Ketika folks bertandang ke rumah atau perkampungan Suku Dayak ada baiknya folks mengetahui Adab Umum yang dianut oleh orang Dayak, yaitu pertama folks harus melaporkan diri kepada kepala kampung atau ketua adat kampung tersebut dan menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kekampung itu. Sebaiknya folks memperkenalkan diri dan rombongan serta menjelaskan lamanya berada di kampung itu, apa yang dibawa dan asal folks. Serta folks harus bertanya tentang aturan-aturan adat yang harus dipatuhi selama berada dikampung itu serta berjanji akan memenuhinya. Jika folks sudah melakukan ini umumnya perjalanan folks akan aman, sebab kepala kampung ini akan mengumumkan kepada masyarakatnya bahwa ada tamu yang datang dan adar tamu ini bisa diterima dan dilindungi dengan baik, sebab haram bagi orang Dayak untuk memperlakukan orang asing apa lagi tamu dengan tidak baik – silahkan baca artikel HUKUM ORANG DAYA TERHADAP ORANG ASING / PENDATANG.
Sering menjadi kebiasaan bila berkunjung ke kampung-kampung Dayak, maka sebagai penghormatan maka akan diberikanbuah tangan berupa ayam atau telor kadang juga buah / sayur-sayuran, semua pemberian ini debrikan dengan ketulusan dan jangan sekali-kali dibayar uang, karena kita diberi uang mereka bisa tersinggung, kecuali orang tersebut memang jelas menawarkan dan menjual barang yang diberikan. Namun jika folks mau memberi ucapan terimakasih maka berikanlah rokok, garam atau dapat juga berupa kain / pakaian pokoknya berupa barang dan jangan berupa uang.
Orang Dayak ini suka menjamu tamunya, sebaiknya jangan menolak makanan yang disajikan walaupun itu sederhana. Orang Dayak akan malu jika tamunya sampai mengalami kelaparan. Bahkan dianggap sebagai tuan rumah yang tidak baik, walaupun anda sudah bilang “sudah kenyan”g pasti anda tetap akan disuguhi makanan. Pengalaman penulis ketika ke Desa Dayak Berusu di Desa Sedulun. Penulis tidak kenal orang-orang disana. Tetapi ketika kami memperkenalkan diri dengan ketua adatnya, kami dijamu dengan makanan, sirih dan tuak. Walau rasanya sudah kenyang penulis tetap menerimanya dengan sukacita. Kadang jika anda sudah diterima dengan baik, anda akan dianggap sebagai keluarga dan tidak perlu sungkan lagi untuk mengambil makanan atau minuman yang ada.
Dalam menyambut tamu adat Dayak Ngaju ada tradisi yang namanya TETEK PANTAN – memotong kayu / tebu yang melintang didepan pintu menggunakan MANDAU tapi ada juga dengan menggigit batang tebu. Setelah pantan dipotong anda akan disambut dengan acara HAKASAI – saling dibedaki dengan bedak basah, sebaiknya jangan menolak sebab itu cara mengekspresikan kegembiraan menyambut tamu, dan folks juga boleh membedaki tuan rumah, disamping itu anda akan disuguhi tuak, maka sebaiknya terimalah walau meminum sedikit saja sebagai bentuk penghormatan, kadang juga dikampung Dayak tertentu tamu akan diajak menari sambil diiringi musik tradisional, bila anda diajak menari sebaiknya jangan menolak walaupun anda tidak bisa menari, kalau Dayak Ngaju biasanya MANASAI atau dalam adat Murut / Lun Dayeh yaitu tari Semajau – berupa tarian berkeliling.
Sebagai tanda penghormatan maka biasanya tamu akan diurapi dengan darah hewan pada dahi, tangan, dada dan kaki, pengolesan dengan darah ini adalah cara menunjukan rasa hormat yang paling tinggi dan pada pergelangan tangan biasanya akan dililitkan manik-manik biasanya lilis lamiang. Oleh sebab itu biasanya orang Dayak sangat menghargai agama yang dianut tamunya maka mereka akan bertanya agama yang dianut oleh tamu jika beragama islam maka biasanya ayam tadi akan diserahka ayam hidup, telur dan sayur-sayuran untuk dimasak sendiri, kecuali jika tamu tersebut tidak berkerbaratan. Dibawah salah satu tradisi penyambutan tamu oleh Dayak Siang di Kalimantan Tengah.
Kebiasaan lainnya, bila jalan didepan orang tua harus membungkuk badan sambil mengulurkan tangan kanan dan kalau bisa lewatlah saja dari belakang orang-orang tua.
Aturan umum bagi Orang Dayak adalah menghormati kaum wanitanya, maka sebaiknya ketika bertandang kerumah penduduk tanyakan dahulu apakah ada penghuni laki-lakinya dirumah itu, umumnya kalau di kampung Dayak Ngaju akan ditanya “Tege Mama kah tu huma?” – Ada om kah dirumah?, jika tidak ada sebaiknya urungkan untuk bertandangnya. Jika ada mintalah ijin apakah boleh masuk kerumah atau tidak?. Terlarang dalam adat berbicara dengan gadis ditempat yang tersembunyi, sebab kalau itu terhadi bisa dikenakan denda. Dan bila bertandang kerumah orang Dayak dan sedang berbicang dengan orang tua didalam rumah tersebut dan kemudian ada anak gadisnya JANGAN mengeluarkan suara “ehe-ehem” sebab bisa menimbulkan salah pengertian, jangan sekali-kali menggoda wanita Dayak sebab anda akan dicurigai oleh pemuda kampung tersebut dan gerak-gerik anda akan diawasi. Pada jaman dahulu ketika masih banyak wanita suku Dayak yang topless anda tidak diperkenankan memelototi buah dadanya apalagi menyentuhnya, sebab anda akan didenda adat. Setiap kampung tentu akan ada aturan atau pali / larangan / tabu, oleh karena itu alangkah baiknya jika bertandang ke kampung Dayak laporkanlah diri anda pada kepala kampung atau ketua adatnya.
sumber: https://folksofdayak.wordpress.com/2014/03/15/adab-bertandang-suku-dayak/
#SBJ
GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...
Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...
SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...