Tarian
Tarian
Tarian Bali Batuan
Dramatari Gambuh
- 22 Juli 2010 - direvisi ke 2 oleh Budaya Indonesia pada 12 Agustus 2012

Nama Lain
Gambuh

Penanggungjawab Karya Budaya
Sekeha Gambuh Pura Desa Batuan

Alamat Penanggungjawab Karya Budaya
Desa Batuan, Sukawati, Gianyar, Bali

Pada umumnya fungsi Gambuh adalah sebagai Tari Bebali (seremonial), yaitu sebagai pengiring upacara di pura-pura. Dramatari Gambuh sebagai tari lakon klasik tertua dalam khazanah tari Bali adalah merupakan bentuk total teater yang memiliki unsur seni, drama, music, dialog dan tembang. Dramatari gambuh masih memakai nama-nama tokoh penarinya diambil dari nama-nama kaum bangsawan kerajaan di Jawa Timur pada abad ke 12-14. Nama-nama itu diantaranya Demang Sampi Gontak, Tumenggung Macan Angelur, Rangga Toh Jiwa, Arya Kebo Angun-angun, Punta Tan Mundur, dan lain-lainya.

Dramatari Gambuh mengambil tema dari cerita Panji yaitu sebuah hikayat yang menceritakan kehidupan, peperangan, roman dari raja-raja Jenggala, Kediri, Gegelang, dan sebagainya. Di Bali cerita ini disebut Malat. Pada Dewasa ini masih ada beberapa Sekeha Gambuh yang masih aktif seperti di Pedungan (Kodya Denpasar), Batuan (Gianyar). Dramatari Gambuh adalah tari dasar hampir seluruh tari-tarian yang ada di Bali. Dramatari Gambuh sangat erat hubungannya dengan pelaksanaan upacara-upacara besar terutama tingkatan upacara "mapeselang". Tarioan Gambuh ditarikan pada waktu Ida Bhatara turun ke paselang.

Pada waktu piodalan di pura yang merupakan piodalan ageng, pelaksanaan upacara dimulai oleh Ida Pedanda dengan memuja caru yang merupakan penyupatan. Kala Rudra dengan wajah yang menyeramkan akan disucikan sehingga menjadi "somya" atau tenang, dan distanakan di Sanggar Tawang. Pada saat inilah beliau berwujud Ida Sang Hyang Widhi, setelah dipersembahkan sesajen (katuran ayaban) lalu dipuja oleh umat dan tedun ke paselang. Drama Tari Gambuh mengambil lakon Panji. Barulah dalam perkembangannya,Gambuh mebawakan lakon lain seperti Amad Muhamad, Rengganis, Megantaka, Lawe, Undakan Pangrus, Pakang Raras, Ni Diah Tantri (C.J. Grader, 1932:2-3 dalam Rota, 1982: 9). Adapun tema pokok cerita-cerita Panji (termasuk Malat) adalah kisah percintaan.

Kata malat diambil dari nama tokoh utama cerita itu yaitu Panji Amalat Rasmi. Tokoh-tokoh penting dalam pertunjukan Gambuh adalah Condong, Kakan-kakan, Putri, Kade-kadean atau Kadeyan-kadeyan, Demang, Tumenggung, Prabu, Panji, Prabangsa, Potet, Penasar, Patih Tua. Instrumen musik Gambuh terdiri dari Rebab (satu buah), Suling berukuran besar (dua atau tiga buah), Kendang (sepasang), Kajar, (satu buah), Klenang (satu buah), Ricik atau cengceng kecil (satu buah), Kenyir (satu tungguh), Gentorang atau ogar (satu atau dua buah), gumanak (dua buah), Kangsi (sebuah). Di antara alat-alat music di atas, gumanak dan kangsi sekarang sudah semakin jarang dipergunakan ( I Wayan Dibia, 1978-1979 : 13 dalam Rota, 1982: 13)

Dengan aturan pepeson dalam pertunjukan dramatari Gambuh diatur sesuai dengan kedudukan/kepangkatan tokoh-tokoh yang ada. Adapun salah satu aturan pepeson yang ada adalah adegan Putri, adegan Panji, adegan Prabu Alus, Adegan Prabu Keras, Adegan Prabangsa. Aturan ini mungkin saja mengalami perubahan kecil sesuai dengan lakon yang dibawakan tetapi tidak akan jauh berbeda dari aturan pepeson yang pokok ini.

Sejarah Singkat Karya budaya
Menurut I Ketut Rinda dan dr. R. Moerdowo, bahwa gambuh telah ada di bali pada tahun 929 Saka atau tahun 1007 masehi. Dikatakannya bahwa sejarah tentang gambuh terdapat dalam lontar Candrasengkala dimana disebutkan gambuh telah ada di Bali pada permulaan abad ke-11 tepatnya pada tahun 1007 masehi, pada masa pemerintahan Sri Udayana beserta permaisurinya Sri Gunapriya Dharmapatni di Bali, (I Ketut Rinda dan dr. Moerdowo, 1973 dalam Ketut Rota,1982:2). Pendapat ini diperkuat dengan pendapat Sudarsono yang juga mengatakan bahwa ia sendiri tidak dapat menetapkan dengan pasti abad keberapa gambuh lahir di Bali. Jika hanya berpegang kepada lontar Candrasengkala, dapat dikatakan gambuh sudah ada pada permulaan abad ke -11 (Sudarsono, 1972 dalam Ketut Rota,1982:3)

Sedangkan I Made Bandem dalam bukunya Ensiklopedi Tari Bali mengatakan bahwa gambuh merupakan dramatari tertua di Bali yang berunsur total teater dan diduga muncul sekitar abad ke-14. Dalam tulisan lain I Made Bandem dan Fradrik Eugene de Boer mengatakan bahwa "One of the types of courtly dance-drama mentioned in the old records still exists in Bali today, preserved by a continuous performing tradition that extends back for 400 years. This is Gambuh, a bebali dance of the second temple courtyard, which is performed without masks" (I Made Bandem,& Fredrik Eugene de Boer, 1978-1979, dalam Ketut Rota,1982:5)

Mula pertama adanya Dramatari Gambuh di Bali terkait dengan Sastra Malat yaitu sebuah karya karya sastra berbentuk kidung berbahasa Jawa Tengahan. Ide penciptaan Dramatari Gambuh di Bali bersumber pada karya sastra Panji/Malat ini. Besar kemungkinan sasatra malat masuk ke Bali sekitar abad ke- 16, dramatari Gambuh pun kemungkinan besar pertama ada di Bali pada abad ke-16 atau setelah itu. Kemudian dalam sastra Panji/Malat yang masuk ke Bali sudah disebut-sebut adanya Gambuh atau lahir dari hasil membaca dan mendengar cerita-cerita Panji. Demikian pula kalau diperhatikan gambelan Gambuh yang juga ada kaitannnya dengan dramatari gambuh, ternyata gambelan gambuh termasuk golongan gambelan madya yang lebih muda dari gambang, saron, selonding kayu, gong besi, gong luang, selonding besi, angklung klentangan, dan gender wayang. Tetapi Gambelan dramatari Gambuh lebih tua dari gambelan Arja, gong kebyar, gambelan jangger, angkung bilah 7, gambelan joged bumbung, gong suling (I Made Bandem, 1975:42 dalam Rota, 1982: 25).

Referensi

  1. Bandem, I Made. 1975. Panitithalaning Pengambuhan, Proyek Pencatatan/Penerbitan Naskah-Naskah Seni Budaya dan Pembelian Benda-Benda Seni Budaya.
  2. I Made Bandem dan Fradrik Eugene de Boer. 1981. Kaja and Kelod, Balinese Dance in Transition.
  3. Kuala Lumpur Oxford University Press, Oxford New York Melbourne, halaman 29-30 C.J. Grader, 1932.
  4. Gambuh.
  5. Gedong Kertya, Singaraja, Koleksi No. 1224, 2-10-1939. Dibia, I Wayan. 1978/1979.
  6. Dramatari Gambuh dan Tari-tarian yang hampir punah di beberapa daerah di Bali.
  7. Proyek Pusat Pengembangan Kebudayaan Bali. Rota, Ketut. 1982.
  8. Persoalan Mula Pertama Adanya Gambuh di Bali.
  9. Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar.

Nama Orang yang Melaporkan Karya budaya
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB, NTT

Alamat
Jl. Raya Dalung-Abianbase No. 107 Dalung Kuta Utara 80361

Tanggal
13 Juni 2010

Sumber kontributor
Hari Waluyo

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu