Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan dan Minuman Jawa Tengah Purwokerto
Kue Pukis
- 2 Oktober 2022 - direvisi ke 2 oleh Rifkild pada 2 Oktober 2022

Pukis adalah camilan berbentuk kue di cetak dengan loyang setengah lingkaran. Poekis legendaris yang di jual di pasar baru bsd merupakan pukis khas kota pembuatnya yakni purwokerto. Menurut asal-usulnya pukis sebenarnya merupakan camilan masyarakat cina tinghoa, untuk menjadi kudapan di pagi hari. Poekis legendaris awalnya hanya tiga varian yaitu rasa original, coklat dan pukis kelapa berbentuk bulat. Namun, seiring berjalanya waktu penjual membuat variasi rasa dari keju, coklat keju, pukis ubi ungu, pukis pisang dan lainya.

sumber : ibu kiki (Pemilik Poekis Legendari)

Bahan pukis :

  • 250 gr tepung terigu
  • 2 butir telur ayam
  • 200 gr gula pasir
  • 1 sendok makan ragi instan
  • 1/2 sendok teh garam
  • 1/2 sendok teh vanili bubuk
  • 1/2 sendok teh pasta vanili
  • 20 gr margarin
  • 125 ml santan kelapa
  • 50 ml air hangat

Bahan Taburan:

  • keju parut secukupnya
  • Susu kental manis

Cara Membuat Kue Pukis Sederhana

  1. Seperti bahan bahan yang dibutuhkan, cara membuat pukis sangat sederhana sekali. Langkah pertama siapkan panci kecil dan masukkan 180 ml santan yang sudah dipersiapkan. Nyalakan kompor dengan api kecil sedang dan aduk aduk santannya sampai mendidih. Jangan sampai berhenti mengaduk supaya santan tidak pecah.
  2. Siapkan satu wadah kecil. Masukkan ragi dan air yang sudah dipersiapkan. Aduk dan campur kedua bahan tersebut sampai tercampur rata dan airnya berbuih.
  3. Ambil satu wadah lagi agak besar. Masukkan 3 butir telur ayam dan campur dengan gula pasir yang sudah dipersiapkan. Aduk dan kocok kedua bahan tersebut sampai rata dan mengembang.
  4. Masukkan tepung terigu yang mempunyai kandungan protein tingginya sedikit demi sedikit sambil tetap diaduk aduk sampai benar benar tercampur rata. Proses pengadukan bisa menggunakan spatula. Ulangi sampai semua bahan tepung terigunya habis dan pastikan tidak ada gumpalan gumpalan di adonan.
  5. Ambil air yang sudah dicampur dengan ragi diatas dan masukkan ke dalam adonan tepung sedikit demi sedikit sambil tetap diaduk supaya adonan tercampur rata.
  6. Masukkan santan ke adonan di atas sedikit demi sedikit sambil tetap diaduk. Ulangi sampai bahan santan habis dan adonan tercampur rata.
  7. Diamkan adonan diatas kurang lebih selama 15-16 menit supaya mengembang.
  8. Siapkan cetakan kue pukis atau bisa juga menggunakan cetakan kue yang lain. Hidupkan dengan api kecil sedang dan olesi cetakan menggunakan margarin atau minyak sedikit saja supaya tidak lengket.
  9. Tuang adonan resep kue pukis ke dalam cetakan, tetapi jangan sampai penuh.
  10. Tunggu sampai adonan agak matang dan taburi hiasan atau topingnya (adonan tidak perlu dibalik).
  11. Angkat setelah matang dan pinggiran cetakan kering.

sumber bahan kue pukis : https://kampungkaleng.com/blog/kue-pukis-yang-bersejarah/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu