Cipera Ayam Jamur (Masakan khas Karo) Cipera adalah makanan Khas dari Karo, dimana bahan utamanya adalah ayam kampung. Bila ditambahkan jamur tiram at...selengkapnya Arita Arita Kabanjahe Bahan-bahan 10 porsi 1,5 kg ayam kampung 1,5 butir kelapa, dijadikan 2 liter santan 600 gr jamur tiram (boleh ditambah sampai 600 gr lagi) 150 gr tepung cipera 15 siung bawang merah 10 siung bawang putih kampung 1 ruas jahe 6 buah kemiri 50 gr cabe rawit (yg suka pedas boleh ditambah ya) 50 gr cabe merah keriting 10 buah asam cekala 5 batang sere 2 buah tomat 3 lembar daun jeruk purut/ daun salam 3 batang daun prei secukupnya Garam Langkah Ayam dipotong potong sesuai selera (A)
Cipera Ayam Jamur (Masakan khas Karo) langkah memasak 1 foto Haluskan bawang merah, bawang putih, cabe rawit, cabe merah, jahe dan kemiri (B)
Asam Cekala, sere di geprek, tomat diiris kasar
Rebus ayam (A) dan bumbu yg dihaluskan (B) serta garam dengan 2 liter air, sampai daging ayam setengah masak
Masukkan sere, asam cekala dan daun jeruk purut
Cipera Ayam Jamur (Masakan khas Karo) langkah memasak 5 foto Masukkan santan aduk aduk sampai mendidih dan daging ayam telah masak
Masukkan jamur tiram yg telah disuir suir, aduk lalu masukkan daun prei yg sdh diiris halus
Cipera Ayam Jamur (Masakan khas Karo) langkah memasak 7 foto Setelah 3 menit taburi tepung cipera sedikit demi sedikit sambil diaduk sehingga kuah mengental.
Cipera Ayam Jamur (Masakan khas Karo) langkah memasak 8 foto Dihidangkan selagi panas, taburi dengan daun pre/ seledri dan bawang goreng (seperti menghidangkan soup)
Selamat mencoba
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara