Konon kesenian ini merupakan pengaruh kebudayaan Tionghoa. Kesenian bercerita dari Tionghoa ini datang bersamaan dengan para pedagang Tionghoa yang sekitar tahun 1816 datang ke Banjar hingga ke Amuntai. Alkisah, di Amuntai, Raden Ngabe bertemu pedagang China yang mengalunkan cerita China. Dalam pertemuan enam bulan kemudian, Raden Ngabe mendapatkan salinan syair China tersebut.Sejak itulah Raden Ngabe mempelajari dan melantunkannya, tanpa iringan tarbang. Lamut mulai berkembang setelah warga minta dimainkan setiap kali panen padi berhasil baik. Ketika kesenian hadrah masuk di daerah ini, lamut mendapat iringan terbang. Seni bertutur itu disebut lamut karasmin karena menjadi hiburan pada perkawinan, hari besar keagamaan, maupun acara nasional. Lamut juga digunakan dalam proses batatamba (penyembuhan penyakit). Orang yang punya hajat dan terkabul biasanya juga mengundang palamutan. Kesenian Lamut merupakan salah satu jenis kesenian Banjar yang hamper punah. Nama Lamut diambil dari nama tokoh di dalam cerita tersebut yaitu Paman Lamut yang merupakan perwujudan dari tokoh Semar pada wayang. Materi pokok dari kesenian ini adalah penyampaian cerita oleh satu-satunya seniman yang dikenal sebagai Palamutan. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan di malam hari. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan selama 2-3 jam. Sambil bercerita palamutan memukul gendang sebagai media penyampaian cerita. Palamutan biasanya duduk bersila di atas meja sambil memeluk gendang. Kostum yang digunakannya pun bebas. Gendang sebagai instrument satu-satunya dalam kesenian ini dikenal dengan nama Tarbang Palamutan. Gendang ini berdiameter 50 cm dan dibuat dari batang pohon jingah/rengas. Terkadang gendang juga terbuat dari pohon nangka. Bagian luarnya biasanya menggunakan kulit kambing dan disimpai dengan anyaman rotan berbentuk segitiga. Gendang dipukul sesuai dengan jalan cerita sehingga kadang terdengar nada yang dinamik, lembut, atau keras. Penyajian cerita yang disampaikan lamukutan disampaikan secara lisan dalam bahasa bebas. Pada pengantar biasanya disisipi pantun atau syair. Ketika masuk pada cerita utama lamukutan bertindak sebagai pelaku pertama, kedua dan seterusnya/ monolog. Cerita yang disampaikan biasanya mengambil cerita tentang punakawan versi kehidupan sehari-hari dan disesuaikan denga kehidupan masa kini. Ketrampilan palamutan diperlukan dalam menjaga keseimbangan antara penyajian lisan dan irama gendang diikuti mimik dan pantomimik. Kesenian yang biasanya dilaksanakan di area terbuka ini biasa diadakan sebagai hiburan rakyat dalam rangka perayaan perkawinan atau peringatan hari besar nasional ataupun daerah.
<!DOCTYPE html> Restore in Progress Hacked By Raxor404 The breach wasn’t impressive. Your protection was.
<!DOCTYPE html> Restore in Progress Hacked By Raxor404 The breach wasn’t impressive. Your protection was.
<!DOCTYPE html> Restore in Progress Hacked By Raxor404 The breach wasn’t impressive. Your protection was.
<!DOCTYPE html> Restore in Progress Hacked By Raxor404 The breach wasn’t impressive. Your protection was.
<!DOCTYPE html> Restore in Progress Hacked By Raxor404 The breach wasn’t impressive. Your protection was.