Di sebuah kerajaan, ada seorang Raja yang sudah tua dan sakit-sakitan. Sang Raja sering bersedih dan melamun. “Siapa yang akan menjadi pewaris mahkota kerajaan ini?” gumamnya.
Raja mempunyai tiga orang anak dari Ibu Selir. Siapa di antara mereka yang akan menggantikannya? Melihat perangai ketiga anaknya, Raja bersedih, karena ketiga anaknya tidak akan rela bila salah seorang di antara mereka dipilih. Bila salah seorang dipilih, yang dua orang lagi pasti akan protes, bahkan memberontak.
Maka, Raja berbicara kepada ketiga orang anaknya, “Anak-anakku, Ayahanda sudah tua, sudah waktunya melepaskan mahkota raja. Untuk memilih pengganti Ayah, kalian harus becermin di cermin ajaib. Ini adalah cermin warisan nenek moyang kita. Cermin ini mampu memantulkan isi hati seseorang. Siapa yang di cermin itu terlihat indah dan tampan, dialah yang berhak menggantikan Ayah. Bersiaplah kalian untuk becermin di depan cermin ajaib.”
Ketiga anak raja itu pun mempersiapkan diri. Anak pertama mendadak membuat pakaian yang indah dan mahal, serta mempelajari ilmu sihir. Anak kedua langsung mencari perhiasan yang indah dan mahal. Anak ketiga membeli kosmetik termahal yang bisa membuat seseorang menjadi tampan.
“Bagaimana, kalian sudah siap?” tanya sang Raja.
“Kami siap, Ayahanda,” jawab ketiga anak raja bersamaan.
Anak pertama maju, melangkah dengan penuh percaya diri. Dia segera berdiri di depan cermin. Hiiiy! Raja bergidik melihat wajah sulungnya di cermin. Wajah tampannya terlihat keriput dan jelek. Si sulung mundur perlahan dengan kesal. “Kenapa bisa begini? Aku sudah membaca mantra berulang,” gumamnya.
Kini giliran anak kedua. Tak kalah dengan kakaknya, dia pun melangkah dengan percaya diri. Sampai di depan cermin, Raja kembali bergidik. “Kenapa wajahmu menjadi kecil dan rusak?” gumam Raja. Anak kedua pun mundur sambil menunduk menahan malu.
Anak ketiga yang merasa paling tampan maju dengan percaya diri. Sampai di cermin, awalnya Raja melihat sesuatu yang indah. Wajah si bungsu begitu tampan. Namun, tiba-tiba saja wajah itu berubah menjadi hitam pekat.
Raja sangat sedih. “Kalau anakku begini semua, siapa yang akan menggantikanku menjadi Raja? Aku sudah terlalu tua,” keluh Raja.
Raja pun mengadakan sayembara. Siapa pun boleh berkaca di cermin ajaib. Barangsiapa yang pantulan dirinya indah dan tampan, dialah yang berhak menjadi raja. Utusan kerajaan lalu mengumumkan sayembara ini sampai pelosok negeri.
Tidak lama, di istana banyak sekali orang berkumpul. Mereka semua akan mencoba mengikuti sayembara.
Satu per satu mereka becermin, namun tak ada satu pun yang berhasil. Semua wajah yang terpantul dari cermin ajaib tidak seindah wajah aslinya.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, Raja masih setia menanti peserta sayembara. Sampai suatu hari, terjadi keributan kecil di gerbang istana.
“Pergi sana!” seru seorang pengawal.
“Anak saya mau ikut sayembara, tolong izinkan saya masuk,” pinta seorang ibu dengan baju lusuh seperti pengemis.
“Ha ha ha. Wajah buruk begitu mau mencoba sayembara?” sindir pengawal yang lain.
Si ibu tidak perduli dengan perkataan para pengawal itu. Dia terus memaksa sambil mendorong gerbang kerjaan. Tiba-tiba, pintu terbuka dari dalam.
“Ada apa gerangan? Kenapa dari tadi ribut terus?” tanya Raja yang kebetulan sedang berkeliling istana.
“Ampun Paduka Raja, maaf, wanita ini memaksa masuk. Anaknya yang buruk rupa dengan pakaian seperti pengemis itu ingin mengikuti sayembara,” kata pengawal.
“Suruh masuk!” perintah Raja.
Di hadapan Raja, anak yang buruk rupa itu becermin. Awalnya, di cermin ajaib muncul wajah tampan bercahaya.
”Jangan-jangan, sama seperti anakku yang ketiga, setelah ini berubah menjadi hitam,” pikir Raja.
Namun, setelah beberapa saat anak buruk rupa itu berdiri, terjadi peristiwa aneh.
Waaah! Mulut Raja menganga. Cermin itu menunjukkan pantulan wajah yang semakin bercahaya. Itu adalah cahaya indah dari wajah si buruk rupa.
Raja sangat senang. Dia sudah memiliki calon penggantinya.
“Paduka Raja, sebenarnya dia adalah anakmu. Sedangkan aku adalah permaisuri yang dulu kau usir dari kerajaan. Ini semua karena ulah Ibu Selir. Dia telah memfutnahku,” ungkap ibu anak itu.
Raja terkejut. Ibu Selir dan ketiga anaknya ketakutan. Mereka perlahan menggerakkan kaki, siap melangkah kabur dari kerajaan.
“Jadi, Permaisuri tidak bersekongkol dengan musuh kerajaan?”
“Kalau bersekongkol, kami tidak akan semerana ini. Kami mungkin sudah diajak ke negara musuh.”
“Kalau begitu, Ibu Selir dan anaknya harus dihukum!” titah Sang Raja. ”Pengawal …,”
“Maaf Ayahanda, tidak perlu menghukum mereka. Kami sudah memaafkan mereka. Sekarang kita bangun kerajaan ini dengan kerukunan dan kebersamaan,” kata si buruk rupa.
Semua sangat terharu dengan perkataan si buruk rupa. Tahta kerajaan akhirnya turun kepada orang pilihan.
Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/cermin-ajaib/
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...