Dayak Paser adalah salatu sub suku Dayak group Lawangan. Dalam group Lawangan ada dikenal Belian Bawo, konon asal muasal Belian ini adalah dari daerah Paser para Pembelian ini atau MULUNG dalam bahasa paser adalah imam-imam atau pendeta didalam kepercayaan Dayak Paser, dan ritual ini konon didapat dari alam atas, berikut ini adalah kisah legenda asal usul Belian Dayak Paser.
Konon dahulu Indung Gilay Nining Langit di hulu nya sungai Biu memiliki dua orang anak laki-laki. Salah satu anaknya memperistrikan perempuan gaib bernama Dayang Spea yang kemudian mengajarkan Belian kepadanya dan masyarakat di Bawo Kendilo. Awalnya sewaktu anak dari Indung Gilay Nining Langit mancing ikan disebuah “loyu” (bagian sungai terdalam dan lebar) bernama Loyu Tuwengan di Sungai Biu hulu nya Kemerayon bertemu dengan seorang perempuan yang sangat cantik yang keluar dari dalam sungai lalu duduk disampingnya diatas batu. Orang Paser menyebut mahluk dalam rupa manusia yang keluar dari dalam “loyu” sungai itu sebagai “Tondoy Loyu”.
Setiap kali dia memancing disitu selalu muncul lah perempuan cantik itu sehingga akhirnya dia jatuh hati, lalu saat akan memancing berikutnya maka dipasangnya lah “ansan” (minyak) di batu tempat biasa dia memancing. Sesaat perempuan cantik itu muncul dan duduk kembali disampingnya lalu tidak bisa kembali pulang ke dalam sungai karena seterusnya berwujud manusia perempuan berparas cantik yang diberi nama Dayang Spea dan kemudian menjadi istrinya. Anak dari mereka berdua inilah yang kemudian menjadi turunan orang Paser hingga saat ini.
Dayang Spea kemudian mengajarkan ritual Belian kepadanya dan orang-orang yang ada di alas bawo Kendilo. Bawo adalah daerah dataran tinggi di hulu sungai. Seiring waktu belian ini kemudian merambah sampai ke Tebalunk hingga Ma Gegen yang ada di Haruai kemudian mengajarkan mereka yang ada di Ampah khususnya Rodok dan Patung tentang ritual belian dari Dayang Spea. Dayang Spea itu disebut tondoy yang dilambangkan dengan warna kuning. Oleh sebab itu setiap ritual belian bawo selalu ada kain warna kuning. Itulah kenapa para mulung memakai kain seperti rok dengan “siek” seperti perempuan adalah karena asalnya belian itu dari Dayang Spea perempuan cantik gaib atau disebut UWOK BAWE REGOK.
Sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2016/09/19/asal-usul-belian-dayak-paser/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara