“Legenda Alam Gaib di Pantai Sambelia”
Di Lombok Timur
Karya : ARNIATI
Awal mula sebuah cerita legenda alam gaib di “pantai Sambelie” khususnya di Lombok Timur. Seorang perempuan cantik yang memiliki paras menawan sehingga bisa membuat laki-laki yang melihatnya tertarik, pada awal cerita ketika ada seorang laki-laki dan teman-temannya yang pergi mancing ke pantai tersebut, di pantai sambelie dia bertemu dengan seorang perempuan yang sangat cantik, pada saat itu laki-laki yang berinisial D tidak pernah membayangkan kalau itu adalah perempuan biasa karena tiba-tiba saja ada seorang perempuan berjalan di tepi pantai yang pada saat itu tidak mungkin ada, timbul di benak sang laki-laki bahwa pasti itu penunggu pantai akan tetapi laki-laki yang berinisial D masih ragu, tetapi tak lama kemudian perempuan itupun menghilang entah kemana. Dari sana laki-laki yang berinisial D ini bergumam dalam hati sambil berjalan pulang tanpa membawa satu ekor ikanpun. Sesampai di rumah dia melupakan kejadian tersebut akan tetapi di lain hari laki-laki berinisial D bertemu lagi dengan perempuan itu karna jika dia menyukainya maka dia menampakkan dirinya dengan nyata, akan tetapi hanya yang dia inginkan saja yang bisa di perlihatkan wujud aslinya. Teman-teman laki-laki yang berinisial D memang bisa melihat perempuan penunggu pantai tersebut akan tetapi laki-laki yang berinisil D ini tidak mau menghampiri perempuan itu hanya dia melihatnya dari kejauhan, teman dari laki-laki yang berinisial D yang menghampiri perempuan itu, tetapi mata perempuan itu tertuu pada laki-laki yang berisinial D perempuan itu mau yang membantunya adalah laki-laki yang berisinial D. Hanya yang dia tuju adalah seorang laki-laki yang berinisial D itu saja.
Ketika laki-laki yang berinisial D ini kembali lagi ke pantai sambelie untuk mancing maka perempuan penunggu pantai ini sengaja menyamar sebagai pedagang dan sengaja menjatuhkan barangnya sehingga laki-laki yang berinisial D ini dan teman-temanya sempat mau membantu tetapi perempuan tersebut hanya mau di bantu oleh laki-laki yang berinisial D, perempuan itu melihat laki-laki yang berinisial D sambil mengkedip-kedipkan matanya.
Pada hari selanjutnya laki-laki yang berinisial D tersebut lagi iseng-iseng pergi mancing ke pantai Sambelia khususnya di Lombok Timur, lama menunggu tidak ada satupun yang ia dapatkan, tiba-tiba saja perempuan penunggu pantai tersebut datang dan menghampiri laki-laki yang berinisial D, pada saat inilah laki-laki memanfaatkan moment-moment yang seperti ini supaya dia mendaptkan hasil dari pemancingannya yang dari siang sampai menjelang malam itu. Pada akhirnya lakai-laki yang berinisial D tersebut memintak perempuan penunggu pantai tersebut mendatangkan seisi laut, tidak lama kemudian di datangkan ikan dan cumi padahal pada saat itu tidak memungkinkan adanya ikan dan cumi karna air laut sudah naik. Sehingga jika kita berpikir secara logika maka tidak mungkin semua biota laut tersebut akan bisa langsung ad di tepi pantai tanpa ada yang menggerakkannya yaitu perempuan penghun pantai.
Beberapa minggu kemudian laki-laki yang berinisial D tersebut datang lagi dan pada saat itulah laki-laki yang berinisial D ini di ajak nikah oleh permpuan cantik penunggu pantai itu dan sempat laki-laki yang berinisial D di bawa ke alam si perempuan di sana laki-laki yang berinisial D di ajak untuk menikah tetapi laki-laki yang berisinial D menolak ajakan perempuan tersebut, sehingga laki-laki yang berisnilial D ini menceritakan bahwa dia sudah berkeluarga atau istri, dan anak-anak, yang tidak mungkin untuk meninggalkannya. Si perempuan penunggu pantai inipun tidak mengulurkan niatnya untuk nikah dengan laki-laki yang berisinial D tersebut.
Akhir cerita sampai sekarang inipun perempuan cantik danlaki-laki yang berisinial D masih bertemu, mereka menjadi teman, jika laki-laki yang berisinial D ini memintak bantuan maka perempuan cantik atau penunggu pantai tersebut akan membantunya langsung.
Sumber : https://www.tulismenulis.com/legenda-alam-gaib-di-pantai-sambelia-di-lombok-timur/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...