6 porsi
1. secukupnya Nasi Pulen hangat
2. Bahan Rawon :
3. 250 gr Daging sapi rawonan, potong dadu
4. 250 gr Iga sapi/tulang sapi
5. 15 batang Daun bawang kecil, potong kasar saja
6. 1 batang Sereh Geprek (pilih yang besar)
7. 5 cm Lengkuas, geprek
8. 3 lembar Daun jeruk (krn saya punya yang kering, maka saya pakai 5 lbr)
9. 1700 ml Air untuk kuah
10. Bumbu Rawon yang di haluskan:
11. 6 siung Bawang merah
12. siung Bawang putih
13. 1 buah Cabe merah kering rendam air panas (2 buah kalau yang segar, buang biji)
14. 2 cm Jahe
15. 2 cm Kunyit
16. 1 iris Kencur (sedikit saja)
17. 1 sdt Asam jawa
18. 1/2 sdt Ketumbar sangrai
19. 10 butir Merica butiran
20. 1 sdt Kemiri (krn saya punya kemiri yang hancur dan di sangrai)
21. 3 buah Keluwak kualitas bagus, ambil dagingnya dan rendam air panas
22. Secukupnya Garam dan gula merah
23. Pelengkap:
24. Kerupuk udang
25. Kecambah pendek
26. Telur Asin
27. Sambal terasi
1. Tumis bumbu halus, lengkuas, sereh, daun jeruk dan garam serta gula merah sampai harum dan tanek, masukkan daging dan tulang ke tumisan bumbu halus. Aduk-aduk sampai bumbu tercampur dan daging kaku (fungsinya biar bumbunya meresap dan warnanya item sampai ke dalam daging). Masukkan air rendaman kluwak 1500 ml dan jika airnya menyusut tambahkan 200ml air. Setelah cairan kembali menyusut, angkat dari kompor. Sisihkan.
2. Jerang air sampai mendidih (pakai api besar aja langsung, biar cepet mendidihnya), setelah mendidih masukkan daging dan semua tumisannya. Biarkan kembali mendidih, lalu set api sedang. Biarkan berproses sampai daging empuk (kalau perlu tambahkan air jika kuah menyusut tetapi masih belum empuk, intinya kuah tetap 1500ml).
3. Note : proses masak seperti ini memang lebih lama dan harus sabar tapi hasilnya lebih enak, begitu kata mendiang emak saya. Kalau mau cepet pake aja panci presto.
4. Sesaat sebelum diangkat, masukkan daun bawang.
5. Penyajian : siapkan nasi panas di piring, siram dengan kuah dan dagingnya. Sajikan bersama pelengkap.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...