Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Aceh Aceh
Burek Kura
- 23 November 2018

Burek Kura adalah seorang pemuda miskin dengan wujud aneh. Wujudnya menyerupai kura-kura. Meski dengan wujud kura-kura, Bruek Kura dikenal selaku pemuda yang baik hati. Ia rajin bekerja membantu kedua orangtuanya. Orangtuanya sangat mencintai dan menyayangi Bruek Kura. Begitu pula halnya dengan Bruek Kura. Orang-orang yang mengenal Bruek Kura juga menghormati dan menyayangi pemuda baik hati itu tanpa mempedulikan wujud Bruek Kura yang aneh itu.

Ketika Bruek Kura telah dewasa usianya, Bruek Kura jatuh cinta pada seorang gadis berwajah cantik anak seorang saudagar kaya raya. Ia pun meminta kedua orangtuanya untuk meminang gadis yang dicintainya itu. Ibu Bruek Kura lantas menuju rumah gadis idaman anaknya. Orangtua Si gadis serta merta menolak lamaran Ibu Bruek Kura. Mereka tidak menghendaki anak gadisnya menjadi istri seorang pemuda berwujud kura- kura yang miskin itu.

Bruek Kura tidak menyerah meski lamarannya ditolak. Ia kembali meminta ibunya untuk datang ke rumah gadis idamannya. Ibu Bruek Kura terpaksa menuruti kehendak anaknya.

Orangtua Si gadis sangat kesal mendapati Ibu Bruek Kura kembali datang dan kembali mengutarakan keinginannya untuk melamar putrinya. Dengan wajah bersungut-sungut menahan kemarahannya, ayah Si gadis berujar, “Tanyakan sendiri pada anak gadisku! Apakah anak gadisku yang cantik wajahnya dan berasal dari keluarga saudagar kaya raya itu bersedia dinikahi seekor kura-kura yang miskin? Tanyakan langsung padanya!”

Ibu Bruek Kura lalu bertanya pada Si gadis, “Wahai gadis yang baik, apakah engkau bersedia menjadi istri dari anakku yang berwujud kura- kura lagi miskin itu?”

Sangat mengejutkan, Si gadis menyatakan kesediaannya!

Tak terkirakan kemarahan orangtua Si gadis ketika mendengar anak gadis mereka bersedia diperistri Bruek Kura. Ayah Si gadis berujar keras-keras, “Jika engkau tetap bersedia dinikahi kura-kura miskin itu, pergi engkau dari rumah ini!”

Si gadis tetap pada pendiriannya. Ia pun pergi dari rumah orangtuanya dan mengikuti ibu Bruek Kura. Bruek Kura dan Si gadis kemudian menikah. Mereka tinggal di sebuah gubug kecil yang dibangun Bruek Kura. Gubug kecil itu berdiri tidak jauh dari rumah mewah milik keluarga Si gadis.

Ketika malam tiba, Bruek Kura bergerak perlahan-lahan meninggalkan istrinya yang telah tertidur pulas. Bruek Kura melepaskan cangkang kura-kuranya. Berubahlah ia kemudian menjadi seorang pemuda yang gagah, bertubuh kuat, lagi sangat tampan wajahnya. Bruek Kura yang telah berubah wujud menjadi pemuda gagah lagi tampan itu kemudian pergi meninggalkan gubugnya. Ia lantas membeli aneka perhiasan indah dan juga barang-barang kebutuhan istrinya. Setibanya di gubug, Bruek Kura kembali memasuki cangkang kura-kuranya setelah meletakkan semua perhiasan dan juga kebutuhan istrinya.

Istri Bruek Kura sangat terperanjat ketika mendapati perhiasan indah dan aneka kebutuhannya berada di dekatnya. Ia tidak mengetahui siapa yang memberinya perhiasan indah dan aneka kebutuhannya itu meski ia yakin, suaminya tentu yang melakukannya. Keheranan istri Bruek Kura kian menjadi-jadi setelah hampir setiap pagi ia menemukan perhiasan indah dan juga kebutuhannya tergeletak di dekat tempatnya tertidur.

Istri Bruek Kura ingin mengetahui siapa sesungguhnya pelakunya. Maka, pada suatu malam ia berpura-pura tidur. Ia tetap berpura- pura tidur ketika Bruek Kura meninggalkan dirinya. Dengan berjingkat-jingkat ia mengintip apa yang dilakukan suaminya. Amat terperanjat istri Bruek Kura ketika melihat suaminya berubah wujud menjadi seorang pemuda yang gagah lagi sangat tampan wajahnya. Ketika suaminya pergi, istri Bruek Kura segera mengambil cangkang kura-kura yang ditinggalkan suaminya. Ia menghendaki suaminya tetap dalam wujud manusia. Maka, cangkang kura-kura itu lantas dibakarnya.

Keajaiban pun terjadi. Seketika cangkang kura-kura itu terbakar, mendadak cangkang itu berubah menjadi sebuah rumah besar yang sangat mewah. Laksana sebuah gedung istana! Mendadak muncul pula aneka hewan ternak di belakang rumah megah itu. Berjenis-jenis hewan ternak itu telah berada di dalam kandangnya masing-masing.

Ketika Bruek Kura pulang, ia terperanjat mendapati sebuah gedung mewah di dekat tempat tinggalnya. Ia juga tidak bisa menemukan kembali cangkang kura-kuranya. Berulang-ulang ia mencari, cangkang kura-kuranya itu tidakjuga diketemukannya. Sadarlah ia jika ia tidak lagi bisa menjelma menjadi kura-kura. Ia tetap menjad manusia untuk selama-lamanya.

Istri Bruek Kura amat gembira bersuamikan Bruek Kura yang ternyata lelaki gagah berwajah amat tampan. Bertambah-tambah kegembiraannya setelah mengetahui suaminya sesungguhnya seorang alim ulama yang sangat sakti. Masyarakat di sekitar tempat tinggal mereka juga sangat gembira karena di daerah mereka terdapat seorang alim ulama yang dapat menjadi tempat mereka untuk belajar agama.

Bruek Kura dan istrinya hidup berbahagia. Keduanya hidup rukun, saling sayang-menyayangi. Berlimpah-limpah kekayaan yang mereka miliki dan mereka tidak ragu-ragu untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Burek Kura dan istrinya kemudian dikenal sebagai seoasang suami istri dermawan.

Lantas, bagaimana dengan orangtua istri Bruek Kura?

Mereka benar-benar malu dan sangat menyesal. Kura-kura buruk rupa yang telah mereka tolak pinangannya dahulu ternyata adalah jelmaan seorang alim ulama yang melimpah ruah kekayaannya. Berlipat-lipat kali kekayaannya dibandingkan kekayaan mereka yang telah ternama selaku saudagar kaya raya. Mereka hanya bisa menyesali diri dan merasa malu atas perbuatan buruk mereka dahulu.

 JANGAN MEMANDANG RENDAH KEPADA ORANG LAIN. KEMULIAAN DAN KEHORMATAN ORANG SESUNGGUHNYA TIDAK TERLETAK PADA KEKAYAAN YANG DIMILIKINYA. MELAINKAN PADA SIFAT DAN PERILAKUNYA YANG BAIK DAN TERPUJI. 

 

Sumber: https://dongengceritaanak.com/category/cerita-rakyat/aceh/

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu