Jamu kunir asam merupakan minuman herbal yang berbahan dasar kunyit dan asam jawa. Jamu kunir asam sendiri tidak memiliki efek samping dan tidak beracun. Manfaat jamu kunir asam sudah teruji. Jamu kunir asam memiliki manfaat untuk menyegarkan tubuh, meningkatkan fungsi otak, meningkatkan daya tahan tubuh, selain itu juga bisa dimanfaatkan untuk melancarkan dan mengurangi nyeri pada saat haid. Warna orange pada jamu kunir asam berasal dari bahan dasarnya yaitu kunyit. Jamu ini biasanya dimasukan dalam botol-botol berbentuk tabung. Jamu kunir asam memiliki rasa manis tidak telalu pahit, rasa manis yang dihasilkan berasal dari gula jawa. Jamu kunir asam biasanya juga dibuat dengan mencampurkan temulawak, biji kedawung dan air perasan jeruk nipis kedalamnya.
Jamu kunir asam dibuat dengan cara menumbuk kunyit terlebih dahulu pada lumpang, kemudian masukan tumbukan kunyit tersebut pada air mendidih dan direbus. Setelah itu masukan gula jawa sesuai takaran manis yang diinginkan. Ketika sudah mendidih, rebusan tersebut didiamkan terlebih dahulu agar lebih dingin, kemudian disaring menggunakan saringan. Rebusan yang sudah disaring kemudian dimasukan ke botol-botol untuk dijual. Para penjual jamu menjualkan jamunya dengan cara memasukan olahan jamu tersebut kedalam botol-botol yang kemudian disusun di dalam bakul. Bakul tersebut oleh penjual kemudian di gendong. Para penjual menjualkan jamunya biasanya dengan berkeliling setiap hari. Akan tetapi karena sudah mengalami perkembangan zaman banyak penjual jamu sudah tidak menggunakan cara tersebut untuk menjualkan jamunya.
Keberadaan jamu pada saat ini masih cukup eksis dikalangan masyarakat walaupun sudah banyak produk-produk minuman yang semakin bermacam-macam. Jamu dijadikan sebagai obat untuk masyarakat dalam menjaga Kesehatan. Akan tetapi cara penjualan jamu sendiri pada saat ini sudah mengalami perkembangan. Banyak para penjual jamu sudah menggunakan kendaraan untuk menjualkannya. Sehingga sudah jarang dijumpai para penjual yang berpakaian kebaya atau batik, kemudain kain jarik gendong untuk mengendong jamu dan juga bakul sebagai wadah botol, gelas dan botol jamu, termos bahkan serbet dan ember kecil juga sudah jarang dijumpai. Banyak juga para penjual yang menjualkan jamunya di media sosial dan mereka menjualkan dengan menambahkan kemasan yang unik dan menarik sehingga sudah jarang lagi menjual jamu dengan di gendong. Cara tersebut juga bisa menjadi solusi untuk menarik kalangan anak muda untuk mengkonsumsi jamu. Karena masih banyak anak-anak muda yang tidak suka mengkonsumsi jamu karena mereka berpikir jamu merupakan minuman yang pahit dan tidak enak.
Sumber Referensi : https://www.anta-news.com/kesehatan/9-manfaat-jamu-asam-kunyit/ (Diakses Pada Tanggal 31 Maret 2021 Pukul 09.04) Sumber Referensi : https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/aria-nisa/7-hal-ini-yang-sudah-jarang-dilihat-dari-penjual-jamu-gendong-zaman-sekarang/3 (Diakses Pada Tanggal 31 Maret 2021 Pukul 09.15)
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara