Pada jaman dahulu hiduplah seorang kakek-kakek. Ia sangat miskin. Isterinya sudah meninggal. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang masih kecil sekali. Kakek itu sangat masgul hatinya, karena ia telah merasa bahwa tidak lama lagi ia pun akan mati. Ia tidak mempunyai apapun selain ilmu yang berasal dair gurunya dulu.
Pada suatu hari kakek itu memanggil anaknya, katanya : ”Nak, kemarilah, aku ingin berbicara kepadamu.” Anaknya men dekat, kemudian kakek itu berkata : ”Jangan terkejut, nak. Begi ni! Rasanya takdirku sudah sampai. Tak lama lagi aku akan mati, menyusul ibumu.”
Mendengar kata-kata bapaknya demikian, si anak lalu mena ngis. Si kakek bingung.
”Jangan bersedih hati, nak! Memang bapak tidak mempunyai apa-apa yang dapat kutinggalkan kepadamu. Namun jangan kuatir. Bapak mempunyai aji-aji (=mantra). Aji-aji yang akan kuwariskan kepadamu. Bunyi aji-aji itu demikian : ”Hai, ...... hai, ..... aku su dah tahu!” Baiklah, nak, aji-aji itu hendaklah kau hafalkan benar benar, ke mana saja kau pergi. Inilah yang membawa kau kepada kemuliaan kelak.”
Berselang tiga hari, orang tua itu pun meninggal. Anaknya menyadi yatim-piatu. Ia sangat bersedih hati. Tidak lama kemudian menjadi yatim-piatu. Ia sangat bersedih hati. Tidak lama kemudian ia pun pergi ke ibu kota kerajaan. Di sepanjang jalan tak henti hentinya ia merapalkan aji-ajinya itu.
Setelah berputar-putar dalam kota, akhirnya ia merasa haus dan lapar. Minta-minta kian-ke mari tiada seorang pun mau membe rinya minum atua makan. Akhirnya ia pun duduk beristirahat di depan seorang tukang cukur. Kebetulan tukang cukur itu sedang mencukur Raja. Untuk melupakan dahaga dan laparnya, anak kecil yatim-piatu itu merapalkan aji-ajinya dengan suara yang agak keras : ”Hai ...... hai...... aku sudah tahu! Hai ...... hai ...... aku sudah tahu!”
Si tukang cukur yang sedang mencukur sang Raja, begitu mendengar kata-kata anak kecil itu, tiba-tiba menjadi pucat. Pisau cukurnya dibuang dan ia pun bersujud di hadapan Raja. ”Patik mohon ampun beribu ampun, Tuanku. Patik hanya suruhan saja. Mohon ampun, Tuanku.”
Sang Raja sangat heran, lalu bertanya : ”Hai, mengapa kau mohon ampun? Apa kesalahanmu?”
Tukang cukur lalu berterus-terang. Sebenarnya ia disuruh oleh Patih untuk membunuh baginda, sebab Patih ingin menjadi raja. Kalau ia dapat membunuh baginda, maka ia akan mendapat hadiah. Tetapi anak kecil di depan itu telah mengetahui niatnya. Oleh karena itu ia memohon ampun. (Sebenarnya anak kecil itu tidak tahu apa-apa tentang rahasia si tukang cukur).
Raja lalu memberi hadiah kepada si anak kecil yatim piatu itu. Adapun Patih mendapat hukuman dipenggal kepalanya. Tukang cukur itu dipenjarakan.
Intisari dongeng : anak yang mematuhi nasehat orang tua akan mendapatkan kemuliaan.
Sumber: https://play.google.com/books/reader?id=gJkACwAAQBAJ&pg=GBS.PA46
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara