Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Sumatera Utara Karo
Cincin Pinta-pinta
- 30 Oktober 2011
Konon menurut cerita jaman dahulu, di tanah Karo terdapat sebuah kampung yang bernama Juma Raja. Pengulu Juma Raja tersebut sangat terkenal hobby dan lihai dalam permainan judi. Karena kelihaiannya berjudi, ia telah mengumpulkan banyak sekali harta. Meskipun telah mempunyai banyak harta, namun ada yang membuat hatinya galau, karena belum memiliki anak. Namun Dibata jugalah yang berkehendak. Suatu malam, bermimpilah Dat Muli, istri Pengulu Juma Raja, bahwa tidak lama akan lahir seorang anak ke tengah keluarga mereka. Dengan sangat gembira ia menyampaikan mimpinya itu kepada suaminya. Benar, tidak lama kemudian istrinya hamil, dan setelah sampai harinya lahirlah seorang anak perempuan yang sangat cantik seperti ibunya yang bernama Bunga Ncole. Sempurnalah kebahagian keluarga ini disamping harta melimpah ruah, seorang anak juga telah hadir di tengah keluarga tersebut.Kehadiran Bunga Ncole di tengah keluarga ini tidak membuat kesenangan pengulu bermain judi menjadi surut. Malah ia setiap hari pergi ke tempat perjudian. Dalam permainan judi ini pun tidak seperti dulu lagi. Ia sering kalah, dan perangainya pun menjadi berubah. Bunga Ncole yang semakin hari semakin tumbuh dewasa pun terkadang menjadi tumpuan amarahnya. Seolah-olah dengan kehadiran anak tersebut ke tengah keluarga ini membawa sial baginya, karena setelah ia lahir selalu saja kalah judi.

Karena sering kalah main judi, akhirnya keluarga ini dililit utang yang banyak, sehingga harta mereka terkuras habis dan akhirnya merekapun memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Telah jauh mereka berjalan. Banyak kampung yang telah mereka lalui. Akhirnya sampailah mereka di Huta Rimbun Raya. Hutan yang sangat angker dan jarang ada manusia yang berani ke sana. Oleh pengulu Juma Raja dibangunlah tempat berteduh mereka dari dahan kayu dan dedaunan. Ditengah hutan tersebut mereka makan dari dedaunan dan dari umbi-umbian. Suatu malam, Pengulu Juma Raja berkehendak meninggal anak dan istrinya di tengah hutan Rimbun Raya tersebut. Ia tak sampai hati melihat penderitaan anak dan istrinya. Terlebih anak perempuannya yang cantik yang selalu menangis. Meskipun dengan perasaan berat, akhirnya suatu malam dia meninggalkan anak dan istrinya ketika lagi tidur. Ketika pagi tiba, burung-burung berkicau, betapa kaget si anak karena ayahnya tidak ada lagi bersama mereka. "Nande, kemana Bapa"? kata putrinya kepada ibunya. "Mungkin ia lagi mencari makanan buat kita", kata ibunya. Namun hari lepas hari, bulan lepas bulan dalam penantian, makanan yang dinantikan tidak kunjung datang juga. Betapa sedih dan luka hati ibunya karena ditinggal suaminya. Ia juga tidak sampai hati melihat penderitaan anaknya. Suatu ketika sang ibu juga ingin meninggalkan anaknya di tengah hutan, tetapi tetap saja ia tidak sanggup meninggalkan anak semata wayangnya itu. "Kuja naring pepagi percibal anakku, adi kutadingken sisada i tengah kerangen enda, terjelpa-jelpa sisada," kata ibunya dalam hati.

Suatu malam, dengan suatu keyakinan sang ibu juga akhirnya meninggalkan anaknya di hutan Rimbun Raya. Ibunya juga berharap anaknya pasti akan selamat kelak. "Maafkan ibu anakku, aku tinggalkan engkau...", kata ibunya sambul berlinang air matanya membasahi pipi anaknya yang sedang tidur lelap. Beberapa kali sang ibu mencium pipi anaknya yang merona bercampur dengan bulir-bulir air matanya. Pergilah sang ibu meninggalkan buah hatinya dengan perasaan hancur. Tidak berapa jauh, ia melihat sebuah pohon besar. Ia berkeinginan mengakhiri hidupnya disana. Ya.., bunuh diri !! Ndelis !!

Ketika anaknya banun pagi, betapa terkejutnya juga ia ketika ibunya juga tidak ada lagi disampingnya. "Oh... nande.., mengapa engkau meninggalkan aku sendirian di tengah hutan yang lebat ini.. sampai hatimu.. Nande...", kata anaknya dengan air mata bercucuran. Dia mencari ke Timur, mencari ke Utara, mencari ke Barat, mencari ke Selatan, tetapi ia tidak menemukan sang ibu yang sangat ia butuhkan. "Apa salahku Nande, hingga engkau meninggalkan aku sendirian di tengah hutan ini..", katanya meratapi nasibnya.

Tidak terasa telah bertahun lamanya ia mencari ayah dan ibunya. Suatu ketika ia bertemu dengan pohon kayu yang besar. Dibawah pohon kayu tersebut ia menemukan kain gendong sudah robek dituiup angin, dan dibawahnya terdapat tulang-belulang. Ia yakin tulang tersebut pasti tulang ibunya, karena ia juga kenal dengan kain gendong tersebut. "Oh Nande.., begini ternyata jadinya, engkau pergi meninggalkan aku. Kini aku menjadi anak yatim piatu..", katanya berbicara sendirian. Ia mengumpulkan tulang-belulang tersebut, dibungkus dan dibawanya pergi meninggalkan hutan belantara tersebut.

Karena merasa lelah dan ingin istirahat, akhirnya ia masuk ke sebuah gua yang sangat besar. Setelah masuk ke dalam, ternyat seekor ular besar telah menghadangnya dan siap memangsanya. Betape terkejutnya dia melihat ular tersebut dan spontan memanggil ibunya. "Oh ibu.. mati aku..", katanya. Dengan rasa takut dan frustasi akhirnya ia berbicara kepada ular tersebut. "Oh nini.., betapa sial nasibku, hidupku tiada berguna, ibu tiada, ayahpun tiada.. aku mohon agar engkau makan sajalah tubuhku agar tidak berapa lama aku bisa bertemu kembali dengan ayah dan ibuku..", pintanya kepada ular tersebut. Dijulurkannya tangannya ke mulut ular tersebut. Tetapi mulut ular tersebut hanya diam saja. Ketika Bunga Ncole menarik tangannya, di jari manisnya ternyata telah terpasang sebuah cincin yang begitu cantik.

"Cucuku..", kata ular tersebut. "Aku tahu engkau sangat menderita. Aku tak sampai hati memakan engkau, dan sangat berdosa aku apabila berani aku melahapmu. Lihatlah di jari manismu telah kupasang satu cin-cin yang bernama cin-cin si pinta-pinta, supaya apapun nanti yang engkau minta, supaya terkabul adanya", kata ular itu kepada dia. "Pergilah, kasihilah sesamamu manusia, janganlah sesakali berbuat yang tidak disenangi manusia, apalagi kalau tidak disenangi Tuhan.. pergilah cucuku... pergilah...", kata ular sembari meninggalkan Bunga Ncole sendirian di gua tersebut.

Telah lama Bunga Ncole ingin makan nasi dan tidak berapa lama, datanglah sekelompok pemburu yang beristihat di gua tersebut. Mereka meninggalkan beras dan lauk pauk daging hasil buruan mereka. Demikian selalu, apa yang diingini oleh Bunga ncole ada saja cara keinginannya berhasil. Suatu ketika sang pemburupun menemukan dia di dalam gua. Betapa kagetnya si pemburu di tengah hutan ada gadis cantik. Serasa tidak percaya, namun itulah kenyataannya. Akhirnya dengan komunikasi sepakatlah Bunga Ncole ikut dengan pemburu ke kampung mereka dan meninggalkan hutan tersebut. Hingga akhirnya si Bunga Ncole pun menjadi istri sang pemburu tersebut.

Pada pesta perkawinan mereka, betapa kaget anak kampung Juma Raja, karena wajah Bunga Ncole seakan tidak asing bagi mereka. Wajahnya serasa akrab bagi anak kampung. Mereka curiga, jangan-jangan dia anak Pengulu Juma Raja yang dulu kalah berjudi dan melarikan diri ke hutan, karena wajahnya sangat cantik dan mirip dengan ibunya Dat Muli. Akhirnya si Bunga Ncole pun membuka rahasia, bahwa dia sebenarnya adalah anak Pengulu Juma Raja. Bertahun-tahun mereka tinggal di hutan dan menderita. Dia juga menceritakan ayahnya telah pergi meninggalkan dia, dan ibunya pun ia temukan telah meninggal di hutan sambil memperlihatkan tulang belulangnya yang dibungkus rapi oleh Bunga Ncole. Betapa sedih dan terharu mereka mendengar cerita Bunga Ncole. Namun mereka sangat bahagia melihat Bunga Ncole bahagia disamping suaminya. Mulai saat itu segala bentuk judi dilarang di kampung itu, karena judilah membuat anak sengsara dan menderita.

Sumber : http://www.karo.or.id/cincin-pinta-pinta/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker