Tari Lenggang Nyai berasal dari tanah Betawi yang telah berakulturasi dengan budaya Tiongkok. Lenggang Nyai dikategorikan sebagai sebuah tari kontemporer yang berlandaskan budaya Betawi. Tarian ini biasanya dilakukan oleh sebuah kelompok yang terdiri dari empat sampai enam perempuan yang diiringi oleh musik tradisional Jakarta, yaitu Gambang Kromong, yang dikolaborasikan dengan alat-alat musik modern, seperti jimbe, saksofon, dan bass elektrik. Pakaian yang digunakan pun terdapat sentuhan elemen Tiongkok yang bercampur dengan Betawi dengan warna merah dan hijau, serta menggunakan ikat kepala Tiongkok. Dibuat pada tahun 1998 oleh Wiwik Widiastuti, seorang koreografer asal Yogyakarta, tarian ini menggambarkan gerakan yang anggun nan lincah dari perempuan-perempuan Betawi. Tarian ini merupakan sebuah adaptasi dari cerita rakyat terkenal dari Betawi, yaitu Nyai Dasima. Tari Lenggang Nyai berdasarkan karakter Nyai Dasima yang cantik, lincah, dan berhati lembut. Kata 'lenggang...
Tari Topeng Gong diciptakan oleh seorang maestro tari Betawi bernama Wiwiek Widiastuti. Tarian ini merupakan tari kreasi yang dibuat tahun 1994. Tari Topeng Gong mengulas hingar-bingarnya pengaruh era globalisasi. Di dalam tarian ini diceritakan tentang nilai kehidupan gadis-gadis muda pada masa ketika akan memasuki era tersebut. Tidak dapat dipungkiri, masuknya era globalisasi akan mendatangkan dampak sendiri. Ada rasa gusar yang dirasakan pencipta tari Topeng Gong ketika menyongsong era globalisasi mengenai apa yang akan didapat dari era tersebut. Segala macam pengaruh baik dan buruk dari globalisasi akan membawa dampak positif maupun negatif seperti dari bidang teknik, internet dll. Rasa gusar, senang, dan berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran tertuang dalam tarian ini.
Tari Sipatmo awalnya hadir dalam rangkaian upacara adat di Klenteng atau Wihara. Tarian ini mengalami transformasi pada abad ke-19 menjadi tari Cokek setelah seorang tuan tanah keturunan Tionghoa mulai sering menganggap tarian ini untuk memeriahkan pestanya. Ada empat ragam gerak Tari Sipatmo yang penting dan mengandung arti, yaitu gerak soja di dada,gerak soja berhadap-hadapan, gerakan mengayuh perahu, dan gerak-gerak selanjutnya merupakan stilisasi gerakan menunjuk. Gerak soja di dada mengisyaratkan agar menjaga hati selalu bersih. Gerak soja berhadap-hadapan adalah lambang atau pengingat untuk hormat-menghormati dan saling menyayangi. Gerakan seperti mengayuh perahu bermakna berani mengarungi samudra kehidupan. Gerakan menunjuk sembilan lawang, "pintu" masuknya noda yang kalau tidak dijaga dengan baik dapat mengotori sanubari. Sumber: Telisik Tari DKJ: Tari Betawi 'Topeng & Cokek'
Sebuah tari karya Wiwiek Widiyastuti yang diilhami dari bentuk cerita "Bapak Jantuk" pada kesenian Topeng Betawi. Tarian ini menggambarkan Bapak Jantuk sebagai sosok yang riang. Ceritanya mengungkapkan perasaan senang dan kegembiraan Bapak Jantuk dalam mengasuh anak. Kegembiraan Bapak Jantuk diungkapkan dengan bernyanyi, berbalas pantun dan juga menari. Rangkaian ungkapan inilah yang ditransformasikan ke dalam tatanan gerak tari Kembang Lambang Sari. Tokoh Bapak Jantuk adalah seorang laki-laki yang memakai topeng bermata sipit, kening menonjol ke depan dan pipinya tembem. Jalannya agak membungkik dan memakai tongkat. Biasanya menggunakan kain ikat kepala (ikat), jas, celana pangsi, sarung, kedok dan tongkat. Sumber: Telisik Tari DKJ: Tari Betawi 'Topeng & Cokek'
Disebut tari topeng tiga karena penarinya berturut-turut mengenakan tiga buah topeng. Tiga topeng ini dimaksudkan untuk menggambarkan tiga watak. Topeng pertama berwarna putih ini menunjukkan sifat yang halus dan penyabar. Topeng kedua berwarna merah jambu, menggambarkan watak kenes, suka bertingkah dan pandai bicara. Topeng ketiga berwarna merah, melukiskan watak yang suka mengumbar amarah. Sebelum adanya larangan ngamen di Jakarta, tarian ini biasaya dipertunjukkan berkeliling dari rumah ke rumah. Sedangkan menurut tradisinya, tarian ini adalah bagian dari pergerlaran sandiwara rakyat yang hidup dan berkembang di wilayah budaya Betawi pinggiran. Sumber: Telisik Tari DKJ: Tari Betawi 'Topeng & Cokek'
Tarian Dero atau Madero adalah tarian yang berasal dari Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah . Tarian ini merupakan salah satu tradisi masyarakat Suku Pamona yang masih dipertahankan sampai saat ini. Suku Pamona adalah masyarakat asli Kabupaten Poso yang mendiami hampir seluruh wilayah kabupaten bahkan sampai ke sebagian wilayah kabupaten Morowali. Nenek moyang suku pamona sendiri berasal dari Luwu Timur daerah yang masuk ke wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Suku Pamona adalah kesatuan dari beberapa etnis di wilayah Sulawesi tengah. Meskipun demikian masyarakat Suku Pamona hidup rukun dan berdampinagn. Hal ini tergambar dari salah satu kesenian yang berasal dari suku tersebut yaitu tari dero poso. Bagi masyarakat Suku pamona, Tari Dero adalah tari yang melambangkan sukacita atau kebahagiaan. Tarian ini telah lama dipertahankan oleh masyarakat Poso khususnya masyarakat di yang tinggal di sepanjang lembah danau Poso. Bagi masyarakat setempat tarian ini adalah&...
Ratna Ayu Wiraderin adalah putri bungsu Raja Indrapandita yang berkuasa di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Raden Ratna Ayu Wiraderin difitnah oleh kedelapan kakaknya karena iri akan kecantikan si bungsu itu. Apalagi Ratna Ayu Wiraderin memiliki seekor monyet yang cerdik dan bisa bicara. Oleh karena itu, mereka ingin mengucilkan dan merampas monyet itu dari Ratna Ayu Wiraderin. Bagaimana nasib Ratna Ayu Wiraderin selanjutnya? Berikut kisahnya dalam cerita Ratna Ayu Wideradin dan Monyeh. Alkisah, di Lombok, Nusa Tenggara Barat, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja Indrapandita. Raja itu memiliki sembilan putri yang cantikcantik. Putri sulungnya bernama Denda Wingi, sedangkan si bungsu bernama Ratna Ayu Wideradin. Dari kesembilan putri raja tersebut, si bungsulah yang paling cantik dan mempesona. Maka, tidak mengherankan jika si bungsu menjadi idola bagi pemuda dari berbagai negeri. Rupanya, kecantikan Ratna Ayu Wideradin membuat iri kedelapan kakaknya, terutama si...
Jenis-jenis tarian yang terdapat di daerah ini antara lain: Tari Hugo dan Huda Tari Putri Malawen Tari Tuntung Tulus dari barito timur Tari Giring-giring Tari Manasai Tari Balian Bawo Tari Balian Dadas Manganjan
Ombyok berfungsi sebagai hiasan dada terbuat dari kain bludru dengan motif teratai yang digunakan pada tokoh Klana. Ini merupakan adalah sebuah perkembangan dalam kostum Tari Topeng Cirebon. Penggunaan ombyok ini berbeda dalam Tari Panca Topeng Wanda dalam tradisi Tari Topeng Cirebon. Ombyok tidak digunakan ditari topeng Panji, Samba/Pamindo, Rumyang, dan Tumenggung/Patih, yang menggunakan dasi.