjadi budaya sejak lama. Kita bisa melihat cetakan tebal kata kata itu di depan atau di tengah bangunan tentara dengan jelas. Saya rasa hal itu adalah hal yang perlu diajarkan pada anak anak penerus bangsa dan menjadi budaya serta rasa yang mengakar pada masyarakat kita saat ini dan seterusnya. Di samping telah pudarnya rasa peduli dan rasa perjuangannya bagi negara sendiri.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker