Tado', yaitu jerat tali yang biasa digunakan orang Bugis untuk menjerat binatang buruan. Bahannya adalah tali dengan cara penyimpulan sedemikian rupa, sehingga dapat bergerak secara oto matis apabila tersentuh oleh binatang buruan. Pada gambar 7a; 7b, dan 7c di bawah ini dapat dilihat bentuk jerat tali di daerah Bone. Penggunaan tado” pada zaman silam adalah untuk menangkap binatang buruan seperti rusa, babi, sapi dan kerbau liar. Kadang kala tado digunakan pula untuk menjerat kuda liar ataupun kuda peliharaan manakala sewaktu-waktu lepas dari kandangnya. Selain tado”, dalam hal menangkap binatang, masyarakat Bugis di daerah Bone menggunakan pula senjata berupa sio' (jerat). Dalam hal ini, digunakan untuk menangkap jenis unggas, misalnya ayam hutan, balam, unggas, dan lain sebagainya. Dewasa ini jerat sudah jarang digunakan, sedangkan sio seringkali masih dilakukan di wilayah pedesaan. Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan https://play.goo...
Jebba', ialah jebakan untuk menangkap berbagai jenis burung. Jebba’ terbuat dari kurungan dengan menggunakan bahan bambu. Kurungan ini mempunyai pintu, dilengkapi alat khusus sebagai penyanggah daunpintu kurungan. Apabila alat ini tersentuh atau diinjak oleh kaki burung, maka secara otomatis pintu kurungan tadi akan tertutup dengan sendirinya. Agar jelasnya lihat gambar 8 di bawah ini. Jebba’ digunakan untuk mempermudah penangkapan burung burung liar. Masyarakat Bugis, sejak dahulu hingga kini, meng gunakan jebba yang disertai dengan burung umpan. Apabila Seseorang ingin memerangkap, misalnya burung balam, maka di dalam jebba diberi seekor burung balam. Ini dimaksudkan agar burung liar tertarik untuk mendekat, bahkan turut masuk dalam jebba Demikian burung itupun dapat tertangkap dengan cukup mudah. Sama halnya dengan sio, jebba” inipun masih tetap digunakan sampai sekarang, terutama oleh masyarakat petani di pinggiran kota Bone. Sumber: Buku Senjata Tr...
Katalang, adalah salah satu jeni perangkap berupa lubang yang cukup besar (luas dan dalam). Lubang ini di buat dengan jalan menggali tanah, kemudian menutupnya dengan ranting kayu dan dedaunan, sehingga tidak tampak dari luar. Bentuknya secara jelas dapat dilihat pada gambar 9 di bawah ini. Pada zaman dahulu katalang, digunakan untuk memerangkap musuh, baik berupa manusia maupun binatang liar. Apabila di bandingkan dengan keadaan sekarang, maka katalang merupakan salah satu sistem keamanan lingkungan. Sehubungan dengan itu, bagi keamanan desa atau kampung-kampung, biasa dilakukan pem buatan katalang di berbagai tempat. Ini dimaksudkan agar orang orang jahat ataupun lasykar musuh terjerembab ke dalamnya. Sebaliknya, bagi petani katalang itu dibuat untuk memerangkap musuh-musuh tanaman, antara lain babi hutan, anjing liar dan lain binatang pengganggu tanaman. Menurut hasil pengamatan, pada masa sekarang masyarakat Bone tidak lagi menggunakan katalang untuk kepentingan kea manan ka...
Dulang, yaitu bak yang digunakan untuk mendinginkan besi tempaan yang sudah dibentuk. Dulang ini terbuat dari bahan kayu gelondongan yang dilubangi pada salah satu sisinya dengan ukuran ke dalaman lubang sekitar 50 Cm serta panjang antara 150 cm - 200 Cm dan lebar sekitar 50 Cm. Air yang diperlukan dimasukkan ke dalam lubang tersebut untuk mendinginkan hasil bentukan besi, berupa senjata ataupun alat-alat pertanian, seperti: pacul, cangkul, mata bajak, belati, dan parang. Pada gambar 11 di bawah ini diperlihatkan sketsa dulang yang digunakan oleh pandai besi di daerah Bone. Peralatan dulang seperti terlihat dalam gambar 11 di atas merupakan suatu bukti autentik, bahwa masyarakat Bugis di daerah Bone sejak zaman silam telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan teknis untuk mendayagunakan potensi sumber kekayaan alam. Dalam rangka menanggulangi tan tangan lingkungannya. Pengetahuan dan ketrampilan seperti itu tetap bertahan dan dipertahankan sampai saat ini. Apabila dikaitkan den...
A kikkirikeng (landasan kikir), yaitu alat pandai besi yang khusus digunakan untuk meletakkan setiap hasil produksi tempataan yang akan dikikir (ditajamkan) bahagiaan bilahnya. Alat ini umumnya terbuat dari bahan tanduk kerbau atau tanduk sapi yang diletakkan secara berjajar. Pada kedua buah tanduk tersebut diberi tatakan yang berfungsi sebagai tempat menyantelkan barang kikiran (lihat gambar 12.). Gambar di bawah menunjukkan, bahwa tanduk kerbau ataupun tanduk sapi dapat dimanfaatkan oleh pandai besi sebagai alat yang cukup efektif dalam menunjang kelancaran proses produksi senjata tradisional. Malahan, dalam bidang lain, tanduk hewan seperti itu dapat berguna sebagai tempat menyimpan: minyak, huku/gagang parang ataupun badik dan keris, serta banya kegunaan lainnya. Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan https://play.google.com/books/reader?id=hJ6KCgAAQBAJ&pg=GBS.PA51
Pengeppi” (alat percikan air), yaitu suatu jenis peralatan pandai besi yang terbuat dari belahan buluh atau bambu, yang bagian ujungnya dilumat sehingga bentuknya menye rupai kwas. Kegunaan pengepi ini ialah untuk memercik kan air pada bara atau nyala api yang berkobar. Hal ini dilaku kan untuk menjaga keseimbangan antara nyala/kobaran panas disatu pihak dan kebutuhan/daya muai logam yang akan di bentuk menjadi senjata tradisional atau sejenisnya. Bentuk pangeppi adalah sebagai berikut (lihat gambar 13). Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan https://play.google.com/books/reader?id=hJ6KCgAAQBAJ&pg=GBS.PA53
Kikkiri' (kikir), digunakan sebagai alat untuk membuat tajam bilah senjata serta menghaluskan hasil produksi senjata. Kikir ini ada yang berbentuk gepeng dengan kedua belah sisi nya rata. Ada pula jenis kikir yang berbentuk bundar. Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan https://play.google.com/books/reader?id=hJ6KCgAAQBAJ&pg=GBS.PA53
Paccipi (jepitan) terbuat dari besi. Kegunaannya ialah untuk menjepit besi atau logam yang dipanaskan, baik pada saat sedang dikabakr maupun pada saat ditempah di atas lanreseng (landasan). Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan https://play.google.com/books/reader?id=hJ6KCgAAQBAJ&pg=GBS.PA53
Betele (betel), adalah alat untuk memotong besi. Bahannya terbuat dari jenis baja yang kuat. Dalam upaya mengintensif kan serta mengefektifkan penggunaan betel, para pandai besi di daerah Bone memasang besi betel pada celah antara dua batang bambu atau kayu berukuran kecil. Pada bagian sebelah menyebelah besi betel dililit dengan rotan ataupun tali, kawat dan bahan lainnya yang cukup kuat, sehingga besi betel tersebut dapat berfungsi dengan baik (tidak mudah goyah atau tanggal). Jelasnya, lihat gambar di bawah ini: Sumber: Buku Senjata Tradisional Sulawesi Selatan https://play.google.com/books/reader?id=hJ6KCgAAQBAJ&pg=GBS.PA53