Cwie mie merupakan kuliner khas Malang yang mirip dengan mie ayam. Namun kuliner ini tentu berbeda dengan mie ayam yang biasa ditemui. yang membuatnya unik biasanya Cwie Mie disajikan dengan krupuk yang menjadi mangkuk, tapi ada juga yang tanpa krupuk mangkuk. Sedangkan pangsit tidak pernah disajikan dengan krupuk mangkuk, hanya dengan krupuk pangsit kecil biasa.
Selain itu, bila Cwie Mie lebih bening dan asin, Mie Ayam bumbunya berwarna coklat dan manis. Di Cwie Mie, ayamnya lebih kecil dan halus seperti Mie Pangsit, sedangkan Mie Ayam dengan ayam yang dipotong kecil namun tak sehalus Cwie Mie.
Selada dan taburan bawang goreng yang ada di Cwie Mie khas Malang ini akan semakin sedap dan berbeda dari makanan dari olahan mie lainnya. Cwie Mie juga dijual dengan berbagai varian topping, tak hanya ayam saja, ada di beberapa kedai yang mejual dengan tambahan seafood lainnya seperti udang atau dengan tambahan pentol dan siomay juga sedap.
Adapun resep membuat kuliner ini adalah sebagai berikut :
bahan-bahan/bumbu-bumbu:
7 gulung mi ayam basah
5 siung bawang putih, dicincang halus
3 cm jahe, dicincang halus
300 gram ayam cincang
1 sendok teh kecap asin
1 sendok teh garam
1/4 sendok teh merica bubuk
1/4 sendok teh gula pasir
1 sendok makan minyak untuk menumis
bahan kuah:
2.000 ml kaldu ayam
3 siung bawang putih, dicincang halus
1 cm jahe, diparut
2 1/2 sendok teh garam
1/2 sendok teh merica bubuk
1/2 sendok teh gula pasir
1 sendok makan minyak untuk menumis
bumbu di mangkuk:
7 sendok teh kecap ikan
1 sendok teh merica bubuk
7 sendok teh minyak ayam
bahan pelengkap:
7 lembar daun selada keriting
2 batang daun bawang iris tipis
2 sendok makan bawang merah goreng
7 lembar kulit pangsit, digoreng
Cara membuat:
Selain di kota Malang, kuliner ini juga bisa dinikmati di berbagai daerah seperti di Jakarta yaitu tepatnya di restoran cwie mie Malang yang berada di Jl. TB. Simatupang Raya No. 2, RT.3/RW.1, Cilandak Bar., Cilandak, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12430, Indonesia dan masih banyak lagi restoran di Jakarta yang menyediakan menu ini.
Sumber : http://ngalam.co/2016/09/16/beda-cwie-mie-khas-malang-dengan-mie-ayam/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara