DESKRIPSI TAMIANG BALI
ARTI DAN MAKNA TAMIANG BALI
Tamiang berasal dari kata “Tameng” yang memiliki arti alat penangkis senjata. Dalam kaitan dengan hal ini tamiang merupakan simbol penangkis dari serangan atau sebagai alat perlindungan. Tamiang terbuat dari janur yang berbentuk bulat dan memiliki diameter berbeda-beda serta memiliki hiasan yang berbeda-beda. Dalam konteks perang batin, perang dalam kehidupan berwujud perang fisik di bhuwana agung (alam makrokosmos) maupun perang batin di bhuwana alit (alamt mikrokosmos). Justru, perang batin yang berkecamuk dalam hati itulah perang terbesar kita, terhebat dan terdahsyat. Inilah perang yang tidak pernah berhenti dan bahkan lebih sering menghadirkan kekalahan bagi umat manusia. Maka dari itu manusia sudah seharusnya membentengi diri dengan tamiang (tameng) yang tiada lain berupa pengendalian diri (indria).
Tamiang dalam konteks menjaga keamanan Bali, masyarakat hendaknya memiliki kebertahanan diri. Kebertahanan itu meliputi peningkatan kewaspadaan dan strategi menjaga keamanan. Dalam kaitan itu semua pihak memiliki tanggung jawab yang sama. Masyarakat hendaknya merasa terpanggil untuk memelihara Bali yang selama ini telah memberikan banyak hal bagi kehidupan. Dalam menciptakan rasa aman, umat di Bali menggunakan dua pendekatan baik sekala maupun niskala. Sekala-nya, masyarakat berupaya menciptakan rasa aman di lingkungan masing-masing. Menciptakan rasa aman mesti dimulai dari pribadi sendiri. Dengan berbekalkan kesadaran dari dalam diri, niscaya keamanan bisa tercipta.
Selain itu tamiang juga memiliki makna sebagai lambang Dewata Nawa Sanga, karena menunjukan sembilan arah mata angin. Dewata Nawa sanga adalah sembilan dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjaga atau menguasai sembilan penjuru mata angin. Sembilan dewa itu adalah Dewa Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, dan Siwa. Tamiang juga melambangkan perputaran roda alam cakraning panggilingan. Lambang itu mengingatkan manusia pada hukum alam Jika masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau tidak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh roda alam. Dalam hari raya Kuningan biasanya tamiang dipasang di pojok rumah dan di pelinggih yang ada dirumah.
Tamiang juga memiliki tetuasan atau reringgitan yang berfungsi sebagai lambang banten, bahasa agama dalam bentuk symbol dalam kesungguhan pikiran untuk melakukan Yadnya. Reringgitan ini juga berfungsi sebagai pelestarian nilai luhur budaya bangsa, lambang diri kita sebagai (manusia), lambang Kemahakuasaan Tuhan, dan lambang dari alam semesta ini. Selain itu juga tetuwasan atau reringgitan merupakan bentuk dari ajaran yoga. Hal itu disebabkan karena saat kita membuat tetuwasan/reringgitan perlu konsentrasi untuk membuatnya, pemusatan pikiran agar dapat mewujudkan tetuwasan yang indah dan seni sebagai persembahan kehadapan ida sang hyang widhi. Maka dari itu kita dapat menganalogikan tetuwasan/reringgitan itu sebagai yoga karena saat kita membuatnya perlu pemusatan pikiran yang tenang dan konsentrasi yang tinggi
Dalam deskripsi tamiang ini akan menjelaskan 2 jenis tamiang yakni tamiang hias dan tamiang khusus untuk upacara.
TAMIANG HIAS
Tamiang hias memiliki fungsi utama untuk hiasan dalam sebuah acara semisal acara pernikahan. Tamiang hias tidak berisi porosan dan dapat dikreasikan sesuai keinginan dari si pembuat. Dalam gambar di bawah ini terlihat beberapa elemen dalam tamiang hias tersebut. Adapun elemen itu ialah :
TAMIANG UPACARA
Tamiang upacara memiliki fungsi utama untuk dipergunakan dalam upacara keagamaan semisal pada hari raya kuningan. Untuk hiasan dalam tamiang upacara tidaklah harus, boleh tanpa hiasan dan boleh juga menggunakan hiasan. Dalam gambar dibawah ini terdapat beberapa elemen yang ada di tamiang hias. Adapun elemen tersebut ialah :
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara