Prasasti Airlangga terletak di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Prasasti ini memiliki ukuran tinggi 2,20 m, lebar 1,16 m dengan ketebalan 29 cm. Prasasti ini terbuat dari batu monolit pipih yang sudah sedikit aus permukaannya. Di samping prasasti ini terdapat sebuah batu kecil yang konon setiap tahun bertambah tinggi. Dari isinya, prasasti ini menceritakan tentang adanya tambak yang diserahkan kepada masyarakat untuk dikerjakan. Selain itu, rakyat tidak diharuskan untuk menyetor pajak kepada kerajaan, karena sawah itu untuk menunjang kemakmuran rakyat sekitar yang menjaga kejernihan Sungai Kalagyan. Namun, kemakmuran rakyat sirna setelah diserang air bah dari Sungai Brantas, yang menenggelamkan tanah maupun sawah rakyat. Bagian pertama prasasti ini berbunyi sebagai berikut: Sira ratu cakrawarta umanun pamanghanikan rat hita pratidina panlingananikan sabhuwanari tan sharta kewala cri maharaja, yawat kawanunann yaca donanya, an kap...
Prasasti Anjukladang berangka tahun 859 Saka atau 937 Masehi. Sayang sekali bahwa prasasti ini belum terbaca seluruhnya karena disebabkan tulisan-tulisan yang terpahat mengalami keausan, terutama pada bagian atas prasasti. Namun dari beberapa tulisan yang tidak mengalami aus dapat kiranya didapatkan keterangan sebagai berikut: Raja Pu Sindok telah memerintahkan agar tanah sawah kakatikan (?) di Anjukladang dijadikan sima dan dipersembahkan kepada bathara di sang hyang prasada kabhaktyan di Sri Jayamerta, dharma dari Samgat Anjukladang. Menurut J.G. de Casparis, penduduk Desa Anjukladang mendapat anugerah raja dikarenakan telah berjasa membantu pasukan raja di bawah pimpinan Pu Sindok untuk menghalau serangan tentara Malayu (Sumatera) ke Mataram Kuna yang pada saat itu telah bergerak sampai dekat Nganjuk. Atas jasanya yang besar, maka Pu Sindok kemudian diangkat menjadi raja. Selain itu, prasasti ini juga berisi tentang adanya sebuah bangunan suci. Dalam makalahn...
Prasasti Biluluk terdiri dari empat lempeng tembaga dengan aksara dan bahasa Jawa Kuna. Prasasti ini terdiri atas: · Biluluk I berangka tahun 1288 Saka (1366 M) · Biluluk II berangka tahun 1315 Saka (1383 M) · Biluluk III beangka tahun 1317 Saka (1385 M) · Biluluk IV tidak berangka tahun Isi prasasti Biluluk I sampai III sama, yaitu menyebutkan hak-hak yang dimiliki oleh Desa Biluluk dan Tanggulan. Pada prasasti keempat, selain menyebutkan nama Desa Biluluk dan Tanggulan, juga menyebutkan nama satu desa lagi, yakni Desa Papadang. Selain itu, dari prasasti Biluluk I diketahui adanya keterangan mengenai pembuatan garam di daerah pesisir. Dalam prasasti tersebut, disebutkan adanya sumber air asin di Desa Biluluk, t...
Prasasti Condrogeni I berangka tahun 1427 Çaka atau 1505 M, dengan menggunakan aksara Jawa Kuno (Merapi-Merbabu) dan berbahasa Jawa Kuno. Prasasti Condrogeni I merupakan upala praÅasti yang dipahatkan pada batu andesit berwarna keabu-abuan dengan bentuk stele dengan puncak meruncing, berjumlah 12 baris. Angka tahun dipahatkan di bagian paling atas, dan isinya hanya dipahatkan pada bagian depan ( recto ) saja. Sekarang, prasasti ini disimpan di Museum Nasional Jakarta dengan nomor inventaris D 125. Prasasti Condrogeni I mempunyai ukuran yang tidak sama antara sisi yang satu dengan sisi lainnya. Ukuran prasasti ini dari alas sampai puncak 64,5 cm, lebar tubuh 34,5 cm, dan lebar alas 27 cm. Prasasti dari masa Majapahit akhir ini ditemukan di Desa Pudak, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur, yang tepatnya berada di sisi barat daya gunung Wilis. Di dalam laporan yang termaktub di dalam OV tahun 1912, disebutkan b...
Prasasti GaramÄn dikeluarkan oleh MapaÅji Garasakan dari Kerajaan Janggala yang bergelar ÅrÄ« MahÄrÄja Rake Halu pada tahun 975 Çaka atau 1053 Masehi. Prasasti ini menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno periode Kediri yang sudah berkembang. Konon, prasasti ini ditemukan oleh seorang penduduk bernama Moh. Dahlan dari Dusun Mandungan, Kelurahan Widang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, pada 1 Juni 1985. Ia telah menyerahkan empat buah lempeng tembaga bertulis dari periode abad ke -11 kepada Pimpinan Proyek Pengembangan Museum Nasional Jakarta, dan mendapat imbalan sebesar 1,9 juta rupiah. Tidak diketahui di mana prasasti itu ditemukan. Lempeng pertama berukuran panjang 36,75 cm, lebar 11,70 cm,dan tebal 0.15 cm, ditulis pada satu sisi; lempeng kedua berukuran panjang 36,65, lebar 11,70 cm, dan tebal 0.15 cm, ditulis pada kedua sisinya; lemp...
Prasasti Hantang berangka tahun 1057 Saka (1135 M) ditemukan di Desa Ngantang, Malang dan terpahat dalam batu. Prasasti ini menjadi koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.9 Prasasti Hantang mempunyai keistimewaan, yaitu ada tulisan dengan huruf kuadrat yang besar melintang di tengah cap kerajaan berupa Narasingha yang berbunyi panjalu jayati (= Panjalu menang). Prasasti ini memperingati pemberian anugerah Raja Jayabhaya kepada Desa Hantang dengan 12 desa yang masuk dalam wilayahnya berupa prasasti batu yang memuat pemberian hak-hak istimewa kepada penduduk Desa Hantang beserta wilayahnya. Adapun sebabnya ialah pada suatu ketika penduduk Desa Hantang dengan 12 desa yang masuk dalam wilayahnya datang menghadap raja dengan perantara guru raja yaitu Mpungku Naiyayikarsana dengan permohonan agar prasasti yang ada pada mereka sebagai anugerah raja yang di- dharma -kan di Gajapada dan di Nagapuspa yang ditulis di atas daun lontar ( ripta ) di...
Prasasti ini ditemukan pada tahun 1869 di Desa Kujon Manis, Warujayeng, Kediri. Berdasarkan unsur penanggalannya, Damais mengatakan bahwa prasasti ini dikeluarkan pada tahun 856 Saka (934 M). Maklumat dalam prasasti ini cukup panjang, terdiri atas 35 baris di bagian muka, di bagian belakang mulai dari baris 11 hingga baris 38, bagian samping kiri 45 baris, dan samping kanan 47 baris. Namun, secara singkat prasasti ini menceritakan tentang Sri Maharaja Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa yang membebaskan sawah di Desa Hering dari pajak. Prasasti ini terpahat dalam batu, dan sekarang menjadi koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.67. ***
Prasasti Jeru-Jeru berangka tahun 852 Saka (930 M). Prasasti batu yang ditemukan di daerah Singasari, Jawa Timur ini merupakan koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.70. Prasasti ini mengisahkan bahwa pada tahun 852 Saka, Rakryan Hujung Pu Madhura memohon kepada Raja Isanawikramadharmottunggadewa agar daerah Jeru-Jeru dijadikan daerah sima . ***
Prasasti Kawambang Kulwan berangka tahun 913 Saka (992 M) dengan menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Prasasti yang terbuat dari batu padas dengan bentuk blok berpuncak lancip dengan tinggi 187, lebar 105 dan tebal 92 cm ini ditemukan di daerah Sendang Kamal, Kecamatan Maospati, Madiun, dan sekarang menjadi koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.37. Banyak kerusakan di beberapa bagian prasasti ini yang menyebabkan kesulitan dalam pembacaan dan sedikit mendapat informasi dari isi prasasti tersebut. Prasasti ini telah dibaca oleh J.L.A. Brandes walaupun hanya 12 baris bagian awal pada sisi depan. Prasasti Kawambang Kulwan boleh dikatakan belum diterbitkan sebagaimana mestinya. Apa yang terdapat dalam transkripsi Brandes sebagian kecil permulaannya saja, itu pun hanya dibaca satu sisi, sedang prasasti ini ditulis melingkar. Yang dapat ditangkap ialah bahwa prasasti ini memuat anugerah raja kepada Samgat Kanuruhan Pu Burung berupa sima dari Desa...