tahun baru
200 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Betutu Banten - Banten - Banten
Makanan Minuman Makanan Minuman
Banten

Bahan-bahan : ayam 1 ekor telur ayam/bebek 5 btr. roti tawar 1/2 btg kentang 5 bj.   Bumbu-bumbu : bawang merah 5 bh. bawang putih 3 siung lada halus 1 sdt. pala halus 1/4 sdt. garam 1 sdm. vetsin 1 sdt. minyak goreng atau mentega 4 sdm.   Cara membuatnya : Ayam dibersihkan, dikeluarkan isi perutnya, dijahit separo, diisi dengan pure kentang yang telah dibumbui. Teluar direbus, dikupas, dimasukkan dalam perut ayam kemudian dijahit yang rapat. Ayam setelah dijahit, dikukus sampai masak. Setelah masak, dioven dengan api atas dan bawah, tiap kali dibuka, disiram dengan mentega yang telah dilelehkan. Bila sudah kuning rata, betutu dikeluarkan dari oven.   Keterangan : Dihidangkan di piring lonjong, dihias daun selada, tomat dan daun seledri.   Cara mengambil tulang dari tubuh ayam : Ayam dipotong dan dibersihkan...

avatar
Fachni
Gambar Entri
Motif Batik Kabupaten Lebak: Seren Taun
Motif Kain Motif Kain
Banten

Motif batik seren taun terdiri dari tiga unsur yang menjadi simbol rasa syukur atas anugerah dan nikmat yang dilimpahkan oleh Sang Pencipta. Unsur-unsur batik tersebut antara lain: (1) Perayaan Seren Tahun, (2) Leuit Kaolotan (lumbung/tempat menyimpan padi),  dan (3) Ikat Padi. Perayaan Seren Taun/Tahun merupakan upacara adat yang diselenggarakan masyarakat Sunda untuk menyambut masa panen. Upacara tersebut konon sudah diselenggarakan secara turun temurun, sejak zaman kerajaan Pajajaran. Sumber: http://www.infobudaya.net/2017/09/seren-taun-upacara-adat-panen-masyarakat-sunda/   https://multatulifm.lebakkab.go.id/2017/10/16/12-motif-batik-lebak-dan-filosofinya/

avatar
Anindyajati
Gambar Entri
Watertoren Rangkasbitung
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Banten

Watertoren (bahasa Belanda) atau menara air berada di Pasir Tariti, Kelurahan Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Dahulu bangunan ini berfungsi sebagai penampungan dan pengaturan air untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat kota Rangkasbitung. Bangunan yang oleh masyarakat dikenal dengan istilah menara air ini difungsikan hingga tahun 1970-an, yang mengambil air dari gunung Pulosari. Menara air ini berbentuk silinder namun bagian atasnya berbentuk segi delapan. Terdapat satu pintu di dinding menara air. Di atas pintu terdapat angka tahun 1931 yang diduga merupakan angka tahun pembuatan watertoren.   Sumber:    https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/2018/02/06/watertoren-rangkasbitung/

avatar
Umukurotaa
Gambar Entri
Batu Trong-Trong
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Banten

Batu Trong Trong atau masyarakat sekitar menyebutnya sebagai batu kentongan, sekilas nampak seperti bentuk sebuah “kentongan”. Fungsi sebenarnya dari batu ini tidak diketahui secara pasti karena sudah tidak berada lagi dalam kontek budaya masyarakat pendukungnya. Namun ada banyak kemungkinan mengenai fungsi batu ini, bisa sebagai peti kubur batu atau sebagai lambang kesuburan serta bentuknya yang menyerupai alat kemaluan wanita. Batu ini terbuat dari batuan beku andesit dengan tinggi ±42 cm dan lebar ±22 cm. Batu Trong Trong ini terdapat di Kampung Batu Ranjang, Desa Batu Ranjang, Kecamatan Cimanuk, kurang lebih 57 km dari Ibu Kota Provinsi Banten atau sekitar 22 km dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang. Peti kubur batu merupakan bagian dari tradisi megalitik pada masa bercocok tanam. Pada masa ini dikenal budaya adanya tradisi penguburan sekunder, yakni ketika jasad si mati telah tinggal tulang belulang, kemudian dipindahkan ke dalam wadah berupa peti kub...

avatar
Umukurotaa
Gambar Entri
Batu Sorban
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Banten

Tidak jauh dari lokasi Arca Sang Hyang Dengdek, tepatnya di Kampung Cisata, Desa Sang Hyang Dengdek, Kecamatan Cisata terdapat beberapa buah batu dengan bentukan yang unik menyerupai bentuk cakram dengan satu buah batu kecil yang menonjol pada bagian atasnya. Masyarakat sekitar menamakan batu ini dengan sebutan Batu Sorban, mungkin karena bentuknya yang menyerupai sorban. Batu-batu tersebut tersebar tidak beraturan di lokasi ini. Ukuran batu sorban ini rata-rata berdiameter ±30 cm dengan ketebalan berkisar ±10,5 cm dan tersebar di areal seluas ±2 m 2 . Keadaan batu ini relative baik tetapi kurang terurus. Kondisi jalan berbatu dengan ukuran jalan setapak harus dilalui untuk sampai di lokasi Batu Sorban. Jarak dari Ibu Kota Provinsi Banten sekitar 62 km atau 39 km kea rah selatan ibu kota Pandeglang.   Sumber: Dalam buku “Dokumentasi Benda Cagar Budaya dan Kepurbakalaan Provinsi Banten Tahun 2011, cetakan III”, Dinas Budaya dan Par...

avatar
Umukurotaa
Gambar Entri
Sanghyang Heulut
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Banten

Di lereng Gunung Pulosari, tepatnya di Kecamatan Cisata, Desa Sang Hyang Dengdek, Kecamatan Saketi, ditemukan peninggalan megalitik dalam bentuk komplek menhir terkonsentrasi yang disebut Sanghyang Heuleut, didekatnya berdiri menhir-menhir kecil. Ada satu buah menhir berukuran paling besar dengan tinggi ± 130 cm. Belum dapat dipastikan apakah batu ini telah mengalami modifikasi oleh masyarakat pendukung kebudayaan megalitik ini, atau batu alam yang ditata sedemikian rupa untuk pemujaan. Jarak dari Ibu Kota Provinsi Banten sekitar 62 km atau 39 km dari kota Pandeglang. Sumber: Dalam buku “Dokumentasi Benda Cagar Budaya dan Kepurbakalaan Provinsi Banten Tahun 2011, cetakan III”, Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Banten, halaman 9.

avatar
Umukurotaa
Gambar Entri
Sanghyang Dengdek
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Banten

Sanghyang Dengdek merupakan peninggalan tradisi megalitik berbentuk arca dengan bentuk yang sederhana, berbentuk manusia. Pada bagian atas berbentuk seperti kepala/wajah manusia yang terdiri dari: mata bulat, mulut hanya berupa goresan, telinga dibuat tipis dan hidung tidak nyata, kedua tangan menjulur ke arah perut tetapi alat kelamin tidak nampak (Guillot, 1996:100). Karena bentuknya yang agak membungkuk, arca ini sering pula diberi julukan “Si Bungkuk Yang Terpuja”. Arca ini berukuran tinggi ± 75 cm. Arca semacam ini dikategorikan ke dalam tipe arca megalitik yang belum menggambarkan sebuah karya seni yang tinggi. Arca megalitik ini diduga berkaitan dengan pemujaan nenek moyang, dengan anggapan bahwa arca tersebut merupakan pesonifikasi dari orang yang telah meninggal dan sekaligus sebagai sarana pemujaan arwah. Lokasi benda cagar budaya ini berada di Kampung Cipurut, Desa Sang Hyang Dengdek, Kecamatan Saketi, ± 61 km dari Ibu Kota Provinsi Banten at...

avatar
Umukurotaa
Gambar Entri
Batu Bergores
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Banten

Batu Bergores Cidaresi adalah sebuah batu monolit megalitik yang memiliki goresan-goresan pada sisi batu yang berbentuk segitiga dengan goresan lain. Berbentuk lubang di tengah, sehingga dianggap menyerupai alat kelamin wanita, karena itu oleh penduduk setempat dinamakan “Batu Tumbung” yang berate alat kelamin wanita. Batu bergores yang berukuran sekitar 110 cm x 70 cm ini terletak di tengah persawahan penduduk, diduga dahulu digunakan sebagai sarana atau media pemujaan dan diasumsikan juga sebagai gambaran atau simbol kesuburan dan atau sebagai lambing kesucian. Kesuburan merupakan salah satu pengharapan dari masyarakat yang hidup bercocok tanam dan beternak, mereka percaya bahwa tanaman dan ternak mereka sangat bergantung dari perlakuan mereka terhadap arwah nenek moyangnya. Dalam proses ritualnya diadakan symbol-simbol yang terkait dengan kesuburan. Demikian pula halnya dengan batu bergores Cidaresi yang juga diasumsikan sebagai simbol kesuburan. Batu bergores...

avatar
Umukurotaa
Gambar Entri
Menhir Batu Lingga
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Banten

Salah satu jenis peninggalan tradisi masa megalitik adalah menhir. Menhir berasal dari Bahasa Breton (perancis Utara) yakni “men” yang berarti batu, “hir” berarti berdiri, apabila diartikan secara harfiah dapat bermakna sebagai batu tegak. Menhir Batu Lingga yang terdapat di Kampung Batu Lingga, Desa Kadulimus, Kecamatan Banjar, terletak di lahan yang merupakan komplek perkuburan umum seluas ± 300 m2. Ukuran batu lingga ini memiliki tinggi sekitar 100cm dengan diameter sekitar 40 cm. Diduga batu ini dipergunakan sebagai media penghormatan, atau sarana pemujaan serta pusat persinggahan kedatangan roh dan sekaligus sebagai pelambang si mati itu sendiri. Tidak jarang juga menhir berfungsi sebagai symbol social ekonomi si mati. Untuk menuju ke lokasi Menhir Batu Lingga ini diperkirakan jarak yang harus ditempuh ± 33 km dari Ibu Kota Provinsi Banten atau ±10 km dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang.   Sumber: Dalam buku &l...

avatar
Umukurotaa