Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah
Cermin Ajaib - Sulawesi Tengah - Sulawesi Tengah
- 2 April 2018

Di sebuah kerajaan, ada seorang Raja yang sudah tua dan sakit-sakitan. Sang Raja sering bersedih dan melamun.  “Siapa yang akan menjadi pewaris mahkota kerajaan ini?” gumamnya.

Raja mempunyai tiga orang anak dari Ibu Selir. Siapa di antara mereka yang akan menggantikannya? Melihat perangai ketiga anaknya, Raja bersedih, karena ketiga anaknya tidak akan rela bila salah seorang di antara mereka dipilih. Bila salah seorang dipilih, yang dua orang lagi pasti akan protes, bahkan memberontak.

Maka, Raja berbicara kepada ketiga orang anaknya, “Anak-anakku, Ayahanda sudah tua, sudah waktunya melepaskan mahkota raja. Untuk memilih pengganti Ayah, kalian harus becermin di cermin ajaib. Ini adalah cermin warisan nenek moyang kita. Cermin ini mampu memantulkan isi hati seseorang. Siapa yang di cermin itu terlihat indah dan tampan, dialah yang berhak menggantikan Ayah. Bersiaplah kalian untuk becermin di depan cermin ajaib.”

Ketiga anak raja itu pun mempersiapkan diri. Anak pertama mendadak membuat pakaian yang indah dan mahal, serta mempelajari ilmu sihir. Anak kedua langsung mencari perhiasan yang indah dan mahal. Anak ketiga membeli kosmetik termahal yang bisa membuat seseorang menjadi tampan.

“Bagaimana, kalian sudah siap?” tanya sang Raja.

“Kami siap, Ayahanda,” jawab ketiga anak raja bersamaan.

Anak pertama maju, melangkah dengan penuh percaya diri. Dia segera berdiri di depan cermin. Hiiiy! Raja bergidik melihat wajah sulungnya di cermin. Wajah tampannya terlihat keriput dan jelek. Si sulung mundur perlahan dengan kesal. “Kenapa bisa begini? Aku sudah membaca mantra berulang,” gumamnya.

Kini giliran anak kedua. Tak kalah dengan kakaknya, dia pun melangkah dengan percaya diri. Sampai di depan cermin, Raja kembali bergidik. “Kenapa wajahmu menjadi kecil dan rusak?” gumam Raja. Anak kedua pun mundur sambil menunduk menahan malu.

Anak ketiga yang merasa paling tampan maju dengan percaya diri. Sampai di cermin, awalnya  Raja melihat sesuatu yang indah. Wajah si bungsu begitu tampan. Namun, tiba-tiba saja wajah itu berubah menjadi hitam pekat.

Raja sangat sedih. “Kalau anakku begini semua, siapa yang akan menggantikanku menjadi Raja? Aku sudah terlalu tua,” keluh Raja.

Raja pun mengadakan sayembara. Siapa pun boleh berkaca di cermin ajaib. Barangsiapa yang pantulan dirinya indah dan tampan, dialah yang berhak menjadi raja. Utusan kerajaan lalu mengumumkan sayembara ini sampai pelosok negeri.

Tidak lama, di istana banyak sekali orang berkumpul. Mereka semua akan mencoba mengikuti sayembara.

Satu per satu mereka becermin, namun tak ada satu pun yang berhasil. Semua wajah yang terpantul dari cermin ajaib tidak seindah wajah aslinya.

Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, Raja masih setia menanti peserta sayembara. Sampai suatu hari, terjadi keributan kecil di gerbang istana.

“Pergi sana!” seru seorang pengawal.

“Anak saya mau ikut sayembara, tolong izinkan saya masuk,” pinta seorang ibu dengan baju lusuh seperti pengemis.

“Ha ha ha.  Wajah buruk begitu mau mencoba sayembara?” sindir pengawal yang lain.

Si ibu tidak perduli dengan perkataan para pengawal itu. Dia terus memaksa sambil mendorong gerbang kerjaan. Tiba-tiba, pintu terbuka dari dalam.

“Ada apa gerangan? Kenapa dari tadi ribut terus?” tanya Raja yang kebetulan sedang berkeliling istana.

“Ampun Paduka Raja, maaf, wanita ini memaksa masuk. Anaknya yang buruk rupa dengan pakaian seperti pengemis itu ingin mengikuti sayembara,” kata pengawal.

“Suruh masuk!” perintah Raja.

Di hadapan Raja, anak yang buruk rupa itu becermin. Awalnya, di cermin ajaib muncul wajah tampan bercahaya.

”Jangan-jangan, sama seperti anakku yang ketiga, setelah ini berubah menjadi hitam,” pikir Raja.

Namun, setelah beberapa saat anak buruk rupa itu berdiri, terjadi peristiwa aneh.

Waaah! Mulut Raja menganga. Cermin itu menunjukkan pantulan wajah yang semakin bercahaya. Itu adalah cahaya indah dari wajah si buruk rupa.

Raja sangat senang. Dia sudah memiliki calon penggantinya.

“Paduka Raja, sebenarnya dia adalah anakmu. Sedangkan aku adalah permaisuri yang dulu kau usir dari kerajaan. Ini semua karena ulah Ibu Selir. Dia telah memfutnahku,” ungkap ibu anak itu.

Raja terkejut. Ibu Selir dan ketiga anaknya ketakutan. Mereka perlahan menggerakkan kaki, siap melangkah kabur dari kerajaan.

“Jadi, Permaisuri tidak bersekongkol dengan musuh kerajaan?”

“Kalau bersekongkol, kami tidak akan semerana ini. Kami mungkin sudah diajak ke negara musuh.”

“Kalau begitu, Ibu Selir dan anaknya harus dihukum!” titah Sang Raja. ”Pengawal …,”

“Maaf Ayahanda, tidak perlu menghukum mereka. Kami sudah memaafkan mereka. Sekarang kita bangun kerajaan ini dengan kerukunan dan kebersamaan,” kata si buruk rupa.

Semua sangat terharu dengan perkataan si buruk rupa. Tahta kerajaan akhirnya turun kepada orang pilihan.


 

Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/cermin-ajaib/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu