Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan Kalimantan Utara Malinau
Sop Kapurung Malinau
- 11 Juni 2020

Bahan: 1/2 kg tepung kanji 1/2 kg ikan bandeng sesuai selera sayur (bayam, katuk, jantung pisang, dan terong un 1 ltr air mendidih bumbu iris ikan : 1 jempol jahe 1 ruas kunyit 10 buah belimbing wuluh 1 btg serai 5 siung bawang putih 3 siung bawang merah sesuai selera pelengkap : kacang goreng sambal cabai tumis teri jeruk nipis kecap manis

Cara membuat:

  1. Bola - bola kanji : Tepung kanji diencerkan dg air dingin hingga larut. Lalu tuang air mendidih sambil terus diaduk tanpa henti sampai terbentuk bubur lengket berwarna bening. Dengan sendok, bentuk bubur sebesar baso lalu cemplungkan ke dalam air dingin, begitu seterusnya hingga bubur habis
  2. Ikan kuah kuning : Rebus hingga mendidih 1 1/2 ltr air bersama bumbu iris terkecuali belimbing wuluh. Masukan ikan yg sudah disiapkan lalu masak hingga matang. Bumbui dg garam, gula, msg sesuai selera. 1 menit sebelum diangkat, masukan belimbing. Ambil ikan, buang tulang2 halusnya, lalu suwir2 kasar, Sisihkan. Saring air kaldu ikan, sisihkan.
  3. Sayur : Rebus singkat bayam dan daun katuk, angkat, rendam dalam air es, sisihkan. Rebus jantung pisang hingga getirnya hilang, sisihkan. Bakar terong, kupas kulit hitamnya, haluskan, sisihkan.
  4. Sambal cabai tumis teri : Blender kasar cabai, bawang putih, serai, dan tomat. Tumis lalu masukan teri yg direndam hingga lunak. Bumbui perasa, angkat tanpa perlu terlalu kering.
  5. Penyajian : Ambil bola2 kanji sedikit ke mangkok, tambahkan sayur sesuai selera banyaknya. Tambahkan suiran ikan dan taburan kacang goreng. Siram dengan kaldu ikan. Agar lebih nikmat, tambahkan sambal cabai teri, jeruk nipis dan kecap manis
  6. Hidangkan panas - panas segera, selamat menikmati

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Wastra Indonesia merujuk pada kain tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia
Motif Kain Motif Kain
Bali

Wastra Indonesia merujuk pada kain tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia Identitas dan Asal-Usul Kain Gringsing merupakan salah satu jenis wastra tradisional Indonesia yang dikategorikan sebagai kain tenun langka [S3], [S4]. Dalam khazanah budaya nusantara, wastra merujuk pada kain tradisional yang berasal dari berbagai daerah dengan nilai filosofis serta simbolik yang merepresentasikan dimensi budaya masyarakat setempat [S1]. Kain Gringsing secara spesifik diakui sebagai salah satu contoh wastra yang dikenal luas di Indonesia di samping jenis kain tradisional lainnya seperti batik, songket, dan ulos [S1]. Secara geografis, kain ini berasal dari Desa Tenganan Pegringsingan, sebuah desa tradisional yang terletak di wilayah Bali Timur [S3], [S6]. Keberadaan kain ini sangat lekat dengan identitas masyarakat Bali Aga, yakni kelompok masyarakat asli Bali yang mempertahankan tradisi leluhur secara turun-temurun [S4], [S6]. Sebagai warisan budaya, kain tenun Pegrin...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Sekaten adalah Upacara Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan sejarah serta fungsi,
Ritual Ritual
Daerah Istimewa Yogyakarta

Sekaten adalah Upacara Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Asal-usul dan sejarah serta fungsi, makna, dan nilai budaya Identitas Ritual Sekaten adalah rangkaian upacara tahunan yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid Nabi) [S1][S3]. Ritual ini berlangsung selama delapan hari, dimulai pada tanggal 5 Rabi'ul Awal (Mulud dalam kalender Jawa) dan berakhir pada tanggal 12 Rabi'ul Awal dengan upacara penutup bernama Garebeg Mulud [S3]. Nama "Sekaten" sendiri berasal dari adaptasi istilah Arab syahadatain , yang merujuk pada dua persaksian (syahadat) dalam Islam [S1]. Komunitas pelaksana Sekaten adalah institusi keraton sebagai pusat ritual, dengan melibatkan masyarakat luas dalam prosesi dan perayaan [S2]. Lokasi utama penyelenggaraan adalah Yogyakarta, meskipun tradisi serupa juga dilaksanakan di Surakarta [S1]. Upacara ini bukan sekadar perayaan keagamaan, melainkan laku budaya-religius...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Penenun kain gringsing di Desa Tenganan
Motif Kain Motif Kain
Bali

Penenun kain gringsing di Desa Tenganan Identitas dan Asal-Usul Tenun Gringsing diklasifikasikan sebagai salah satu contoh wastra Indonesia yang memiliki makna dan simbol tersendiri [S2]. Kain tradisional ini tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga mengandung nilai filosofis dan merepresentasikan dimensi budaya masyarakat [S2]. Dalam konteks motif etnik, Gringsing dikenal sebagai kain yang sarat makna dan cerita budaya [S5]. Sentra produksi utama kain ini terletak di Desa Tenganan, Bali [S4]. Komunitas penenun di desa tersebut memegang tradisi pembuatan kain dengan teknik dobel ikat penuh [S4]. Istilah Geringsing merupakan serapan dari bahasa Bali yang merujuk pada objek budaya ini [S3]. Proses pembuatan kain ini melibatkan teknik rumit yang membedakannya dari jenis kain lain seperti batik [S2]. Status kain ini adalah sakral dan menyimpan sejarah serta filosofi tridatu dalam pola yang dihasilkan [S4]. Keberadaannya diakui sebagai bagian dari warisan budaya tekstil Nu...

avatar
Kianasarayu