Pernahkah terlintas di pikiran kalian jika kodok bisa dikonsumsi? Mungkin terdengar aneh, namun nyatanya terdapat makanan khas dari daerah kecil di Jawa Tengah yang berbahan dasar daging kodok. Swike Kodok merupakan masakan khas Purwodadi berupa sup daging kodok. Hidangan ini menjadi makanan favorit yang cocok dimakan di cuaca dingin. Rasanya yang asam dan pedas sangat cocok dimakan dengan nasi hangat.
Hidangan ini merupakan pengaruh dari masakan Tionghoa di Indonesia. Istilah Swike berasal dari dialek Hokkian, kata ‘sui’ yang artinya air dan ‘ke’ yang artinya ayam. Dengan kata lain Swike dapat diartikan sebagai ‘ayam air’. Kenapa disebut ayam air? Nah, hal ini dikarenakan tekstur daging kodok sendiri setelah dimasak sangat mirip dengan daging ayam, bahkan jauh lebih lembut.
Kodok yang digunakan dalam hidangan ini yakni kodok hijau yang biasa ditemukan di sawah. Kodok akan dikuliti dan dicuci bersih baru kemudian dimasak. Daging kodok yang sudah bersih akan dimasak menggunakan kuah tauco dan beragam rempah rempah yakni jahe, bawang putih, merica, kaldu ayam, kecap manis, gula dan garam. Setelah matang akan ditaburi dengan daun seledri dan bawang goreng.
Hingga saat ini hidangan ini masih banyak diminati oleh masyarakat Purwodadi. Meskipun terdapat pro kontra terkait daging kodok yang disebut haram, namun hidangan ini masih exist hingga saat ini. Berdasarkan penelitian dari Sancio dkk (2022), daging kodok memiliki nilai gizi yang tinggi, kandungan protein yang tinggi dengan nilai biologis yang tinggi, indeks cerna yang baik, asam amino yang cukup tinggi dan rendah lemak, natrium serta kalori.
Tidak ada salahnya untuk mencicipi hidangan khas Purwodadi ini, akan sangat kurang afdol jika berkunjung ke Purwodadi tapi tidak mencoba Swike Kodok. Tempat makan legendaris di Purwodadi yang menjual Swike Kodok adalah Swike Cik Ping. Tempat makan ini berdiri sejak 1901 dan saat ini sudah dipegang oleh generasi kelima.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.