Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita rakyat Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan
Cerita Rakyat Sulawesi Selatan “La Upe”
- 6 Januari 2021

La Upe adalah seorang anak laki-laki yatim dan miskin yang tinggal di sebuah kampung di daerah Selawesi Selatan. Kata la upe berasal dari bahasa Bugis yang terdiri dari suku kata, yaitu: la berarti dia laki-laki, dan upe berarti beruntung. Jadi, kata la upe berarti laki-laki yang beruntung. Berkat kesabarannya dalam menghadapi segala cobaan dan siksaan, ia mendapat pertolongan dari Tuhan. Siksaan apa yang dialami La Upe, dan pertolongan apa yang diberikan kepadanya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita La Upe berikut ini.

Alkisah, di sebuah kampung di daerah Sulawesi Selatan, Indonesia, ada seorang anak yatim bernama La Upe. Ia tinggal bersama ayahnya di sebuah rumah kecil di pinggir kampung. Ibunya meninggal dunia sejak ia masih kecil. Ketika ia berumur sepuluh tahun ayahnya menikah lagi seorang janda dari kampung lain yang bernama I Ruga. Sang Ayah berharap agar La Upe mempunyai ibu yang dapat merawat dan menyayanginya. Namun, harapannya berbeda dari kenyataan. Setiap hari I Ruga menyiksa dan memukul La Upe ketika ia pergi ke sawah.

Sejak bersama ibu tirinya, hidup La Upe sangat menderita. Ia tidak pernah lepas dari siksaan dan perintah yang berat dari ibu tirinya. Setiap hari, ia disuruh pergi ke sungai untuk memancing ikan. Jika pulang tanpa membawa hasil, ia disiksa dan dipukul dengan tongkat. Begitulah yang dialami La Upe setiap hari tanpa sepengetahuan ayahnya.

Pada suatu hari, La Upe disuruh oleh ibu tirinya ke sungai untuk memancing ikan. Setelah mempersiapkan pancing dan umpan yang banyak, berangkatlah ia ke sungai dengan harapan bisa mendapatkan hasil yang banyak agar terhindar dari siksaan ibu tirinya. Sesampainya di tepi sungai, ia memasang kailnya, lalu duduk di tepi sungai sambil bersiul-siul. Sudah hampir setengah hari ia memancing, namun tak seekor ikan pun yang menyentuh umpannya. Hatinya pun mulai cemas.

“Aduh, aku pasti mendapat pukulan lagi kalau tidak mendapat ikan hari ini,” keluh La Upe.

Berkali-kali La Upe memindahkan pancingnya ke tempat yang lebih dalam agar umpannya di makan ikan, namun tak seekor ikan pun yang menyentuhnya. Karena hari sudah siang dan perutnya pun sudah terasa sangat lapar, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti memancing. Ia sudah pasrah untuk mendapatkan hukuman dari ibu tirinya. Ketika akan mengangkat kailnya, tiba-tiba seekor ikan besar menyambar umpannya. Dengan hati-hati, ia menarik kailnya perlahan-lahan ke tepi sungai. Setelah kailnya terangkat, tampaklah seekor ikan besar yang terkait di ujung kailnya. Hati La Upe yang semula cemas tiba-tiba menjadi senang, karena ia akan terbebas dari hukuman. Betapa terkejutnya ia ketika akan memasukkan ikan itu ke dalam wadahnya, ikan itu tiba-tiba berbicara layaknya manusia.

“Ampun, Tuan! Tolong jangan bunuh saya! Saya ini adalah raja ikan. Jika Tuan sudi melepaskan saya, apa pun permintaan Tuan akan saya kabulkan. Dengan menyebut ‘ilmunya raja ikan’, maka permintaan Tuan akan terkabulkan,” kata ikan itu.

Karena merasa iba, La Upe melepaskan kembali ikan itu ke sungai. Akhirnya, ia pun pulang tanpa membawa hasil. Sesampainya di rumah, ia melihat ibu tirinya sedang menunggunya.

“Hei, La Upe! Mana ikannya?” tanya ibu tirinya.

“Maaf, Bu! Tadi saya mendapatkan seekor ikan besar, tapi saya melepasnya kembali ke sungai,” jawab La Upe.

Mendengar jawaban itu, I Ruga menjadi murka. Ia segera mengambil tongkatnya yang sering digunakan untuk memukul La Upe. Ketika ibu tirinya hendak memukulnya, La Upe tiba-tiba teringat pada pesan ikan besar yang ditolongnya tadi. Ia pun segera membaca mantra sakti yang diberikan kepadanya.

“Tolong lekatkan ibuku di pintu, berkat ilmunya raja ikan!”

Pada saat itu pula, I Ruga pun melekat pada pintu. Ia meronta-ronta untuk melepaskan diri, namun usahanya sia-sia. Tubuhnya lengket bagaikan terkena perekat. Beberapa kali ia berteriak meminta tolong agar La Upe melepaskan tubuhnya dari pintu itu, namun La Upe menolaknya. La Upe justru pergi meninggalkannya dan membiarkannya terus melekat pada pintu itu.

Tak berapa kemudian, ayah La Upe pulang dari sawah. Betapa terkejutnya ia ketika akan membuka pintu rumahnya. Pintu itu sangat berat seakan-akan ada orang yang mendorongnya dari dalam.

“Bu, apakah kamu yang mendorong pintu ini?” tanya ayah La Upe.

“Tidak! Aku tidak mendorongnya. Tubuhku terlekat di balik pintu ini dan tidak bisa bergerak,” jawab I Ruga.

Ayah La Upe pun mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga. Saat pintu itu terbuka, tampaklah istrinya sedang melekat pada pintu sambil memegang sebuah tongkat.

“Siapa yang melakukan ini, Bu?” tanya ayah La Upe.

I Ruga pun menceritakan semua peristiwa yang menyebabkannya terlekat di pintu itu. Mendengar cerita istrinya itu, ayah La Upe hanya tersenyum dan berkata:

“Itulah akibatnya kalau selalu menyiksa dan memukul anak yang tidak bersalah.”

Setelah berkata begitu, sang Ayah segera mencari La Upe. Tak berapa lama, ia pun menemukannya sedang bermain bersama teman-temannya. Ia kemudian meminta kepada La Upe agar kembali ke rumah dan memaafkan ibu tirinya. La Upe pun menuruti permintaan ayahnya. Ia memang sangat patuh dan hormat kepada ayahnya. Sesampainya di rumah, ia pun segera melepaskan ibu itrinya dengan membaca mantra saktinya.

“Tolong lepaskan ibu tiriku, berkat ilmunya raja ikan!”

Seketika itu pula, I Ruga pun terlepas dari pintu dan segera meminta maaf kepada suaminya dan La Upe. Sejak saat itu, I Ruga tidak pernah lagi menyiksa dan memukul La Upe karena takut mendapatkan kutukan. Akhirnya, mereka pun hidup rukun dan bahagia.

Beberapa tahun kemudian, La Upe pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan. Sejak itu, ia sering berjalan-jalan ke kota kerajaan untuk melihat suasana keramaian kota. Suatu hari, ketika ia sedang lewat di depan istana kerajaan, tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia melihat putri raja yang cantik nan rupawan sedang bersantai di jendela.

“Aduhai, cantik sekali putri raja itu!” ucap La Upe dengan kagum.

“Andai saja aku bisa menikah dengannya, betapa bahagia rasanya hati ini,” ucapnya lagi sambil terus menatap wajah cantik sang Putri.

Merasa ada yang memerhatikannya, Putri Raja pun menoleh ke arah La Upe. Sang Putri pun tersentak ketika melihat ketampanan pemuda itu. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Rupanya, ia jatuh hati kepada La Upe. Pada suatu hari, secara diam-diam mereka mengadakan pertemuan di suatu tempat tanpa sepengetahuan sang Raja dan permaisuri. Dalam pertemuan itu, mereka saling mengungkap perasaan masing-masing. Akhirnya, mereka pun bersepakat untuk menikah.

Suatu hari, La Upe bersama kedua orang tuanya datang melamar sang Putri. Namun, lamaran mereka ditolak oleh raja dan permaisuri, karena menganggap La Upe tidak sederajat dengan sang Putri. Sang Putri adalah seorang keturunan raja, sedangkan La Upe hanya masyarakat biasa dan miskin. Mendengar penolakan itu, La Upe pun kembali ke rumahnya dengan perasaan sedih.

Setibanya di rumah, La Upe pun mencari cara agar dapat menikahi sang Putri. Setelah berpikir keras, ia pun menemukan sebuah cara. Ia akan menarik simpatik sang Raja dan permaisurinya dengan melekatkan sang Putri pada pintu. Dengan begitu, tentu tidak ada orang yang bisa menolong sang Putri kecuali dia. Namun, sebelum melaksanakan niat itu, terlebih dahulu ia meminta restu kepada sang Putri dan memberitahunya bahwa apa yang akan dilakukan itu hanyalah sebuah siasat agar bisa menikahinya. Sang Putri mengerti dan bersedia untuk melaksanakan siasat tersebut, karena ia mencintai La Upe.

Pada suatu malam, La Upe menyusup masuk ke dalam kamar sang Putri. Dengan mantra saktinya, ia melekatkan sang Putri pada pintu kamar. Setelah itu, ia meninggalkan sang Putri dalam keadaan terlekat di pintu. Beberapa saat kemudian, seluruh penghuni istana menjadi gempar, termasuk raja dan permaisuri. Mereka mendapati sang Putri sedang melekat di pintu kamarnya. Sang Raja pun segera mengerahkan seluruh tabib istana untuk menolong sang Putri, namun hingga pagi menjelang tak seorang pun yang berhasil. Akhirnya, sang Raja memutuskan untuk mengadakan sayembara. Ia pun mengumpulkan seluruh rakyat di halaman istana.

“Wahai, seluruh rakyatku! Barangsiapa yang sanggup melepaskan putriku dari pintu, akan kunikahkan dengan putriku. Aku tidak peduli apakah ia orang biasa ataupun orang miskin. Selain itu, dia juga akan kuangkat menjadi raja untuk menggantikan aku kelak.”

Setelah itu, sayembara pun dimulai. Satu persatu peserta sayembara mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk melepaskan sang Putri dari pintu, namun tak seorang pun yang berhasil. Kini tinggal satu peserta yang belum maju, dia adalah La Upe. Dengan tenangnya, ia berjalan masuk ke dalam istana dan menghampiri sang Putri yang sedang melekat di pintu, lalu membaca mantra saktinya.

“Tolong lepaskan sang Putri dari pintu, berkat ilmunya raja ikan!”

Sungguh ajaib. Sang Putri pun terlepas dari lekatan pintu sambil tersenyum bahagia. Seluruh hadirin terperangah menyaksikan peristiwa itu. Sang Raja dan permisuri sangat kagum melihat kehebatan La Upe.

“Baiklah, La Upe! Sesuai dengan janjiku, aku akan menikahmu dengan putriku dalam waktu dekat. Aku dan seluruh keluarga istana minta maaf karena sebelumnya telah menolak lamaranmu,” kata sang Raja.

Sepekan kemudian, pesta pernikahan La Upe dan sang Putri pun dilangsungkan sangat meriah. Berbagai macam pertunjukan seni musik dan tari dipertontonkan. Seluruh rakyat negeri pun turut meramaikan pesta tersebut. Mereka sangat berbahagia melihat pasangan pengantin yang sedang duduk bersanding di pelaminan. Kedua mempelai benar-benar pasangan yang serasi. La Upe seorang pemuda yang gagah dan tampan, sedang sang Putri seorang gadis yang cantik nan rupawan.

La Upe dan sang Putri pun hidup berbahagia. La Upe mengajak kedua orang tuanya untuk tinggal di istana. Tidak berapa lama kemudian, La Upe pun diangkat menjadi raja untuk menggantikan sang Raja. Maka semakin lengkaplah kebahagiaan La Upe dan istrinya.

Demikianlah cerita La Upe dari daerah Sulawesi Selatan, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng, yakni hanya cerita rekaan belaka. Pesan moral yang dapat diambil dari cerita atas adalah bahwa menganiaya dan menyiksa orang lain tanpa alasan yang benar akan membawa malapetaka pada diri sendiri. Hal ini tergambar pada perilaku I Ruga yang selalu memukul dan menganiaya anak tirinya, La Upe, jika tidak membawa ikan untuknya. Akibatnya, ia pun terlekat di pintu rumahnya. Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa orang-orang yang teraniaya senantiasa mendapat pertolongan dari Tuhan Yang Mahakuasa, baik secara langsung mau pun tidak langsung. Dalam cerita di atas, La Upe digambarkan sebagai orang yang teraniaya mendapat pertolongan dari Tuhan secara tidak langsung, tetapi melalui seekor ikan besar. (Samsuni/sas/147/06-09)

Sumber: Isi cerita diadaptasi dari H. Abdul Muthalib dan Muhammad Yusran. 2003. “Orang Yang Terlekat,” dalam Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Selatan 2. Jakarta: Grasindo. Anonim. “Sulawesi Selatan,” http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan, diaskes pada tanggal 1 Juni 2009.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu