Gulai Nila Merah Khas Karo Bumbu dari daerah Sumatera Utara(salah satunya suku karo) banyak yang unik unik dan cita rasa yang sangat khas.....selengkapnya Enni Royani Ginting Enni Royani Ginting Jakarta Barat Bahan-bahan 1 kg Ikan Nila Merah 1 buah jeruk nipis/lemon 5 Lembar daun jeruk 1 buah tomat 1 bungkus santan kara 1/4 kacang panjang 4 buah terong medan secukupnya Garam Bumbu dihaluskan : 13 buah cabe rawit atau sesuai selera 5 siung bawang merah 2 siung bawang putih 1 ruas jahe 1 ruas kunyit Sejemput andaliman 2 buah kemiri Bumbu yang digeprek : 3 buah asam cekala 3 buah sere 1 ruas lengkuas Langkah Cuci bersih ikan Nila merah lalu peras jeruk nipis ke ikan dan ditambahkan sedikit garam. Diamkan sekitar 5-10menit untuk menghilangkan bau amis pada ikan.
Gulai Nila Merah Khas Karo langkah memasak 1 foto Siapkan bumbu yang dihaluskan dan bumbu yang digeprek jg.potong2 kacang panjang dan terong di wadah yang sudah diberi air..dipotong2 sesuai selera...untuk terong dan kacang optional...boleh diganti dengan yang lain sesuai selera...untuk teman2 sekedar info andaliman dan asam cekala kalau di daerah jakarta saya biasa beli di pasar senen atau di pasar yg penjual bumbu biasanya ada kalau penjual dari sumut.
Gulai Nila Merah Khas Karo langkah memasak 2 foto Gulai Nila Merah Khas Karo langkah memasak 2 foto Gulai Nila Merah Khas Karo langkah memasak 2 foto Siapkan wajan dan tuangkan 4-5 gelas air dan dimasukkan semua bumbu sekaligus beserta ikan dan diberi 1 sendok teh garam ditutup dengan tutup panci dan dimasak sampai air menyusut.Apabila air sudah menyusut ditambahkan santan kara dan ditambahkan kembali air 1 gelas
Gulai Nila Merah Khas Karo langkah memasak 3 foto Gulai Nila Merah Khas Karo langkah memasak 3 foto Kalau santan sudah mendidih dimasukkan kacang panjang dan terong sekaligus.Setelah 5 menit ditambahkan tomat diiris2.masak sampai agak kering...dan sambil di cicip rasa garam nya sesuai selera
Gulai Nila Merah Khas Karo langkah memasak 4 foto Nila merah gulai gulai khas karo siap dihidangkan untuk keluarga tercinta....😊😊
Gulai Nila Merah Khas Karo langkah memasak 5 foto
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara