Dalam tahap ini peranan pihak ketiga tetap penting.dari pihak sigadis sebagai saksinya adalah bibinyasedangkan dari pihak laki laki adalah sini nana(satu marga).Pada saat pertukaran cincin dilakukan petukaran barang(cincin,kain dan lain2) kadang2 diakhiri dengan membuat ikrar atau janji yang disebut merbulaban. Kemudian salah satu pengetuai(saksi) mengucapkan kata2;kongpe uratni buluh,kongen deng urat ni teladan,kong pe katani hukum kongen deng kata ni padan Artinya walaupun hokum memiliki kekuatan namun lebih kuat lagi perjanjian sumber : http://bintangcren.blogspot.com/2013/10/adat-perkawinan-suku-pakpak.html
Muat nakan peradupen ini dilakukan setelah diketahui hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh kerabat calon pengantin laki2,setelah pelaksanaan mengkata utang.caranya dengann mengundang kierabat dekat khususnya kelompok perempuan untuk berkumpul untuk melakukan peundingan. Kegiatan ini dipimpin oleh sorang persinabul yang ditunjuk oleh sukut.setelah acara makan bersama selesai maka juru bicara akan memimpin dengan memberitahukan tujuan undangan tersebut,yakni telah ada kesepakatan antara kerabat calon pengantin perempuan dan kerabat calon laki2 saat mengkata utang. Sumber : http://bintangcren.blogspot.com/2013/10/adat-perkawinan-suku-pakpak.html
Sehari setelah delegasi pihak laki2 pulang,Maka ibu sang2 calon pengantin memberikan makanan kepada anak gadisnya secara khusus dengan memotong seekor ayam. Makanan ini disebut nakan panjalan atau nakan pangendotangis. Nakan panjalon artinya mas kawin dari calon menantu laki-lakinya telah diterima, kiranya gadis menerima keputusan tersebut dengan rela dan sengan hati. Pada waktu menyerahkan makanan tersebut ibu si gadis berkata : “ enmo beru kubereken komengan, imo nakan penjalon, enggoh kujalo kami tokormu, bai kalak simerkeleng ate bamu, asa mangan mono kono”. (inilah putriku kuberikan kamu makan, sebagai bukti bahwa kami talah menerima mas kawinmu dari orang yang mencintaimu, untuk itu makanlah). Pada saat menyerahkan makanan tersebut si ibu langsung menangis dengan syair : ternyata inilah makanan perpisahan, ibu berikan kepada anakku, tertawalah putriku ini ibumu, lebih baik rupanya ibu orang lain yang kamu bantu, sehingga kamu menerima pinangan orang lai...
Rebu tapin/lau merupakan larangan mandi bersama di tempat pemandian/tapin antara orang-orang yang menurut adat “erselisih” (beripar). Jika larangan ini dilanggar dapat dikenakan hukuman adat “Nabei” (denda adat) yakni dengan memotong hewan dan memberi makan semua penduduk kampung, sehingga pada Zaman dahulu semua orang kampung harus menjalankan rebu ini. Sumber : https://bataksiana.blogspot.com/2017/07/ini-mitos-mitos-dalam-kehidupan-orang.html
Rebu api ini merupakan larangan bersetubuh antara suami istri yang baru melahirkan atau baru “Dumberat” (Tidur dekat perapian karena baru melahirkan), jika larangan ini di langgar akibatnya sangat fatal bisa menyebabkan perceraian.itu adalah menurut mitos. Namun menurut pendekatan medis, hal in adalah wajar karena perempuan yang baru melahirkan masih akan mengeluarkan darah kotor pasca melahirkan selama 40 hari. Seandainya bersetubuh maka akan berdampak pada kesehatan reproduksi ibu yang baru melahirkan. Dalam kehidupan masyarkat adat Karo, adat rebu masih berlaku di sebagian daerah hingga saat ini. Sumber : https://bataksiana.blogspot.com/2017/07/ini-mitos-mitos-dalam-kehidupan-orang.html
ini adalah upacara yang dilakukan untuk lebih mendekatkan kepada sesembahanya. Masyarakat Simalungun jaman dahulu percaya bahya semua kebidupan di dunia ini diberikan oleh tuhan maka dari itu mereka percaya keselamatan merka tergantung juga kedekatan merakan dengan tuhan.Sama dengan agama ynag sudah dianut banyak masyarakat Simalungun bahawa keberadaan tuhan itu mutlak sehingga dituntut untuk mendekatkan diri pada-Nya. Sumber : https://shavainistia.wordpress.com/2016/06/07/upacara-adat-yang-masih-lestari-di-kabupaten-simalungun/
Patuekkon adalah tradisi memandikan bayi sebelum pemberian ana oleh kedua orang tua bayi tersebut. Menurut warga Batak nama erupakan doa yang akan selalu tersebut untuk anak tersebut kelak. Sumber :https://shavainistia.wordpress.com/2016/06/07/upacara-adat-yang-masih-lestari-di-kabupaten-simalungun/
Gorga Iran-iran berbentuk sejenis bahan perias muka manusia agar kelihatan lebih cantik. Gorga Iran-iran terletak di samping kiri dan kanan rumah adat Batak Toba. Fungsi • Lebih ditunjukkan kepada seseorang yang memiliki keindahan, kecantikan dan dapat diartikan sebagai seseorang yang suci. Gorga Iran-iran bermakna simbol kecantikan. Jadi, setiap orang yang menempati rumah itu adalah orang yang cantik dari wajah maupun perilaku dalam kehidupan sehari-harinya. Universitas Sumatera Utara • Sebagai lambang hiasan untuk memperindah rumah adat Batak Toba. Rumah tanpa perabot tidaklah indah dilihat, begitu juga gorga, tanpa adanya ukiran-ukiran tersebut rumah tersebut tidak akan indah. Makna Gorga Iran-iran ini dianggap sebagai simbol kecantikan. Manusia jika di hias akan kelihatan cantik. Begitu juga halnya dengan rumah adat Batak Toba, setiap sisi rumah adat di ukir ornamen-ornamen yang berfungsi untuk memperindah rumah adat tersebut. Gorga...
Gorga Silintong berbentuk seperti pusaran air yang dianggap memiliki kesaktian. Gorga Silintong ini biasanya terdapat di rumah orang-orang yang dianggap berilmu tinggi datu, raja, guru, dan sebagainya. Terletak di samping sisi bawah rumah adat Batak Toba. Fungsi • Menunjukkan sikap dan perilaku kepintaran dan kesaktian. Gorga Silintong bermakna kesaktian untuk melindungi manusia dari segala bala. Universitas Sumatera Utara Jadi, setiap orang yang menempati rumah itu adalah orang-orang yang sakti dalam melindungi dirinya sendiri dari segala bahaya yang datang. • Sebagai lambang hiasan untuk memperindah rumah adat Batak Toba. Rumah tanpa perabot tidaklah indah dilihat, begitu juga gorga, tanpa adanya ukiran-ukiran tersebut rumah tersebut tidak akan indah. Makna Gorga Silintong ini melambangkan kesaktian yang bisa melindungi manusia dari segala bala. Gorga Silintong ini biasanya terdapat di rumah orang-orang yang dianggap berilmu tinggi seperti: da...