Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita rakyat Nusa Tenggara Barat Lombok
Duka Lala Seruni
- 21 Februari 2021

Kisah ini dimulai tatkala Raja Lombok masih beragama Hindu, demikian pula sebagian besar rakyatnya.

Pada suatu malam, ketika bulan purnama, Raja Lombok, Prabu Kertajagat, pergi bersembahyang ke Pura Kayangan.Prabu Kertajagat, pergi bersama istri dan keluarga kerajaan. Pendeta Istana, para patih, punggawa, dan pembesar negeri ikut pula dalam rombongan itu.

Malam bersinar terang benderang, di sekitar pura dipasang lampu minyak kelapa sehingga pelataran pura itu semakin terang. Para patih dan punggawa ikut bersembahyang dengan khidmat.

Kebetulan di pura itu hadir pula sepasang pengantin baru bernama Demung Sandubaya dan istrinya, Lala Seruni. Sandubaya adalah adik Demung Brangbantun, sedangkan Lala Seruni anak dari Rangga Bumbang. Mereka adalah sepasang pengantin yang baru sebulan menikah.

Saat itu Raja sempat melihat wajah Lala Seruni yang cantik jelita. Raja terpesona melihat kecantikan Lala Seruni. Kecantikan Lala Seruni seolah memudarkan semua wanita yang ada disitu, bahkan termasuk permaisuri raja tiada mampu menandingi daya pesona dari wajah Lala Seruni.

Cahaya wajah Seruni bagaikan bulan purnama yang sedang bersinar di langit. raja langsung tergila-gila kepadanya dan ingin memperistri. Ketika hal itu disampaikan kepada menterinya, maka suasana jadi rikuh. Sebab wanita yang diinginkan raja jelas sudah bersuami.

Pendeta Istana dan para patih menjadi gelisah, namun mereka tak berani menolak keinginan sang Raja. Kemudian, para pembesar negeri berunding. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengambil Lala Seruni sebagai istri raja. Lalu, mereka mencari cara untuk memisahkan Sandubaya dengan Lala Seruni, istrinya.Rencana diatur rapi. Sandubaya sengaja diajak pergi berburu ke hutan Gebong.

Pada malam harinya sebelum berangkat ke hutan Gebong, Lala Seruni memperingatkan suaminya akan niat busuk raja. Ia melarang suaminya pergi berburu bersama raja. Sandubaya menolak bujukan istrinya karena tidak mau ingkar kepada raja untuk ikut berburu.

"Istriku Lala Seruni, relakanlah aku pergi ke hutan Gebong. Bila aku menemui ajal di situ, akan kunantikan arwahmu di Menanga Baris (daerah di lombok)," kata Sandubaya kepada istrinya. Sandubaya diam sejenak, lalu meneruskan pesannya,"Istriku, bila nanti kudaku, si Gagar Mayang pulang sendiri, itu tandanya aku sudah mati. Segeralah engkau mencariku ke hutan Gebong!"

Lala Seruni menangis sedih mendengar pesan suaminya itu.

Pagi-pagi sekali berangkatlah Sandubaya bersama rombongan raja ke hutan Gebong. Sewaktu Sandubaya sedang asyik mengejar rusa, tiba-tiba beberapa orang prajurit menombaknya dari belakang. Sandubaya pun terjatuh dari kudanya dengan berlumuran darah.

Kuda Gagar Mayang segera berlari pulang. Anjing pemburu Sandubaya yang bernama si Getah menyerang para prajurit. Akan tetapi, si Getah ditombak dan mati bersama tuannya.

Lala Seruni yang gelisah menunggu kedatangan suaminya, melihat Gagar Mayang pulang sendirian. Tahulah ia bahwa suaminya telah dibunuh. Ia segera melompat ke punggung Gagar Mayang dan secepat kilat menuju hutan Gebong.

Sampai di tempat suaminya terbunuh, Lala Seruni turun dari kuda. Ia memeluk mayat suaminya sambil menangis dengan derai air mata. Luka-luka suaminya diusap dengan rambutnya yang panjang lebat.

Gagar Mayang menyepak-nyepak tanah untuk membuat kubur. Ketika matahari akan terbenam, Sandubaya dikuburkan dibawah sebatang pohon maja. Keluarga dan kerabat hadir pula di situ dalam keadaan sedih.

Esok harinya, datanglah rombongan raja ke rumah Lala Seruni. Mereka ingin membawa Lala Seruni ke istana. Lala Seruni memberontak, tetapi tidak berdaya melawan para prajurit. Patih Lombok juga ingin mengambil Gagar Mayang, tetapi kuda itu marah. Dia menggigit dan dan menyepak sang patih sampai luka parah. Patih marah, diperintahkannya para prajurit menombak si Gagar Mayang sampai mati.

Lala Seruni dibawa ke istana dengan tandu dalam keadaan tak sadarkan diri, pingsan. Sesampai di istana, ia mengamuk seperti orang gila. Berhari-hari ia tidak mau makan dan minum. Raja sangat sedih dan berusaha membujuk Lala Seruni setiap hari.

Suatu hari, mendadak Lala Seruni berubah menjadi tenang. Ketika raja mendekatinya, ia minta agar sebelum dinikahi, hendaknya ia diberi kesempatan untuk mandi di pantai Menanga Baris.

Raja sangat bersuka cita mendengar permintaan Lala Seruni. Lalu dipanggilnya patih untuk mempersiapkan para pengiring. Tidak lama kemudian, berangkatlah Lala Seruni bersama raja dan rakyat menuju Menanga Baris.

Di Menanga Baris mereka mandi sambil bersuka ria. Tiba-tiba dari tengah lautan datanglah sekuntum teratai berwarna merah. Teratai itu menyala seperti api yang bercahaya. Lala Seruni minta untuk dipetikkan bunga teratai merah itu. Raja memerintahkan para prajurit untuk memetik bunga teratai itu. Begitu para prajurit turun ke laut, mereka diserang sekelompok ikan laut dan kerang. Mereka menjerit kesakitan. Banyak prajurit terluka parah.

Akan tetapi, Lala Seruni tetap meminta raja agar memetik teratai itu. Akhirnya Prabu Kertajagat sendiri berenang ke tengah laut. Ketika raja berenang, datang beratus-ratus ikan menyerangnya. Raja berteriak minta tolong. Dengan cepat, patih menyelamatkan rajanya yang sudah pingsan diserang ikan dan kerang.

Teratai merah semakin menepi ke arah Lala Seruni. Lala Seruni berdiri di tepi ombak menanti teratai mendekatinya. Setelah dekat, ia melompat keatas bunga teratai merah itu. Kemudian, teratai merah pergi membawa Lala Seruni ke tempat penantian suaminya di alam arwah.

Demung Brangbantun, kakak Sandubaya, sangat marah mendengar berita kematian adiknya.

"Hai Raja bengis, tunggu pembalasanku!" teriaknya di depan para pengikutnya. Ia mempersiapkan pasukan untuk memberontak kepada Raja Lombok.

Pasukan Brangbantun sangat gesit dan sakti. Mereka mengendarai kuda-kuda yang sangat kencang larinya. Namun jumlah pasukan Raja Lombok sangat besar sehingga pasukan Brangbantun tidak segera dapat mengalahkan pasukan Raja Lombok.

Sebaliknya Raja Lombok sangat yakin, bahwa dengan kekuatan pasukannya yang berjumlah besar itu akan dapat menumpas pasukan Brangbantun. Pasukan Branbantun ternyata sangat cerdik. Mereka mengadakan serangan Gerilya. Hanya sesekali bertempur secara terbuka. Dengan cara ini dan dalam tempo satu bulan, pasukan Raja Lombok dapat dikalahkan di medan pertempuran. Raja Lombok sangat kecewa mendengar berita kekalahan pasukannya.

"Sungguh memalukan, pasukanku yang berjumlah besar ternyata dikalahkan Pasukan Brangbantun yang hanya tak seberapa itu!" pekik Raja Lombok dengan berang. Untuk melarikan diri sudah tidak mungkin. Pasti di tengah jalan ia akan ditangkap dan dilempari batu oleh seluruh rakyat yang membencinya.

Dalam keadaan putus asa, Prabu Kertajagat membenturkan kepalanya ke batu sampai pecah. Matilah raja kejam itu. Mayatnya dibakar di Pura Kayangan dan abunya dibuang di Selat Alas.

Sebagai pengganti Prabu Kertajagat, diangkatlah Prabu Rangkasari. Prabu Rangkasari berbeda sifat dengan Prabu Kertajagat. Beliau sangat tidak menyukai peperangan. Begitu naik tahta, patih segera diperintahkan untuk memanggil Demung Brangbantun.

Prabu Rangkasari mengajak Demung Brangbantun untuk berdamai. Demung Brangbantun menerima ajakan damai itu.

"Paman Demung Brangbantun, marilah kita hentikan peperangan ini. Bukankah Paman keluarga kami juga? Tak ada gunanya kita terus berperang. Jika perang diteruskan, rakyatlah yang akan menjadi korban, mereka jadi sengsara dan harta benda akan musnah. "

Demung Brangbantun berkata dengan lembut," Paman menerima dengan senang hati ajakan Tuanku. Paman sendiri tak suka berperang, tetapi bila kami disakiti, pastilah kami melawan. Jika Tuanku menjual, kami akan beli."

Prabu Rangkasari berkata lagi," Paman Brangbantun, sebagai ganti perang dengan senjata, kita berperang saja dengan makanan. Pasukan paman membawa senjata makanan berupa kue-kue dan buah-buahan. Pasukan saya akan membawa senjata yang berasal dari laut, seperti ikan, kerang dan penyu."

Kedua pihak setuju untuk berperang dengan cara aneh tersebut. Pasukan Prabu Rangkasari pergi ke latu mengumpulkan berbagai jenis ikan, seperti cucut, guritam cumi-cumi, tongkol, kerang mutiara, dan penyu. Pasukan Brangbantun sibuk membuat kue, ketupat, dan mengumpulkan buah-buahan seperti labu, pisang, mangga dan jeruk.

Tepat di hari yang telah ditentukan, berkumpullah pasukan Prabu Rangkasari dan Pasukan Demung Brangbantun di sebuah lapangan. Kemudian kedua pasukan mulai melakukan permainan perang bersenjatakan aneka makanan. Permainan ini sangat meriah dan tampak sangat lucu. Kedua pasukan saling melempar makanan yang dipakai sebagai senjata.

Setelah permainan itu selesai, kedua pasukan menyatu membentuk tali persahabatan. Sejak itu, Kerajaan Lombok menjadi aman dan tenteram. Kehidupan rakyat damai dan sejahtera. Raja memerintah dengan arif dan bijaksana.

Pemimpin atau penguasa yang bertindak kejam dan semena-mena pasti akan mendapat balasan setimpal. Sedangkan pemimpin yang bijak dan arif pasti akan dicintai rakyatnya.

Sumber : Buku Cerita Rakyat Lombok /NTB (Kisah Raden Panji dan Lala Seruni) Penyusun: MB. Rahimsyah Gambar: Irsyadul Anam Penerbit: Mitra Cendekia Surabaya Setting: Syaiful Tanjung

Sumber : http://www.ceritadongenganak.com/2015/02/duka-lala-seruni-cerita-rakyat-lombok.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum