Makanan Minuman
Makanan Minuman
Pengetahuan Tradisional Jawa Barat Depok
Dodol Belimbing Khas Kota Depok
- 18 Maret 2020 - direvisi ke 2 oleh Adinda Paramita pada 18 Maret 2020

Dahulu Kota Depok merupakan bagian dari Kabupaten Bogor. Depok baru menjadi kota sejak tahun 1999. Depok terletak di selatan Jakarta yaitu antara Jakarta dan Bogor. Depok merupakan kota dengan ikon buah belimbing. Di Depok sangat terkenal belimbingnya. Banyak sekali olahan buah belimbing di kota ini, yaitu:

  1. Dodol belimbing
  2. Sirup belimbing
  3. Nastar belimbing

    Tetapi yang paling terkenal adalah dodol belimbingnya. Dodol belimbing juga merupakan salah satu oleh-oleh khas Kota Depok. Cara pembuatannya cukup memerlukan waktu yang lama, sama hal nya dengan dodol lain.

Resep atau cara membuat dodol belimbing : Bahan bahan :

  • 100 gram Belimbing
  • 400 gram Gula Pasir
  • 1 liter Santan
  • 100 gram Tepung beras ketan
  • 100 ml Labu Air
  • Secukupnya Plastik dan kertas minyak untuk membungkus

Cara membuat :

  • Cuci belimbing lalu buang bijinya
  • Blender belimbing, hasilnya tidak begitu hancur. Biarkan saja kasar tidak usah disaring.
  • Siapkan 400 gram gula.
  • Siapkan 1 liter santan kental
  • Timbanglah 160 gram tepung beras ketan merk rose brand
  • Cairkan tepung beras ketan dengan 300 cc air. Aduk rata.
  • Campur semua bahan dan masak sampai mengental dengan api kecil.
  • Aduk-aduk terus sampai adonan dodol berubah warna menjadi coklat tua.
  • Setelah mengental dan tidak lengket di tangan, dinginkan. Kemudian masukkan ke dalam kulkas agar lebih kering dan bisa dipulung.
  • Bungkus sedikit2 ke dalam plastik.
  • Kemudian bungkus lagi dengan kertas minyak.
  • Dodol belimbing siap disajikan.

    Salah satu UMKM yang membuat dodol belimbing ini adalah UMKM Dewa di Sawangan Kota Depok. UMKM ini memang khusus membuat oleh-oleh khas Kota Depok, selain dodol belimbing juga ada jus belimbing, sirup belimbing, wingko belimbing, dan mayonnaise belimbing. (Nita, 2016)

Daftar Pustaka

Bakar, A. (2019, Juni 17). Resep Dodol Belimbing Makanan Khas Depok. Dipetik Maret 17, 2020, dari Siaran Depok: https://www.siarandepok.com/baca/20190617/resep-dodol-belimbing-makanan-khas-depok.html Yonavilbia, E. (2016, Oktober 4). UMKM Kota Depok Produksi Ikon Belimbing Dewa. Dipetik Maret 17, 2020, dari InfoPublik: http://infopublik.id/read/173654/umkm-kota-depok-produksi-ikon-belimbing-dewa.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu