Ramayana Ballet merupakan sebuah perjuntukan yang diselenggarakan di lokasi Candi Prambanan. Berasal dari puisi, cerita hindu yakni Ramayana: The Legend of Prince Rama yang berasal dari India, namun ditampilkan dengan penari penari dan tarian tradisional khas jawa serta musik Jawa mempresentasikan kebudayaan lokal jawa yang menakjubkan. Menceritakan tentang perjalanan cinta antara Rama Wijaya, pangeran dari Kerajaan Ayodya dan Dewi Shinta, putri dari raja Kerajaan Mantili, Prabu Janaka yang berliku. Prabu Rahwana, raja dari Kerajaan Alengkadiraja yang mengira Shinta adalah inkarnasi dari pujangga hatinya yakni Dewi Widowati, menculik Dewi Shinta yang mengakibatkan pertengkaran antara Rama dan Hnuman, melawan Rahwana untuk menyelamatkan Shinta. Bagian yang paling menarik dari pertunjukan ini adalah pertunjukan tarian menggunakan api yang menegangkan.
diciptakan oleh: Catje Hehanusa Balengganglah patah tanjunglah balenggang lombosee Marilah beta gendong beta kawin dengan see Kawinlah baik baik jangan laki bakalai Kalu laki bakalai minta pulang lebih baik Ole sioh sioh sayange
Kompang merupakan sejenis alat musik tradisional yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Melayu pada umumnya. Hampir mirip dengan alat musik rebana, Kompang merupakan alat musik tradisional dari Provinsi Lampung yang dibuat dari kayu dan kulit kambing. Di beberapa daerah di Lampung, alat musik Kompang juga disebut dengan Khaddap. Keberadaan alat musik ini dikaitkan dengan penyebaran agama Islam di Indonesia. Kompang terdiri dari berbagai ukuran. Ada yang berukuran garis pusat sepanjang 22.5 cm, 25 cm, 27.5 cm dan ada juga yang mencapai 35 cm. Kompang dimainkan secara beregu dalam keadaan duduk, berdiri atau berjalan. Jika kompang dimainkan dalam acara berzanji, pemain akan duduk bersila atau duduk di atas kursi. Jika dimainkan dalam acara pernikahan dan pawai menyambut pejabat daerah atau pejabat negara, pemain kompang ini berjalan mengiringi pengantin atau pejabat daerah, atau pejabat negara tersebut. Kompang dimainkan den...
Cakalele merupakan tarian tradisional Maluku yang dimainkan oleh sekitar 30 laki-laki dan perempuan. Para penari cakalele pria biasanya menggunakan parang dan salawaku sedangkan penari wanita menggunakan lenso (sapu tangan). Cakelele merupakan tarian tradisional khas Maluku. Para penari laki-laki mengenakan pakaian perang yang didominasi oleh warna merah dan kuning tua. Di kedua tangan penari menggenggam senjata pedang (parang) di sisi kanan dan tameng (salawaku) di sisi kiri, mengenakan topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna putih. Sementara, penari perempuan mengenakan pakaian warna putih sembari menggenggam sapu tangan (lenso) di kedua tangannya. Para penari Cakalele yang berpasangan ini, menari dengan diiringi musik beduk (tifa), suling, dan kerang besar (bia) yang ditiup.
Nah, salah satu instrument yang membuat Gamelan Bali ini berbeda dari Gamelan yang lain adalah adanya Ceng-ceng. Alat musik yang sejenis simbal ini merupakan bagian penting dari seperangkat gamelan Bali, karena alat ini akan menimbulkan efek suara yang dinamis pada saat di mainkan dengan gamelan. Alat musik tradisional Bali yang sering juga disebut dengan ceng-ceng ricik ini terdiri dari enam buah logam bundar yang berada di bawah dan dua logam bundar di bagian atas. Ceng-ceng dimainkan dengan cara memukulkan bagian tembaga bundar yang atas dengan bagian bundar yang bawah yang diarahkan ke atas. Alat musik yang bentuknya menyerupai kura-kura ini, membuat orang berpendapat kalau bentuk alat musik tradisional Bali ini mengambil gambaran dari tokoh Legenda Bali yaitu Kura-Kura mistis. Menurut kebudayaan Bali, kura-kura mistis memiliki nilai yang magis yaitu dapat menyeimbangkan dunia di atas punggungnya.
Pereret termasuk salah satu alat musik tradisional Bali jenis terompet yang terbuat dari kayu yang di ukir sedemikian rupa sehingga menjadi seperti terompet. Sedangkan Pengasih-asih adalah guna-guna (pelet). Alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup ini berasal dari Jembrana Bali. Alat musik ini biasanya digunakan untuk mengiringi kesenian Sewo Gati yaitu kesenian yang mirip dengan kesenian Arja. Biasanya alat ini sering dipakai oleh perjaka untuk mengguna-gunai seorang gadis yang dicintai nya, lalu memainkannya pada malam hari diatas pohon yang tinggi, sehingga suaranya bisa didengar sayup-sayup merdu dari jarak kurang lebih satu kilometer. Sebelum dipakai, alat tersebut terlebih dahulu diisi dengan kekuatan gaib oleh Jero Balian (Dukun) dengan cara memberi sesajen sakral yang dipersembahkan kepada Sanghyang Pasupati.
Katipak katipuang babunyi lah nyo gandang Rami lah urang baralek di Rumah Gadang Nan ditingkah jo musik, silek tari jo galombang Banyak lah urang mananti marapulai datang Nan ditingkah jo musik, silek tari jo galombang Banyak lah urang mananti marapulai datang Duduak basandiang nak daro jo marapulai Selo basimpuah yo urang di bawah tirai Bujang nan jo gadih iyo banyak nan maintai Darah badabok hai yo bilo mukasuik sampai Bujang nan jo gadih iyo banyak nan maintai Darah badabok hai yo bilo mukasuik sampai Reff: Samangkin malam yo alek, iyo samangkin lah rami Tuo jo mudo manari, iyo tagak lah manari Kipeh basabuang ondeh mak, iyo kiri lah jo kanan Nak daro rancak yo kamek, marapulainyo nan manih Marilah kito ucapkan, salamaik panjang jodohnyo Marilah kito doakan, hiduik rukun rumah tanggo Marilah kito ucapkan, salamaik panjang jodohnyo Marilah kito doakan, hiduik rukun rumah tanggo Samangkin laruik yo malam iyo lah langang Banyak l...
Keteng-keteng adalah alat musik pukul tradisional Suku Karo dari Sumatera Utara yang berbahan dasar dari bambu . Keteng-Keteng memiliki panjang sekitar setengah meter dan memiliki senar yang terbuat dari kulit bambu itu sendiri. Alat pemukul keteng-keteng juga terbuat dari potongan bambu dan terdiri dari dua buah. Cara memainkannya dengan menabuhnya seperti drum, perpaduan suara yang unik antara suara bambu yang dipukul dan senar membuatnya jadi ciri khas tersendiri dari Tanah Karo
Rudat adalah kesenian tradisional khas Banten yang merupakan perpaduan unsur tari, syair shalawat, dan olah kanuragan yang berpadu dengan tabuhan terbang dan tepuk tangan. Rudat terdiri dari sejumlah musik perkusi yang dimainkan oleh setidaknya delapan orang penerbang (pemain musik ) yang mengiringi tujuh hingga dua belas penari.Menurut beberapa tokoh Rudat, nama Rudat diambil dari nama alat yang dimainkan dalam kesenian ini. Alat musik tersebut berbentuk bundar yang dimainkan dengan cara dipukul. Seni Rudat mulai ada dan berkembang pada masa pemerintahan Sinuhun Kesultanan Banten II, Pangeran Surosowan Panembahan Pakalangan Gede Maulana Yusuf (1570-1580 M). Tidak banyak yang mengetahui siapa yang menciptakan kesenian ini, karena sekarang sesepuh yang mengetahui seluk-beluk Rudat sangat sedikit bahkan sebagian sudah meninggal. Naskah yag berisi sejarah Rudat dan nilai-nilai filosofis tentang rudat pun hanya dimiliki oleh satu sampai dua orang yang sal...