Banju Adat Wanita Banjarnegara baju adat Banjarnegara sering dipakai pada saat pagelaran budaya dan acara acara kebesaran daerah Banjarnegara, dan sekarang juga para guru serta pejabat instansi Pemerintahan atau PNS di Banjarnegara setiap tanggal hari kamis di minggu terakhir setiap bulan untuk memakai baju adat Banjarnegara. Baju adat untuk perempuan terdiri dari 1. Riasan Gelung Kandal Menek 2. Gelung Bokor Kemureb 3. Sisir Serit 4. Tusuk Konde 5. Benang Lawe 6. Daun Suruh/sirih 7. Bunga Kantil 8. Kebaya Kutu Baru 9. Kemben Batik Banjarnegara (Sering Dipakai Corak Udan Liris) 10. Benting 11. Lontong 12. Jarik motif Banjarnegara (Sering dipakai corak Udan Liris) 13. Slop tertutup /hils 14. Tlepak Kinang 15. Giwang/ Anting jawa 16. Sapu Tangan Merah berbandul kunci 17. Tusuk Konde 18. Peniti Kebaya
TARI TOPENG DIENG Tari topeng dieng merupakan tarian rakyat yang berkembang sejak lama, sejak jaman dieng masih kuat dengan kepercayaan hindu, tarian ini sering mengisahkan kisah percintaan serta kisah pemujaan terhadap dewi kesuburan atau dewi Sri. Tarian ini di tarikan dengan menggunkan Topeng dan juga biasanya dalam pertunjukanya sering menggunkan sesaji sebagai pelengkap ritual. ditarikan oleh pria namun juga bisa diterikan oleh wanita. Dalam tarian pakaian yang digunakan adalah pakaian jawa, kain jarit, udeng atau iket, gelang kaki, stagen, lontong, sabuk kamustikan, timang, dan lainya. dalam tarian ini juga sering dikenal adanya Mendem atau masa dimana penari kerasukan.
Pabrik gula klampok didirikan pada tahun 1861, didirikan sebagai pabrik penyumbang pasokan gula karena produksi dari pabrik gula pertama yang didirikan oleh belanda di Kali Bagor tidak dapat mencukupi kebutuhan pasar saat itu. gula gula yang di produksi di kawasan banyumas ini di pasok ke luar negri dan dalam negeri saat itu. swasembada gula memang pada era itu, namun sejak perang dunia ke dua. stok dan pasokan ke daerah daerah perang dihentikan, sehingga pasokan produksi dalam negeri berlebih dan pabrik gula akhirnya mengalami kebangkrutan. Pabrik Gula Klampok juga sama dan akhirnya bangunanya paun terbengkalai., kini hanya tersisa satu pintu dan tembok keliling yang bahkan sekarang sudah banyak yang di gempur untuk perumahan karena lemahnya perlindungan hukum dari pemerintah, bahkan pemerintah telah memberikan izin mendirikan bangunan atau IMD.
Dieng Plateau – Negeri Candi, Kawah Vulkanik, Rambut Gimbal hingga Kentang Dieng merupakan negeri candi, kawah vulkanik, kentang, hingga pusat peradaban Jawa. Dataran tinggi (disebut juga plateau atau plato ) adalah dataran yang terletak pada ketinggian di atas 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Untuk itu, dataran tinggi Dieng seringkali disebut Dieng Plateau . Arti kata Dieng sendiri adalah tempat bersemayamnya para Dewa. Dieng berasal dari dua kata sansekerta, di yang berarti tempat, dan hyang yang berarti Dewa pencipta ( di-hyang : dieng). Ketinggian dataran Dieng berkisar 2.565 mdpl yang berada pada enam kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung, Kendal, Batang, dan Pekalongan Keberadaan Candi di dataran tinggi Dieng merupakan sekumpulan candi Hindu beraliran Syiwa yang diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9. Candi-candi di Dieng diduga merupakan candi tertua di Jawa. Sampai saat ini belum...
Pakaian adat Banjarnegara untuk Kakang atau Pria, terdiri dari 1.Blangkon atau Iket khas Banjarnegara (Banyumasan) 2.Beskap Kokoan bukan coakan 4. Benting atau Stagen 5. Timang dan sabuk kamustikan 6.jam benggol 7.kain jarik motif Banjarnegara 8. sandal sripu
Desa Watukuro, Kecamatan Purwodadi yang terletak di ujung selatan Kabupaten Purworejo dan berbatasan langsung dengan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini diambil dari nama raja dari kerajaan Mataram Hindu sekitar abad 9 M. Nama tersebut diambil untuk mengingat kejayaan kerajaan mataram hindu yang saat itu dipimpin oleh raja Dyah Balitung Watukuro. https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4131589/desa-watukuro-jejak-peninggalan-mataram-hindu-di-purworejo
Mengangkat keindahan alam, batik Cilacap menggambarkan pesona tanaman dan binatang pada setiap motifnya. Warna yang digunakan lebih netral, dengan kombinasi putih, hitam, dan cokelat. Batik Cilacap dikenal pula dengan motif kontemporernya. Beberapa motif yang dikenal luas adalah yang menggambarkan keindahan sungai Serayu, buah gowok, dan buah jeruk. Sumber : https://fnrbatik.com/motif-batik/
Mengombinasikan antara nilai Islam, corak khas masyarakat pesisir, motif pertanian, serta sejarah kerajaan Demak, adalah ciri dari batik ini. Bukan cuma itu, batik Demak juga dikenal kerap mengombinasikan antara motif kontemporer dengan yang konvensional. Filosofi dari batik Demak tak lain adalah untuk mengembalikan minat masyarakat terhadap batik. Sumber : https://fnrbatik.com/motif-batik/
Mengangkat nilai kebebasan dalam setiap motifnya, batik khas Banyumas ini dikenal dengan sebutan motif Jonasan. Warna tanah biasa dipakai pada batik ini. Meski paduan warna terkesan gelap, tetapi motif batik Banyumas tak kalah elok dibandingkan batik daerah lain. Banyaknya corak yang terkenal di masyarakat, motif batik Banyumas juga mempunyai nama-nama tersendiri. Beberapa sebutan dari motif batik Banyumas adalah Jahe Puger, Kawung Jenggot, Ayam Puger, Batu Wiljinan, dan Madu Bronto. Sumber : https://fnrbatik.com/motif-batik/