Ritual
Ritual
Ritual Adat Maluku Banda Naira
Cakalele Banda
- 29 Desember 2018

Banda Naira punya banyak keunggulan budaya yang pantas dipromosikan sebagai daya tarik wisata. Salah satunya adalah Tari Cakalele Banda yang biasa ditemukan di kampong (desa) Lontor, kampong Baru, kampong Waer, kampong Salamong, kampong Negre dan kampong Run .

Cakalele Banda terbilang unik di banding tarian cakalele di daerah lain di Maluku. Tarian ini merupakan perpaduan seni tari, seni busana dan seni berperang.

Pakaiannya yang warna warni dihiasi dengan burung Cerderawasih diatas topi para penari, menyerupai motif kostum elite bangsawan pasukan kerajaan Inggris, terkesan mengagumkan siapa saja yang melihatnya. Tidak heran kalau Cakalele ini adalah tarian elite dan prestise bagi masyarakat Banda dan karena itu juga diperuntukkan untuk menerima tamu-tamu terhormat yang datang ke Banda.

Namun tidak setiap saat tarian Cakalele ini dapat dipentaskan, karena disamping biayanya yang cukup mahal, mencapai jutaan rupiah sekali masa pentas, juga Cakalele selalu berhubungan dengan struktur adat Buka Kampong dan Tutup Kampong, yang juga secara adat cukup memakan waktu dan biaya sangat banyak.

Selain personil Cakalele, maka ada personil pembantu utama lain yang tidak dapat dipisahkan dari Cakalele yaitu kelompok Mai-mai. Mai-mai adalah melambangkan istri-istri dari penari Cakalele tersebut. Mereka selalu tampil dimana saja apabila ada atraksi Cakalele, melambangkan kesetiaan gadis-gadis Banda yang ayu rupawan dalam mendampingi suami-suami mereka di dalam menunaikan tugasnya.

Secara keseluruhan tarian Cakalele Banda terdiri dari personil penari Cakalele, Mai-mai, penabuh dan pemukul tifa dan gong, pemegang umbul-umbul serta pemuka adat dan personil pembantu. Mereka memainkan peranan yang berbeda-beda secara adat dalam sebuah pementasan. Secara adat pula fungsi-fungsi mereka tidak dapat berubah dan diganti oleh personil lain, karena itu Cakalele adalah sebuah keutuhan yang sarat dengan ritual dan mistik.

Para personil penari Cakalele rata-rata sama jumlahnya yaitu lima orang, kecuali kampong Lontor saja yang memiliki personil penari yang berjumlah sembilan orang. Kampong ini sebenarnya adalah kunci pengembangan budaya di Banda Neira, sehingga secara struktur Lontor dipandang sebagai kampong yang sangat berwibawa secara adat bila dibandingkan dengan kampong-kampong lain di Banda.

Sebagai master dari Cakalele ini adalah yang berstatus Kapitang. Biasanya Kapitang memakai pakaian yang warnanya berbeda dengan personil lainnya, dan master inilah yang sangat mendominasi semua atraksi Cakalele.

Cakalele adalah tarian yang secara adat boleh ditampilkan diantara pelaksanaan adat Buka Kampong dan adat Tutup Kampong. Lama waktu diantara acara adat tersebut tidak bisa ditentukan, karena disesuaikan dengan kebutuhan untuk apa tarian Cakalele itu dipentaskan.

Paling menarik dari Cakalele adalah upacara ritual yang berkesan mistik dibalik tarian Cakalele ini. Upacara itu adalah sebuah prosedur yang mutlak tidak bisa dilupakan dalam rangkaian pementasan Cakalele. Upacara ritual tersebut, seperti yang telah disebutkan di atas adalah adat Buka Kampong dan Tutup Kampong.

 

Buka Kampong tidak saja melibatkan para penari dan struktur-struktur lain yang mengitari sistem tarian tersebut, akan tetapi melibatkan seluruh masyarakat kampong dimana acara Buka Kampong itu dilaksanakan. Seluruh warga kampong merasa terikat dengan kewajiban dan hak-hak mereka terhadap upacara Buka Kampong, selama menjelang acara Buka Kampong sampai dengan acara Tutup Kampong dilaksanakan.

Suasana ritual inilah yang paling berkesan kepada masyarakat Banda atau wisatawan di Banda, terutama bagaimana kita berusaha mengenal mitos Cakalele itu sendiri. Yang paling berkesan dari upacara ritual itu adalah bahwa semua warga kampong harus bersih, baik bersih hati maupun lingkungan hidupnya, hal tersebut dipercaya oleh masyarakat Banda sebagai ritual sehingga berkesan mistik.

Kepercayaan ini selalu terbukti secara empiris, apabila warga kampong tersebut melanggar ketentuan yang telah ditentukan oleh adat maka selalu ada korban warga kampong yang jatuh sakit. Penyakitnya menjadi aneh-aneh, dan baru bisa disembuhkan apabila yang bersangkutan (pembuat pelanggaran) memperbaiki kesalahannya. Biasanya yang menjadi korban adalah orang lain, dan orang ini akan menunjukkan siapa pelaku pelanggaran itu. Peristiwa inilah yang selalu ingin dihindari oleh warga kampong karena dianggap bahwa aib-nya akan terbeberkan dan diketahui orang lain.

Selang beberapa waktu (sesuai kebutuhan) setelah acara Buka Kampong dilaksanakan, dan dalam masa-masa ini acara pementasan tarian Cakalele baru diperkenankan untuk digelarkan, maka akhirnya, apabila dipandang pementasan sudah cukup atau tidak digelarkan lagi, diakhiri dengan acara Tutup Kampong. Acara Tutup Kampong juga tidak kalah menariknya dengan acara Buka Kampong. Acara Tutup Kampong adalah puncak dari seluruh acara yang berhubungan dengan pementasan tarian Cakalele itu, dan setelah acara ini, maka tidak diperkenankan untuk mementaskan tarian Cakalele sampai pada acara Buka Kampong di waktu yang lain.

sumber :https://www.satumaluku.id/2018/11/08/gaya-dan-mistik-di-balik-cakalele-banda/

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu