Menu khas pedesaan ini telah menghiasi daftar menu di restoran sederhana dipinggir jalan Raya Semampir Banjarnegara, sangat spesial karena jarang sekali menjumpai menu seperti ini, ikan wader ukuran kecil sepintas mirip ikan teri digoreng garing dihidangkan bersama urap (kluban). Menu lainnya yang tak kalah lezat diantaranya Ayam bakar, Gurame goreng, Nila goreng, Nila bakar, dan yang terakhir inilah yg paling unik ikan kali goreng garing. Ikan kali dari jenis wader tersedia berbagai ukuran, dari yang sebesar kelingking sampai ukuran telapak tangan dewasa. Rumah Makan “Sari Rahayu” yang terletak di Jl. Raya Semampir Km.4 Banjarnegara (0286-595124) sengaja menjajakan menu ini sebagai daya tarik tersendiri. Langkanya komoditas ikan wader di pasar-pasar tradisional membuat banyak orang tertarik ingin mencicipi gurihnya daging wader. Ikan wader tergolong jenis ikan yang hidup di sungai. Di RM Sari Rahayu ikan wader disulap menjadi menu andalan yang paling digemari. Ikan digoreng disajikan bersama urap (kluban) atau lalapan. Sayuran yang dipakai biasanya adalah kubis dan sedikit kemangi serta beberapa potong irisan mentimun yang disajikan di atas cobek (layah). Satu lagi yang tak mungkin ditinggalkan adalah sambal terasi.
Untuk sambalnya, Anda pun bisa memesan sesuai selera. Bisa yang mentah atau jenis sambal matang. Mau yang pedas, sedang atau bahkan sangat pedas sekalipun, pramusaji di restoran ini akan memenuhi. Dengan sepiring nasi putih dan menu ikan wader goreng menjadi terasa lebih komplit. Hmm, melihatnya saja, sudah mampu menggugah selera makan ini. Menu ikan segar ini pas sekali disantap pada waktu makan siang. Apalagi pas lagi lapar seusai beraktifitas, hmmm bener-bener mak..nyuuus.!!! Ikan wader di alam liar memakan semua makanan yang ada di alam alias omnivora. Ia makan berbagai jenis makanan seperti telur ikan lain, lumut dan berbagai jenis serangga air. Ikan ini termasuk ikan yang rakus bahkan bersifat karnivora karena ia juga makan telur ikan wader lainnya yang ada di perairan.
sumber: http://budparbanjarnegara.com/pariwisata/cindera-mata/kuliner-khas/ikan-teri-sungai/
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...