Sayyangpattudu (kuda menari) atau kadang orang menyebutn ya to messawe (orang yang mengendarai) merupakan acara yang diadakan dalam rangka untuk mensyukuri anak-anak yang khatam (tamat) Alquran. Bagi suku Mandar di Sulawesi Barat tamat Alquran adalah sesuatu yang sangat istimewa,dan perlu disyukuri secara khusus dengan mengadakan pestaadat sayyangpattudu. Pesta ini diadakan sekali dalam setahun, biasanya bertepatan dengan bulan Maulid/ RabiulAwwal (kalender hijriyah). Dalam pesta tersebut menampilkan atraksi kuda berhias yang menari sembari ditunggangi anak-anak yang sedang mengikut iacara tersebut. Bagi masyarakat Mandar, khatam Alquran dan upacara adat sayyang pattudu memiliki pertalian yang sangat erat antara yang satu dengan yang lainnya. Acara ini mereka tetap lestarikan dengan baik. Bahkan masyarakat suku mandar yang berdiam di luar Sulawesi Barat akan kembali ke kampong halamannya demi mengikuti acara tersebut. Penyelenggaraan acara ini suda...
Ka'dominya adalah makanan khas dari Sulawesi Barat. Makanan ini berupa beras ketan yang dikukus dengan santan, selanjutnya dicampur dengan ayam atau telur. Makanan ini lalu dibungkus dengan daun pisang. Makanan ini khusus disajikan pada saat acara Maulid. https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/wbtb/?newdetail&detailCatat=5485
Ritual yang paling khas di Polewali Mandar adalah totamma' mangaji (khatam Al-Qur'an). Pada acara ini acapkali ditandai dengan pessaweang sayyang mattu'du' (penunggangan Kuda meanri) yang dilakukan oleh perempuan-perempuan Mandar dengan mengenakan pakaian adat dan diarak keliling kampung dengan diiringi parrawana (pemukul rebana) diselingi dengan kalinda'da' (sastra lisan Mandar). Acara serupa ini biasanya dihelat berbarengan dengan acara Maulid di hampir semua kecamatan yang ada di Polewali Mandar. Menariknya, ritual semacam ini biasanya diawali dengan pambacangan (upacara syukuran) dengan melantunkan barsanji (tembang pujian kepada Rasulullah) saat pagi dan siang harinya. Dan pada sore harinya baru digelar acara sayyang pattu'du'. Kecamatan yang paling sering melakukan ritual ini adalah Polewali, Matakali, Wonomulyo, Campalagian, Mapilli, Luyo, Balanipa, Tinambung, Limboro, dan Alu.
Sokkol, merupakan varian makanan tradisional yang wajib ada pada saat kegiatan kenduri, syukuran, pernikahan, barazanji, dan peringatan maulid di Mandar, Sulawesi Barat. Suku Bugis menyebut makanan ini dengan nama "sokkoq", sementara suku Makassar menyebutnya dengan nama "songkoloq". Sokkol terbuat dari beras ketan merah, ketan hitam atau ketan putih. Di Mandar, Sulawesi Barat cara membedakan sokkol cukup melihat tanda ?"tusuk" dan "bentuk"nya yang bisa terbaca dan jelas terlihat di kemasan daun pisangnya. 1. Kerucut dengan satu tusuk yang terbuat dari lidi isinya sokkol malotong 2. Kerucut dengan dua tusuk lidi isinya sokkol mamea 3. Segi empat padat dengan satu tusuk lidi isinya sokkol mapute Konon bentuk pembungkus sokkol yang terbuat dari daun pisang merupakan perwakilan dari unsur manusia maskulin (laki-laki, tommuane) dan feminim (perempuan, towaine) dan tiga formasi tusuk lidi merupakan identitas dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah ....