Lagu Bubuy Bulan adalah lagu dari provinsi Jawa Barat yang diciptakan oleh Benny Korda. Lagu ini cukup terkenal pada masanya, tetapi ada arti dari lagu ini yang tidak diketahui banyak orang.
Berikut adalah lirik dari lagu Bubuy Bulan:
Bubuy bulan
Bubuy bulan sanggray bentang
Panon poe
Panon poe disasate
Unggal bulan
Unggal bulan abdi teang
Unggal poe
Unggal poe oge hade
Situ Ciburuy laukna hese dipancing
Nyeredet hate ningali ngeplak caina
Duh eta saha nu ngalangkung unggal enjing
Nyeredet hate ningali sorot socana
Bubuy bulan, atau bulan di bubuy, maksudnya seperti lagu Thola'al Badru Alaina yang berarti telah datang bulan purnama kepada kami. Bulan purnama yang dimaksud disini adalah Rasulullah SAW. Jadi arti bulan dalam lagu Bubuy Bulan adalah ajaran Rasulullah SAW. Bubuy disini adalah perumpamaan dari pembumi hangusan ajaran Rasulullah.
Sanggray bentang, bermaksudkan bintang di sangray. Bintang adalah perumpamaan dari Ahlul Bait Rasulullah SAW, seperti dalam hadits, "bintang-bintang adalah penunjuk bagi pelaut agar tidak tersesat, dan ahlul baitku adalah bintang-bintang bagi umatku, yang bila berpegang pada mereka niscaya akan selamat dunia akhirat." Namun dalam lagu ini pada ulama terdahulu mau menunjukkan kepada kita betapa ajaran Rasulullah SAW yang telah diteruskan kepada ahlul baitnya sebagai wasi' atau penjaga agama rasul telah di "sangray", maksudnya telah di khianati dengan cara yang kejam.
Panon poe disasate, berarti matahari disate berkali-kali (sasate mengandung arti pengulangan). Matahari mengandung arti para ulama yang menyampaikan ajaran Rasul dan ahlul baitnya, cahayanya memancar ke seluruh umat memberikan penerangan-penerangan yang dengan cahayanya manusia dapat membedakan mana yang baik dan buruk bagi kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Namun matahari ini di sasate, yang mengandung arti dibantai, dibunuh dengan kejam dan licik, agar ajarannya hilang dari muka bumi. Tujuan pembantaian para ulama ini adalah demi langgengnya kekuasaan atau demi tujuan politik, dan hal ini berlangsung sejak wafatnya Rasulullah SAW, dengan puncak kesadisan yang tidak ada bandingnya dalam peradaban manusia. Pesan inilah yang disampaikan pada 3 baris pertama lagu Bubuy Bulan.
Kesedihan yang luar biasa ia alami atas kejadian tersebut, kesedihan yang ia tuangkan dalam syair-syair yang berbunyi "unggal bulan, unggal bulan abdi teang. unggal poe, unggal poe." yang berartikan "setiap ada bulan saya mencari, setiap siang saya juga mencari."
Sedangkan patahan lirik "oge hade" berarti bahwa pencarian tersebut sama bagusnya. Kegiatan mencari disini melambangkan ikhtiar dan do'a melindungi sisa-sisa dari pembantaian dan usahanya mencari guru yang sahid tersebut. Kalimat ini bisa jadi suatu pemberitahuan atau bahasa rahasia, untuk berguru di malam hari. Namun lebih bagus juga (oge hade) bila pada siang hari pun melakukan usaha yang sama.
Kalimat "situ ciburuy, laukna hese dipancing" lebih mengarah kepada keterangan tempat dan waktu, ditekankan pada kata Situ Ciburuy, tempat dan lauk yang berarti sengkalan, sistem penanggalan yang diajarkan oleh para wali. Ikan disini berarti tahun: bagian-bagian ikan dibaca dari atas ke bawah, dari kepala ke ekor. Kepala; 1, badan; 1, sirip;2, ekor; 1. Jika digabungkan menjadi bilangan 1121, yang berarti kejadian ini terjadi pada tahun 1121, pada puncak pembantaian yang terjadi pada tahun 1121, 600 tahun setelah pemerintahan ahlul bait yang adil makmur merata di nusantara.
Nyaredet hate berartikan sedih, pilu, sakit hati yang luar biasa, tetapi tidak ada yang bisa diperbuat.
Ningali ngeplak cai na berarti melihat darah yang ditumpahkan dengan sengaja.
Duh eta saha nu ngalangkung unggal enjing berartikan siapakah itu yang hadir setiap pagi.
Nyaredet hate yang kedua kali berartikan hati yang teriris setiap kali melihat yang hadir pagi itu, mengingat peristiwa ketika gurunya bergelimang darah.
Ningali sorot socana, berartikan melihat sorot matanya yang tegas, yang mengingatkan si penyair ini teringat akan gurunya yang selama ini selalu ia cari penggantinya di siang dan malam.
Lagu ini sempat dilarang di nyanyikan karena ada keterkaitan makna dengan pembantaian ulama di Jawa Barat oleh PKI pada jaman dahulu.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara