Lagu ini digubah oleh Djamaris St. Kato, seorang pendendang dan peniup suling yang telah dikenal namanya oleh masyarakat Minang dimanapun mereka berada. Dan oleh Hamir Radjo Mangkuto dan Inspeksi Daerah Kebudayaan Sumatera Barat, lagu tersebut digubah lagi dalam bentuk lagu Minang Modern.
Sebagaimana biasa lagu Minang asli diambil dari satu tragedi saja sehingga melodinya sangat eentoonig. Begitu juga bilamana kita tinjau dari segi irama dan nada yang sangat terbatas.
Lagu Ampaian Santo yang sering kita dengar dari pendendang Djamaris melalui rekaman-remannya dan dari beberapa studio radio Republik Indonesia, tidak berbeda dari lagu-lagu Minang lainnya. Lagu ini akan menawan hati berisikan sindiran-sindiran serta tamsil tepat, sehingga mendengar merasa terpesona.
Pantun-pantun yang kita maksud dapat dilihat :
Lapeh nan dari Jambu aie
Handak menjelang Padang Lua
Jo apo hutang ko kadibaie
Santo disamai tak tajua.
Apo diharok pado banto
Antah buluah patalangan
Apo diharok tikang santo
Anto kok labiah panguntiangan
Bukittinggi tanahnyo tinggi
Lurah dalam bakalalaian
Untuang badan dimusim kini
Bansaik balabiah pado kawan
Aluih turiahnyo pandan Singkia
Dilipek lalu dilipekti
Lah runcing tunjuak ateh samia
Taga dek santo murah kini.
Lapeh nan dari Sawah Liek
Handak manjalang Sawah Rakan
O, hujan lambek lah lambek
Badan di tangah pasawangan.
Dendang ini diperdapat oleh Djamaris St. Kato di Simarasok, dimana ia mendengar seorang perempuan sedang berdendang di ladang santo (tembakau) dan di dekatnya duduk anaknya yang menangis meminta nasi.
Riwayat Hidup Djamaris St. Kayo
Pendendang rakyat ini dilahirkan pada tahun 1923, di kampungnya Batagak Banuhampu dekat Sungai Puar. Kedua orang tuanya hanya sanggup menyerahkan Djamaris pada pendidikan sekolah mengaji dan surau.
Djamaris St. Kato dalam membaca Qur'an selalu dengan nada serta lagu yang sangat memilukan dengan tidak meninggalkan tasdik serta dengungnya. Apalagi suara Djamaris memang empuk menyebabkan siapa saja yang mendengar akan terpesona. Sehingga dalam waktu yang relatif pendek Djamaris dikenal sebagai seorang yang pandai mengaji.
Sebuah tragdei bagi Djamaris adalah kepindahan seorang guru yang sangat disenanginya ke Tiku. Kepindahan guru yang sangat dicintainya ini menyebabkan kepatahan hatinya dalam memperdalam pengetahuannya dalam bidang agama.
Demikianlah pada suatu hari anak muda Djamaris duduk di sebuah lepau di kampungnya memeprhatikan orang yang sedang bersalung.
Dengan bermodal keberanian, Djamaris menurutkan kata hatinya berdendang bersama pendendang-pendendang lainnya. Jika dudlu suaranya yang empuk itu diperdengarkannya di surau dengan membacakan ayat-ayat Qur'an kini berpindah ke Lepau mendendangkan pantun-pantun yang selama ini terpendam di kalbunya. Siapa saja yang mendengar mulai tertarik dengan suara Djamaris yang spesifik itu. Sehingga orang-orang yang sedang menikmati kopi dan menghisap daun enau terpaksa berjam-jam terkau di Lepau itu.
Semenjak hari pertama penampilannya itu namanya mulai dikenal dari kampung ke kampung. Anak muda ini telah menjadi pendendang jemputan/panggilan bersama perkumpulannya disetiap perhelatan maupun keramaian. Dalam tempo dua tahun nama Djamaris telah dikenal oleh penggemar-penggemar salung.
Di tahun 1932, Djamaris diundang oleh Maatschappy plaat karmopon Odeon dengan maksud merekam suaranya dalam lagu Minang klasik dengan gaji Rp. 16 setiap bulannya. Dua tahun bekerja pada perusahaan ini ia kembali pulang ke kampung sebab ia merasakan bahwa tenaganya terlalu dikuras. Ia kembali merindukan kehidupan di kampung yang serba damai dan tenteram itu. Pada zaman Jepang Dajamaris kembali memperdengarkan suaranya pada studio radio di Bukit Tinggi. Sebelum itu ditahun 1940, ia sempat lagi merekam suaranya dengan 3 (tiga) buah lagi dengan penerimaan honorarium 3 sen setiap plaat. Sehabis masa kontrak ia kembali ke kampung halamannya. Dalam perang kemerdekaan Djamaris mengisi acara-acara pada studio radio RRI di Bukit Tinggi dengan honor yang hampir tidak ada.
Hingga sekarang suaranya masih bisa kita dengar.
Sumber : Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumatera Barat
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...