Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Kalimantan Selatan Banjar
5_ Tikus yang Malang
- 19 Mei 2018

Alkisah di dalam hutan yang berada di pinggiran hamparan sawah terdapat seekor tikus besar yang memiliki banyak simpanan padi. Setiap masa panen tikus itu mencuri padi-padi milik petani. Bulir demi bulir padi dikumpulkan di dalam rumahnya untuk berjaga menghadapi tibanya musim paceklik. Sebab di musim itu sawah petani akan mongering dan makanan sulit didapat.
Ketika tikus sedang menghitung jumlah bulir-bulir padinya seekor burung tekukur mengintipnya dari lubang rumahnya.
“Satu…dua…tiga…!” Tikus menghitung jumlah padinya. Tikus kemudian menghentikan hitungannya melihat bayangan burung tekukur yang menimpa padi-padinya.
“Hai, kenapa mengintip di situ?” Tanya tikus kemudian.
“Padimu banyak sekali, kawan!” sapa burung tekukur kemudian.
“Ya, susah-susah aku mengumpulkannya. Untuk persediaan musim paceklik mendatang!” jawab tikus singkat.
“Kawanku tikus, bisakah aku minta tolong padamu? Pinjamilah aku padi barang lima kaleng saja!” Kata tekukur ketika memasuki rumah tikus.
Tikus melipat tangannya, memikir-mikirkan permintaan tekukur.
“Kelak, akan kubayar enam kaleng!” kata tekukur meyakinkan.
“Boleh saja. Tapi, kapan kau akan membayarnya? Jangan terlalu lama!” sambung tikus.
“Nanti, setelah musim panen pasti aku akan membayarnya!” jawab tekukur.
“Baiklah!” Jawab tikus bersungguh-sungguh.
Setelah itu tikus menakar padinya sebanyak lima kaleng kemudian diserahkan kepada tekukur. Tekukur pun membawa pulang padi itu.
Setelah beberapa lama, musim menuai padi pun tiba. Tikus menunggu-nunggu padinya dikembalikan tekukur. Namun, pada musim itu tekukur bernasib sial. Dia tidak berhasil mengumpulkan padi sejumlah utangnya untuk dibayarkan kepada tikus. Jangankan untuk membayar utangnya kepada tikus, untuk makan satu keluarga saja hampir tak punya. Sementara tikus berharap-harap tekukur membayar utangnya sehabis panen.
Pagi-pagi sekali tikus berangkat ke rumah tekukur dengan maksud untuk menagih utang.
“Maaf kawan. Hari ini aku belum punya padi untuk membayar utang!”
Tikus pun pulang dengan tangan hampa.
Setelah ditunggu berhari-hari tekukur tak juga datang ke rumah tikus. Akhirnya tikus menyuruh anaknya untuk menagih utang ke rumah tekukur.
“Saya disuruh ibu mengambil padi utangmu”, ujar anak tikus.
“Wah, anak manis. Saya belum punya padi untuk membayar utang. Sampaikan kepada ibumu, besok akan kubayar. Sekarang ini aku belum punya!” jawab tekukur ringan.
Anak tikus itu pun pulang dengan tangan kosong. Ia menceritakan kepada tikus bahwa tekukur belum mempunyai padi untuk membayar utangnya.
Sejak saat itu tikus sering datang ke rumah tekukur untuk menagih utangnya. Kalau tidak, dia pasti menyuruh anak-anaknya. Meski demikian tidak juga membuahkan hasil. Tekukur tidak pernah memiliki padi untuk membayar utangnya.
Pada suatu hari, tikus datang ke rumah tekukur, kali ini ia nampak marah-marah sekali kepada tekukur.
“Kamu pembohong”, tuduh tikus berkecak pinggang. “Mana padi yang kaujanjikan itu? Kalau berani berhutang maka kamu harus berani membayar”, sambung tikus dengan geram.
“Tenang…tenang dulu kawan!” sambung tekukur sambil menjatuhkan sisir ke kolong rumah. Tikus masih saja memaki-maki tekukur.
“Baiklah, hari ini akan kubayar utangku”, kata tekukur kemudian.
Tikus terkesiap mendengar jawaban yang berbeda dari biasanya.
“Tapi, aku minta tolong ambilkan sisirku yang jatuh ke kolong itu!” sambung tekukur kemudian.
“Baiklah!” jawab tikus mantap, “Asal utangku dibayar!”
Tikus segera berjalan ke kolong rumah itu untuk mengambil sisir. Tetapi, ketika tikus berada di kolong rumah, tekukur menyiramnya dengan air panas. Tikus berteriak-teriak kesakitan. Badannya mengelupas karena kepanasan. Seluruh tubuhnya menjadi merah. Bulu-bulunya rontok. Tikus segera berlari ke rumahnya.
Sesampainya di depan rumah, anak-anak tikus menyongsong kegirangan.
“Ibu datang. Ibu datang bawa baju merah!” Teriak mereka sambil bertepuk tangan.
“Bodoh kalian semua,” bentak tikus kepada anak-anaknya.
“Bukannya ibu berbaju merah. Ini merah terkena siraman air panas. Perih dan sakit. Lihatlah, buluku rontok,” kata tikus sambil menahan rasa sakit.
Tikus kesakitan terkena air panas yang disiramkan tekukur. Kulitnya habis terkelupas. Anak-anaknya serentak menjadi sedih. Mereka mencari makan sendiri. Satu dua anaknya bergantian menunggu induknya yang sedang sakit.
Ketika menderita sakit, tikus mengucapkan janjinya, “Jika nanti kulitku telah pulih, bulu-buluku telah tumbuh, aku akan mengadakan selamatan pada bulan purnama!”
Tikus beristirahat di dalam rumah. Secara berangsur-angsur sakitnya pulih. Kulitnya yang telah terkelupas tumbuh berganti kulit yang baru. Bulu-bulunya pun perlahan-lahan tumbuh lagi.
Setelah benar-benar sembuh, tikus menunaikan janjinya. Ia dibantu anak-anaknya menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk upacara selamatan membayar nazar. Tikus segera menyuruh anaknya untuk mengundang para sahabat dan kenalan yang pandai mengaji. Anak tikus yang tertua segera pergi meninggalkan rumahnya.
Ketika sampai di tengah jalan tikus kecil itu berpapasan dengan kucing. Mereka sama-sama terkejut. Tikus bermaksud melarikan diri, namun diurungkan. Jika dirinya lari tidak mungkin dapat menyelamatkan diri karena kucing besar sudah berada di depannya.
“Waah, ada tikus kecil. Hmmm…kamu akan saya makan,” ujar kucing sambil menakut-nakuti.
“Jangan, aku jangan dimakan. Aku sedang disuruh ibuku mengundang sahabat-sahabat yang pandai mengaji,” kata anak tikus.
“Hmmm…..mengaji” Tanya kucing heran.
“Yah, ibuku akan mengadakan selamatan. Karena itu aku harus mengundang sahabat-sahabat yang pandai mengaji!”
“Kalau mengaji aku bisa!” jawab kucing.
“Coba kalau kau bisa mengaji. Aku akan mendengarnya dulu,” suruh anak tikus.
Tak lama kemudian terdengar suara kucing itu sedang mengaji.
“Ngeong, ngeong, ngeooong!” terdengar suara kucing memperdengarkan suaranya.
“Bagus sekali suara ngajimu! Nanti kuundang hadir pada waktu bulan purnama”, ujar anak tikus sambil tersenyum.
Setelah itu anak tikus melanjutkan perjalanannya mencari sahabat-sahabat yang bisa mengaji.
Tak lama berjalan dia bertemu dengan burung hantu.
“Oi, anak tikus mau ke mana kamu?” tegur burung hantu.
“Aku disuruh ibu untuk mengundang sahabat-sahabat yang pandai mengaji”, ujar anak tikus sambil memandang ke atas, ke tempat burung hantu bertengger.
“Wah, ada acara apa sih?” Tanya burung hantu.
“Mau membayar nazar ibuku,” jawab anak tikus.
“Wah, makan besar nih!” ujar burung hantu sambil tersenyum.
“Eh, kamu bisa mengaji nggak?”
“Bisa!” jawab burung hantu pendek dengan mata membelalak meyakinkan anak tikus.
“Coba dengar suaraku. Dut, dut, duut, nguik, nguiikkk”.
“Bagus, bagus”, seru anak tikus kegirangan setelah mendengar suara burung hantu.
“Kamu akan kuundang untuk hadir nanti di malam bulan purnama!”
Burung hantu menyanggupi undangan itu.
Anak tikus kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian bertemu dengan seekor anjing.
“Hei anjing”, sapa anak tikus.
“Hei, tumben kau jalan sendirian. Mau kemana?” sapa anjing.
“Aku disuruh ibu mencari sahabat-sahabat yang pandai mengaji. Nanti pada malam bulan purnama ibu akan mengadakan selamatan. Apa kamu bisa mengaji?”
“Bisa!” jawab anjing singkat.
“Nah, kalau begitu engkau kuundang hadir ke rumahku nanti pada waktu bulan purnama!”
Anjing menyanggupi undangan itu.
Anak tikus meneruskan perjalanannya. Tak lama kemudian bertemu burung taguk-taguk. Burung taguk-taguk itu ikut diundang oleh anak tikus.
Ketika menjelang sore hari, anak tikus telah kelelahan menyampaikan undangan-undangannya.
Setelah ditunggu-tunggu tibalah waktu bulan purnama. Upacara selamatan diadakan di rumah tikus. Para undangan berdatangan. Warga tikus ikut serta diundang. Induk tikus gelisah melihat tamu-tamunya. Semua binatang yang telah diundang anaknya biasa memakan daging tikus. Namun, melihat muka mereka yang amah, induk tikus menyembunyikan kekhawatirannya.
Setelah mereka berkumpul upacara selamatan segera dimulai. Rumah kecil itu menjadi ramai. Suaranya keras menghentak-hentak. Masing-masing mengaji.
Sampai lewat tengah malam tikus belum juga mengeluarkan hidangan untuk tamu-tamunya. Burung hantu berbisik-bisik kepada yang lainnya.
”Apabila aku bilang begini ‘ nguik…nguik…’ maka segera tiup lampu itu.” Burung hantu memberi syarat.
Anjing segera berbisik, “Bila aku berteriak, pintu dan jendela segera ditutup!” Mereka setuju.
Setelah warga tikus merasa asyik dengan nyanyian-nyanyiannya seketika burung hantu memberi tanda. Menyusul teriakan anjing. Suaranya nyaring menggetarkan lubang rumah itu. Lampu seketika menjadi padam, jendela dan pintu terkunci rapat.
Tak lama kemudian terdengar suara riuh bersahutan. Semua tamu undangan berebut menyambar tikus-tikus. Tikus-tikus itu menjadi santapan para tamu undangan. Kecuali satu ekor yang masih bersembunyi di dalam tiupan api. Yang satu ekor itulah kelak menurunkan tikus-tikus yang ada sekarang ini.

Sumber: https://aning99.wordpress.com/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker
Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu