Alamat: Jl. Usman Isa No.kelurahan, Dembe I, Kota Bar., Kota Gorontalo, Gorontalo 96181 Kunjungi : https://goo.gl/maps/SCmya9SBpevsh8YcA Benteng Otanaha merupakan tempat wisata yang terkenal di Gorontalo. Tidak hanya karena nilai sejarah yang dimiliki, Otanaha menyuguhkan view alam yang sangat memanjakan mata pengunjung serta keunikan tempat yang menarik perhatian. Benteng Otanaha memiliki banyak cerita dan merupakan bukti bahwa bangsa Portugis pernah datang ke Gorontalo.
Sejarah Singkat Pada sekitar abad ke 15 daratan gorontalo masih sebagian besar diliputi air laut, ketika itu wilayah gorontalo sudah berbentuk kerajaan dibawah pimpinan raja ilato bersama permaisurinya. Suatu ketika bangsa portugis berlayar di pelabuhan gorontalo diduga karena mengalami hambatan cuaca buruk serta bajak laut. Nahkoda portugis memanfaatkan kejadian itu untuk bertemu raja ilato dan menjalin kerja sama yang menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat sistem pertahanan dan keamanan dalam negeri dengan pembangunan 3 buah benteng biasa terbuka pada tahun 1525.
Sekitar tahun 1585 naha menemukan ketiga benteng tersebut dan memperistri ohihiya kemudian lahirlah dua putra mereka yakni Pahu dan Limonu. Selama perang, keluarga ini memanfaatkan ketiga benteng itu sebagai pusat kekuatan dalam mempertahankan latar belakang kejadian ini. Benteng ini terdiri dari Benteng Otanaha sebagai benteng utama dan benteng lainnya bernama Otahiya dan Ulupahu.
Benteng Otanaha berasal dari kata Ota yang berarti benteng dan naha adalah nama yang menemukannya. Otanaha memiliki arti benteng yang ditemukan oleh Naha.
Benteng Otahiya berasal dari kata Ota dan Hiya. Hiya merupakan akronim dari ohihiya istri naha. Sehingga benteng Otahiya ini bermakna benteng milik ohihiya.
Benteng Ulupahu (Ulu dan Pahu). Ulu merupakan akronim dari Uwole yang berarti milik dari. Ulupahu ini sendiri memiliki arti benteng milik dari Pahu.
Area Benteng Selain pemandangan alam, pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai spot foto yang unik dan menarik. Sehingga tak jarang jika Benteng Otanaha ini ramai dengan pengunjung.
Benteng Otanaha,Otahiya maupun Ulupahu berbentuk lingkaran terbuka dengan dinding batu yang terbuat dari campuran putih telur burung male.. Pada area dalam benteng terdapat lapangan yang cukup luas dan dinding terdapat pemisah berupa sela yang simetris kanan dan kirinya. Khusus untuk Otahiya dinding tidak terdapat sela dan lebih tertutup.
Penulis : Tresiyani Mettasari - UK.Petra
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara