Kebo Bule adalah kerbau albino yang dipelihara oleh Keraton Surakarta Hadiningrat. Bagi Keraton Surakarta, Kebo Bule merupakan pusaka kerajaan yang memiliki nilai keramat. Nilai ini didapat dari sejarah perjalanan Pakubuwono II pada abad ke-18 setelah melakukan pertapaan di bawah pohon Sawo Jajar. Menurut catatan sejarah, saat Pakubuwono II hendak kembali ke Kartasura, dia membawa pusaka yang memiliki nama Kyai Slamet. Dalam perjalanan tersebut, Pakubuwono II diwajibkan untuk membawa Kebo Bule sebagai pengiring perjalanan pulang.
Terdapat sumber lain yang mengatakan bahwa Kebo Bule merupakan kerbau pemberian dari Kyai Hasan Beshari Tegalsari Ponorogo kepada Pakubuwono II. Peristiwa tersebut berlangsung saat Pakubuwono II pulang dari Pondok Tegalsari setelah adanya peristiwa Geger Pacinan yang menghancurkan Kartasura.
Menurut pandangan masyarakat, Kebo Bule merupakan hewan yang memiliki kekuatan ghaib. Beberapa masyarakat juga menganggap bahwa Kebo Bule merupakan peruwujudan dari kakek sakti bernama Kyai Slamet. Sebagai hewan yang dianggap memiliki kesaktian dan daya magis, Kebo Bule seringkali diasosiasikan dengan hewan pembawa berkah. Anggapan tersebut tercermin melalui tindakan ngalap berkah (mencari berkah) pada malam Satu Suro. Masyarakat rela berdesak-desakan mengambil kotoran dan menyentuh badan Kebo Bule karena adanya kepercayaan akan mendapatkan berkah dan terhindar dari nasib buruk.
Kebo Bule selain menjadi hewan yang dikeramatkan, juga memiliki fungsi sebagai cucuk lampah (pengawal) dalam upacara perayaan malam Satu Suro. Malam Satu Suro merupakan perayaan setahun sekali yang diadakan oleh Keraton Surakarta untuk merayakan tahun baru Islam. Ide perayaan ini sendiri tidak muncul atas dasar kehendak murni keraton, akan tetapi diusulkan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1970. Tradisi ngalap berkah dari perayaan malam Satu Suro pun juga bukan ide dari Keraton, melainkan pesan yang memang secara simbolik dimaknai oleh masyarakat sebagai sesuatu kegiatan yang dapat mendatangkan keberkahan.
Bagi kalian yang penasaran dengan eksistensi Kebo Bule dan ingin melihatnya secara langsung silahkan berkunjung ke Alun-Alun Kidul Surakarta. Di sana Kebo Bule dapat dilihat secara dekat dan jika ingin menyentuhnya secara langsung dapat dengan cara memberinya makanan berupa rerumputan. Biasanya di dekat kerbau tersebut tinggal, terdapat orang-orang yang menjual rerumputan sebagai pakan.
Untuk kalian yang sama sekali belum pernah melihat Kebo Bule, berikut penampakannya yang saya abadikan menggunakan kamera HP dan gambar dari solopos.com
Dodol Kinca merupakan kuliner tradisional khas Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat, yang dikenal dengan cita rasa manis legit serta teksturnya yang khas. Berbeda dari dodol pada umumnya, dodol ini dibuat dari campuran buah kinca (kawista) dan gula, dengan tambahan sedikit tepung tapioka sebagai pengikat, yang dimasak hingga mengental. Buah kinca sendiri adalah sebutan lokal untuk buah kawista, yang memiliki perpaduan rasa manis dan asam dengan aroma yang khas. Selain varian manis, Dodol Kinca juga memiliki variasi rasa pedas yang memberikan sensasi unik. Hidangan ini tidak hanya menjadi sajian khas, tetapi juga mencerminkan identitas kuliner serta tradisi masyarakat Bima dan Dompu.
Rimpu merupakan tradisi busana khas perempuan suku Mbojo di Bima, Nusa Tenggara Barat, yang dikenakan dengan menggunakan dua lembar kain sarung untuk menutup kepala hingga seluruh tubuh. Lebih dari sekadar pakaian, Rimpu merepresentasikan nilai kesopanan, identitas budaya, serta ketaatan terhadap ajaran Islam. Tradisi ini memiliki beberapa bentuk, di antaranya rimpu mpida yang dikenakan oleh perempuan belum menikah dengan menutup seluruh wajah kecuali mata, serta rimpu colo yang digunakan oleh perempuan yang telah menikah dengan memperlihatkan wajah. sumber gambar: https://etnis.id/menjaga-spirit-budaya-rimpu-di-tanah-rantau/
Beberuk Terong atau yang biasa disebut dengan Rusu/Lasuk oleh masyarakat Lombok adalah makanan khas Lombok yang terbuat dari terong bulat mentah yang dipotong kecil-kecil dan dicampur sambal tomat yang pedas, cukup mirip dengan sambal pelecing. Beberuk Terong biasanya disajikan sebagai pelengkap untuk makanan utama seperti ayam taliwang, sate rembiga, atau ikan bakar. Membuat Beberuk Terong ini sangat mudah dan hanya menggunakan bahan-bahan sederhana yang sering kita gunakan di dapur. Berikut bahan-bahan dan cara pembuatan Beberuk Terong: Bahan Terong bulat hijau/ungu Kacang panjang (opsional) Cabai rawit Bawang merah Tomat Terasi Jeruk Limau Garam Sedikit minyak goreng Cara Pembuatan Potong kecil-kecil terong bulat, bisa dipotong dadu atau diiris Potong kecil-kecil kacang panjang, jika menggunakan kacang panjang Untuk sambalnya, uleg kasar cabai rawit dan juga terasi Masukkan irisan bawang merah dan tomat, uleg kasar Tambahkan garam dan aduk ra...
SEJARAH SINGKAT Songket Palembang memiliki akar sejarah yang panjang, berawal dari masa Kerajaan Sriwijaya. Menurut buku Seni Kriya Nusantara karya Deni Setiawan, songket sudah dikenal sejak masa kejayaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi, ketika Palembang menjadi pusat perdagangan internasional di tepi Sungai Musi. Banyak peninggalan budaya berupa wastra (kain tradisional) ditemukan. Salah satunya adalah kain songket yang menjadi bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya sebagai penguasa jalur perdagangan di Selat Malaka. Hubungan dagang dengan India, China, dan Arab membawa pengaruh besar terhadap teknik dan motif songket. Dari China datang benang sutra, dari India benang emas dan perak. Perpaduan inilah lahir kain songket Palembang yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Melayu-Sumatera. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, songket digunakan sebagai simbol kebesaran dan status sosial. Para bangsawan dan keluarga kerajaan mengenakannya dalam upacara resmi. Beberapa mo...
BAHAN-BAHAN Kuah 250 gr udang ukuran sedang 250 ml santan kental 4 sdm kecap asin 4 sdm tepung terigu 1 sdt gula pasir 1 liter kaldu udang Bumbu Halus 2 sdm ebi, rendam dengan air hangat 8 butir bawang merah 5 siung bawang putih 1/2 sdt merica butiran 2 sdt garam Pelengkap 500 g mie kuning segar 100 gr tauge seduh 2 butir telur rebus, belah dua 5 sdm bawang goreng 1 sdm daun seledri iris 2 sdm daun bawang iris jeruk limau CARA MEMBUAT Kuah: Kupas udang, sisihkan kepala dan kulitnya. Cincang udang dan sisihkan. Rebus dengan air untuk mendapatkan kaldu udang. Gunakan api kecil sampai air berubah kemerahan. Kemudian takar sebanyak 1 liter dan saring kaldu, sisihkan. Tumis bumbu halus sampai harum. Masukkan potongan udang, masak sampai udang berubah warna. Tuangi kaldu udang, santan kental dan ebi. Aduk hingga rata. Masak sampai kuah mendidih. Bumbui kecap asin, merica, garam dan gula. Larutkan tepung terigu dengan sedi...