Poleng adalah kain khas Bali bermotif kotak-kotak seperti papan catur. Kain poleng memiliki dua warna yaitu hitam-putih dan merah-putih. makna dari motif kotak-kotak persegi merupakan simbol keseimbagan alam, antara kanan-kiri, dan atas-bawah, jumlah kotak hitam sama dengan jumlah kotak putih. Untuk pembuatan kain poleng tidak di butuhkan bahan kain yang khusus. Kain apapun dapat digunakan tetapi pada umumnya masyarakat banyak menggunakan kain poleng yang berbahan sutra. Kain poleng tidak bisa digantikan dengan kain yang bermotif lain karena motif kotak-kotak melambangkan keseimbangan alam, jumlah warna hitam dan putih pada kain poleng juga harus sama. Bagi kalian yang pernah mengunjungi pulau Dewata, pasti sudah merasa tidak asing lagi dengan kain motif ini, karena sejauh mata memandang kalian akan melihatnya dimana-mana. Poleng merupakan salah satu simbol yang kerap digunakan oleh umat Hindu, khususnya di Bali. Mulai dari penggunaannya sebagai wastra pal...
Geria adalah rumah tempat tinggal untuk kasta Brahmana yang biasanya menempati zoning utama dari tata zoning suatu pola lingkungan. Sesuai dengan peranan brahmana selaku pengembangan bidang spiritual, maka bentuk dan ruang geria sebagai rumah tempat tinggal disesuaikan dengan keperluan-keperluan aktifitasnya. Sumber: Buku Bangunan Tradisional Bali dan Fungsinya
Rumah tempat tinggal untuk kasta ksatria yang memegang Pemerintahan disebut Puri yang umumnya menempati zoning ”kaja kangin” di sudut perempatan agung di pusat desa. Penghuni Puri berperanan sebagai pelaksana pemerintahan serta Puri itu sendiri sebagai pusat pemerintahan. Untuk itu Puri dibangun sesuai dengan keperluan ruang, pola serta suasana ruang yang dapat menunjang kewibawaan pemerintah. Pada umumnya Puri dibangun dengan tata zoning yang berpola ”Sanga Mandala” semacam papan catur berpetak sembilan. Bangunan-bangunan puri sebagian besar mengambil type utama. Antara zone satu dengan lainnya dari petak ke petak dihubungkan dengan pintu ”Kori”. Fungsi masing-masing zoning antara lain: Ancak saji, halaman pertama untuk mempersiapkan diri masuk ke Puri, di bagian kelod kauh (barat daya) Semanggen bangunan di zoning kelod (selatan) untuk areal upacara ”Pitra Yadnya”/kematian. Rangki bangunan di zoning kauh (barat) u...
Rumah tempat tinggal untuk kasta ksatria yang tidak memegang Pemerintahan secara langsung. Pola ruang dan tata zoning, juga bangunan-bangunannya lebih sederhana dari puri. Sesuai fungsi nya pola ruang jero dirancang dengan triangga. Pemerajan sebagai peryangan, jeroan sebagai area rumah tempat tinggal dan jabaan sebagai arena pelayanan umum. Dilihat dari status sosial penghuni, sebagai akibat dari kasta serta peranannya di masyarakat Geria, Puri dan Jero umumnya merupakan rumah tempat tinggal utama. Identitas kasta dan peranannya cendrung diperlihatkan lewat bangunan tempat tinggalnya. Sumber: Bangunan Tradisional Bali Serta Fungsinya – Ida Bagus Oka Windhu
Rumah tempat tinggal dari kasta wesia atau mereka yang bukan dari kasta brahmana atau kesatria disebut umah. Lokasi umah dalam perumahan disuatu desa dapat menempati sisi-sisi utara selatan, timur atau barat, dari jalan desa. Pusat-pusat orientasi adalah perapatan agung pusat desa, atau bale banjar di pusat-pusat bagian lingkungan (desa). Unit-unit umah dalam perumahan berorientasi ke natah (natar) sebagai halaman pusat aktifitas rumah tangga. Umah di dalam perumahan tradisional merupakan susunan massa-massa bangunan di dalam suatu pekarangan yang dikelilingi tembok penyengker (batas pekarangan) dengan kori pintu masuk kepakarangan. Masing-masing ruangan dapur, tempat kerja, lumbung dan tempat tidur merupakan satu massa bangunan. Komposisi massa-massa bangunan umah tempat tinggal menempati bagian-bagian utara, selatan, timur, barat membentuk halaman natah (natar) di tengah. Orientasi massa-massa bangunan ke natah di tengah. Dari kori masuk pekarangan menuju natah barulah menuju...
Rumah tempat tinggal di luar pusat pemukiman, di ladang, di perkebunan, atau tempat-tempat kehidupan disebut kubu atau pakubon. Lokasi kubu tersebar tanpa dipolakan sebagai suatu lingkungan pemukiman menempati unit-unit perkebunan atau ladang-ladang yang berjauhan tanpa penyediaan sarana utilitas. Hubungan antar kubu dan tempat-tempat kerja atau tempat lainnya umumnya dengan berjalan kaki melalui jalan setapak. Pola ruang kubu sebagai tempat tinggal serupa pula dengan pola umah. Komposisi bangunan, pemakaian bahan dan penyelesaiannya sederhana dan umumnya tidak permanen. Sumber: Bangunan Tradisional Bali Serta Fungsinya – Ida Bagus Oka Windhu
Bangunan sakepat dilihat dari luas ruang tergolong bangunan nista (sederhana), luasnya sekitar 3,00 m X 2,50 m, bertiang empat, denah segi empat. Suatu balai-balai pengikat tiang. Atap dengan konstruksi kampiah atau limasan. Variasi dapat ditambah dengan satu tiang parba satu atau dua tiang pendek. Bisa juga tanpa balai-balai dalam fungsinya yang tidak memerlukan adanya balai-balai. Kostruksinya cecanggahan, sunduk, atau sanggahwang. Di dalam pekarangan perumahan, letak sakepat di timur yang berfungsi sebagai semanggen, di sisi barat sanggah/pemerajan dengan fungsi sebagai piyasan, kelod kauh (barat daya) bila difungsikan sebagai paon. Penyelesaian ruang dan perlengkapan disesuaikan dengan fungsi kegunaanya. Sumber: Bangunan Tradisional Bali Serta Fungsinya – Ida Bagus Oka Windhu
Bangunan sakenem dalam perumahan tergolong sederhana bila bahan penyelesaiannya sederhana. Dapat pula digolongkan madia bila penyelesaiannya sakenem yang dibangun dengan bahan penye lesaian madia. Bentuk sakenem segi empat panjang, dengan panjang sekitar tiga kali lebar. Luas bangunan lebih kurang 6m x 12m. Konstruksi bangunan terdiri dari enam tiang berjajar tiga-tiga pada kedua sisi panjang. Keenam tiang disatukan dengan balai-balai atau hanya empat tiang yang disatukan dengan balai-balai serta 2 tiang di teben dengan memakai dua saka (tiang) pendek disatukan dengan balai-balai. Hubungan tiang-tiang dengan balai-balai konstruksi perangkai sunduk, waton, likah dan galar. Dalam variasinya dapat pula sakenem dengan satu balai-balai yang hanya mengikat empat tiang dan dua tiang di teben memakai sanggahwang karena tidak ada sunduk pengikat. Dalam komposisi bangunan perumahan, sakenem menempati bagian kangin atau kelod untuk difungsikan sebagai sumanggen. Bila sakenem difungsikan untuk...
Bangunan dikualifikasikan sebagai bangunan madia dengan fungsi tunggal untuk tempat tidur yang disebut meten. Letaknya dibagian kaja (utara) menghadap kelod (selatan) ke natah berhadapan dengan semanggen. Dalam proses membangun rumah, sakutus merupakan bangunan awal yang disebut paturon. Jaraknya delapan tapak kaki dengan pangurip angandang, diukur dari tembok pekarangan sisi utara (kaja). Selanjutnya bangunan lainnya ditentukan letaknya dengan jarak-jarak diukur dari bale meten sakutus. Bentuk bangunan segi empat panjang, dengan luas sekitar 5 m x 2,5 m. Konstruksi terdiri dari delapan tiang yang dirangkaikan empat-empat menjadi dua balai-balai. Masing balai balai memanjang kaja kelod (utara selatan) dengan kepala ke arah luanan kaja. Tiang-tiang dirangkaikan dengan sunduk, waton/selimar, likah dan galar. Stabilitas konstruksi dengan sistim lait pada pangurus sunduk dengan lubang tiang. Sanggahwang tidak ada pada sakutus. Konstruksi atap dengan sistim kampiyah bukan limasan, difung...