Cerita rakyat daerah Bengkulu, Bujang Awang Tabuang, menceritakan tentang seorang pemuda tampan lagi sakti mandraguna yang merupakan anak Raja Kramo Kratu Agung dan permaisurinya Putri Rimas Bangesu. Karena dianggap tidak mampu memberikan keturunan, Putri Rimas Bangesu diasingkan ke tengah hutan oleh suaminya sendiri atas nasehat penasehat kerajaan.
Pada dahulu kala di daerah Bengkulu, terdapat sebuah kerajaan bernama Peremban Panas yang dipimpin oleh Raja Kramo Kratu Agung yang memiliki permaisuri bernama Putri Rimas Bangesu. Sang Raja memerintah dengan adil bijaksana. Rakyat Kerajaan Peremban Panas sangat menghormati dan mencintai raja mereka.
Namun kebahagiaan Raja Kramo Kratu Agung sedikit terganggu, karena setelah menikah selama enam tahun dengan Permasuri Putri Rimas Bangesu, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Sang Raja merasa khawatir, siapa yang akan meneruskan tahta kerajaannya nanti. Kerabat kerajaan kemudian berembug untuk membicarakan masalah ini. Setelah mereka berembug, hasil dari rembug kerabat kerajaan tersebut mengejutkan Putri Rimas Bangesu. Mereka memutuskan bahwa Sang Raja harus menikah dengan wanita lain. Sedangkan Putri Rimas Bangesu harus diasingkan ke tengah hutan rimba.
Kelahiran Bujang Awang Tabuang
Tidak lama kemudian, Putri Rimas Bangesu diasingkan ke tengah hutan. Ia ditemani oleh seekor harimau dan sepasang kera. Kerajaan membuatkan sebuah gubug di tengah hutan rimba sebagai tempat pengasingan Sang Permaisuri. Sebenarnya saat diasingkan, Sang Permaisuri tengah mengandung, hanya saja Raja Kramo Kratu Agung tidak mengetahuinya. Setelah sekian lama tinggal di pengasingan, lahirlah dari rahim Sang Permaisuri, seorang anak laki-laki tampan dan sehat. Sang permaisuri memberinya nama Bujang Awang Tabuang.
Di bawah pengasuhan ibunya, ditemani oleh harimau dan sepasang kera, Bujang Awang Tabuang tumbuh menjadi seorang pemuda gagah, tampan, tangguh lagi sakti. Waktu terus bergulir hingga Bujang Awang Tabuang mencapai umur tujuh belas tahun. Selama itu pula ibunya selalu berdusta padanya. Setiap kali Bujang bertanya perihal siapa ayahnya, Ibunya akan mengatakan bahwa ayahanda Bujang adalah seorang Dewa.
Namun kini Bujang telah menjadi seorang pemuda dewasa. Sang Permaisuri merasa sudah waktunya Bujang mengetahui siapa ayah kandungnya. Putri Rimas Bangesu akhirnya mengatakan bahwa Raja Kramo Kratu Agung adalah ayah kandungya. Ia juga menceritakan kejadian yang menimpa dirinya diasingkan dari istana.
Mengetahui hal tersebut, Bujang meminta izin pada ibunya untuk pergi ke istana Kerajaan peremban Panas mencari ayahandanya. Walaupun merasa berat hati, namun Putri Rimas Bangesu tetap mengizinkanya. “Berhati-hatilah engkau Bujang. Sebisa mungkin hindari pertengkaran atau perkelahian dalam perjalanmu nanti. Ibu akan terus mendoakanmu.” kata Sang Ibunda.
Bujang Berangkat Ke Istana Mencari Ayahandanya
Keesokan harinya Bujang Awang Tabuang berangkat menuju istana Kerajaan Peremban Panas. Dari hutan rimba ia berjalan kaki seorang diri selama berhari-hari. Setiap bertemu dengan penduduk, ia akan bertanya kemana arah istana Kerajaan Peremban Panas. Akhirnya Bujang tiba juga di istana Kerajaan Peremban Panas.
Setibanya di gerbang istana, Bujang langsung masuk begitu saja ke dalam istana. Tingkah lakunya itu membuat penjaga istana berusaha menghentikannya. “Saya ingin bertemu dengan Raja Kramo Kratu Agung.” kata Bujang pada para penjaga gerbang istana.
“Tidak bisa kau seenak perutmu masuk ke istana begitu saja. Yang Mulia Raja Kramo Kratu Agung saat ini tidak bisa diganggu. Beliau saat ini hendak menikah dengan Putri Rambut Perak dari Kerajaan Pinang Jarang.” kata para penjaga.
Bujang Membuat Kekacauan Di Istana Kerajaan Peremban Panas
Namun Bujang tetap memaksa masuk yang membuat para penjaga terpaksa mengusirnya. Tidak terima diusir, Bujang melawan para penjaga. Akibatnya tejadi perkelahian diantara mereka. Bujang Awang Tabuang nampaknya terlalu tangguh bagi para penjaga gerbang istana. Ketika datang prajurit lainnya untuk mengeroyok Bujang, dengan mudahnya Bujang mengalahkan mereka semua. Para prajurit akhirnya berlarian menjauhi Bujang. Sebagian diantara prajurit melaporkan hal ini pada Patih Kerajaan.
Karena merasa kelelahan setelah perjalanan jauh dan berkelahi dengan para penjaga, Bujang kemudian tidur di bawah pohon alun-alun istana. Suara dengkurnya terdengar begitu keras hingga membuat istana kerajaan bergetar bagaikan terkena gempa bumi. Getaran seperti gempa ini membuat seisi istana gempar.
Raden Tumenggung, Patih Kerajaan Peremban Panas segera keluar mencari biang keladi kekacauan tersebut. Ia segera mendapati Bujang Awang Tabuang sedang tidur mendengkur di bawah pohon alun-alun istana. “Hai gembel bangun! Jangan buat kekacauan di istana Kerajaan. Apa maksudmu dengan membuat kekacauan seperti!” teriak Raden Tumenggung kasar.
Bujang terbangun, kemudian ia berjalan ke dalam istana mencari Raja Kramo Kratu Agung. Ia sama sekali tidak memperdulikan Raden Tumenggung. Melihat sikapnya yang tidak sopan, Raden Tumenggung tanpa basa-basi langsung menyerang Bujang. Terjadilah perkelahian diantara keduanya. Lagi-lagi Bujang menunjukkan ketangguhannya dalam bertarung. Dalam waktu singkat ia mampu mengalahkan Raden Tumenggung.
Bujang Awang Tabuang lantas memasuki istana dan mengamuk menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Para prajurit istana dibuat kocar-kacir tidak mampu menghadapinya. Raja Kramo Kratu Agung akhirnya turun tangan langsung menghadapi pemuda pengacau ini. Keduanya bertarung sengit selama satu hari satu malam. Keduanya belum mengetahui bahwa mereka berdua adalah ayah dan anak. Karena tidak ada tanda-tanda siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah, Raja Kramo Kratu Agung akhirnya meminta Bujang untuk menghentikan pertarungan tersebut.
“Sudahlah hai anak muda. Nampaknya pertarungan ini tidak akan selesai. Siapakah dirimu berani membuat kekacauan di istana? Aku Raja Kramo Kratu Agung. Katakan apa keperluanmu?” kata Sang Raja.
Bujang Akhirnya Bertemu Ayahandanya
Bujang merasa kaget bahwa ternyata lawan tarungnya ini adalah ayahanda yang ia cari selama ini. “Maaf Paduka Raja. Hamba adalah Bujang Awang Tabuang, putra dari Putri Rimas Bangesu. Sewaktu ibunda diasingkan ke hutan rimba, sebenarnya ibunda tengah mengandung Hamba.” kata Bujang.
“Jadi engkau adalah anakku wahai anak muda?” kata Sang Raja.
“Benar ayahanda. Sekarang ibunda masih di hutan ditemani harimau dan kera.” kata Bujang.
Raja Kramo Kratu Agung segera memeluk anaknya. Ia meminta maaf telah mengasingkan dan menyiakan-nyiakan ibunya. Raja mengaku tidak tahu bahwa Putri Rimas Bangesu saat diasingkan tengah mengandung. Sang Raja kemudian membatalkan pernikahannya dengan Putri Rambut Perak.
Putri Rimas Bangesu Kembali Ke Istana
Keesokan harinya, Sang Raja bersama Bujang Awang Tabuang beserta para prajurit pergi ke hutan tempat pengasingan Putri Rimas Bangesu untuk menjemputnya. Maka bertemulah kembali Raja Karmo Kratu Agung dengan istrinya Putri Rimas Bangesu. Keduanya berpelukan sambil menangis. Sang Raja kemudian membawa kembali istrinya ke istana Kerajaan Peremban Panas dengan menaiki kereta indah.
Akhirnya Bujang Awang Tabuang hidup berbahagia bersama kedua orang tuanya di istana Kerajaan Peremban Panas. Meski sudah tinggal di istana, Bujang Awang Tabuang tidak melupakan harimau dan kera yang telah menemaninya sejak kecil. Bujang kerap mengunjungi harimau dan kera dihutan dan bercengkrama dengan mereka seperti saat ia kecil dahulu.
Untuk membuka blokIr (BRImo) yang terblokIr. Anda bisa menghubungi Layanan CS BRI di Nomor WhatsApp+: (+62817. 7641 4017.))) atau 1500017 atau Anda Bisa lakukan lupa username atau password" pada halaman login aplikasi {BRImo}.
Untuk membuka blokIr (BRImo) yang terblokIr. Anda bisa menghubungi Layanan CS BRI di Nomor WhatsApp+: (+62817. 7641 4017.))) atau 1500017 atau Anda Bisa lakukan lupa username atau password" pada halaman login aplikasi {BRImo}.
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...