Jika mendengar kata “barong” yang terlintas dibenak kita adalah barongsay atau barong dari Bali. Di Wikipedia dijelaskan bahwa Kesenian Barongan adalah karakter dalam mitologi Jawa , Sunda , Madura dan Bali . Ia adalah raja dari roh-roh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda dalam mitologi Jawa, Bali. Banas Pati Rajah adalah roh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Rajah dipercayai sebagai roh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung, Barong sering ditampilkan sebagai seekor singa. Jadi memang betul jika barongan dikenal di tanah Jawa dan Bali. Jika di Tegal sendiri, kesenian barongan merupakan kesenian yang cukup langka. Karena hanya dipertontonkan pada saat acara tertentu saja, seperti pawai HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, atau ada acara hajatan khitanan warga. Salah satunya kesenian tradisional barongan yang kemarin malam sempat dipertontonkan di daerah Kramat, Pantu...
Tawur, namun bukan tawuran yang diartikan dengan tindakan kekerasan lho ya? Tawur/ Sawur ini dalam bahasa Tegalnya adalah melempar/ menyebarkan sesuatu untuk diambil baik orang maupun hewan. Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada saat hajatan nikahan atau khitanan. Yang ditawurkan adalah uang koin mulai pecahan Rp. 100 hingga Rp. 1.000 (kadang ada juga yang menggunakan uang kertas yang digulung) yang dicampur dengan beras. Ada yang menggunakan beras biasa, ada juga yang diwarnai dengan warna kuning (kunir). Prosesinya pun tak terlalu rumit, karena warga sekitar biasanya sudah bergerombol sembari menunggu panggilan yang memiliki hajat. Beras dan uang dilemparkan / ditawurkan di kerumunan warga, serta merta warga berebut mengambil uang tersebut. kemudian bagaimana dengan berasnya? Biasanya berasnya menjadi santapan ayam Lain halnya di dukuh Bujil, desa Dukuh Benda, Bumijawa, Kab. Tegal. Tradisi Tawur ini dilaksanakan pada hari Jum’at pertama setelah Idul Fitri. Namun...
Tari Angsa adalah tarian tradisional dari Jawa Tengah. Tari angsa memiliki sesuatu hal dan makna yang berbeda pada satu gerakan dengan gerakan lainnya, sehingga pada jenis tarian tertentu ada yang terkenal terhadap kalangannya dan ada juga yang kurang terkenal yang disebabkan dari beberapa gerakan belum pernah terlihat atau terlihat kaku. Sumber: https://ibnuasmara.com/tari-tradisional/
Kebudayaan tradisional Banyumas adalah wujud dari kekayaan budaya berwujud maupun tak berwujud yang muncul dan berkembang di tanah bekas Karesidenan Banyumas, mencakup Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Purbalingga, ugah Kabupaten Banjarnegara. Sesuai akan letak geografisnya, berbagai macam kesenian di wilayah itu didapat pengaruhnya pusat kebudayaan dari keraton Mataram Surakarta, Yogyakarta, dan Sunda. Namun seiring dengan berkembangnya zaman, berbagai pengaruh dari luar Banyumas itu sekedar memperkaya khasanah saja, sebab kesenian Banyumas mempunyai karakternya sendiri, yaitu sebuah entitas budaya ngapak. Bahkan Kekhasan tradisi Banyumas mempengaruhi terhadap budaya sekitar, diantaranya wilayah Pekalongan dan bekas karesidenan Kedu. Sumber: https://ibnuasmara.com/tari-tradisional/
Tari Gambyong Pareanom adalah tari tradisional dari daerah Surakarta. Tarian ini umumnya dipertunjukan pada acara-acar besar juga festival. Banyak para wisatawan berbagai negara menyukainya dikarenakan Tari Gambyong Pareanom memiliki keunikan tersendiri. Sumber: https://ibnuasmara.com/tari-tradisional/
Tari Emprak adalah jenis pengembangan dari kesenian rakyat Emprak, seperti seni peran yang menunjukkan pesan moral, dibarengi dengan musik yang umumnya berupa salawatan. Tari Emprak berasal dari Jepara, Jawa Tengah. Sumber: https://ibnuasmara.com/tari-tradisional/
Ebeg merupakan sebuah kesenian tari daerah dari Banyumas yang memakai boneka kuda yang dibuat dari anyaman bambu dan bentuk kepalanya diberikan ijuk sebagai rambut. Tarian Ebeg ini di Banyumas mengkisahkan prajurit perang yang lagi menunggang kuda. Gerak tari yang mengekspresikan kegagahan diperlihatkan oleh pemain Ebeg. Sumber: https://ibnuasmara.com/tari-tradisional/
tari kebo kinul merupakan tarian rakyat yang berada di kabupaten sukoharjo.tarian ini biasanya diiringi oleh dialog,tarian ,karawitan dan alur cerita. awal dari terciptanya tarian ini yaitu di Desa Genengsari Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo.yang mana zaman dahulu banyak warga yang menanam tanaman terdapat hama ,terus kemudian diciptakannya kebo kinul atau yg biasa disebut orong-orongan sawah. Kebo Kinul adalah penjaga tanaman berbentuk orang-orangan dari jerami yang diyakini oleh masyarakat sekitarnya sebagai simbol kesuburan.
Perayaan yang dilakukan setiap bulan Maulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan khusus pada tanggal 12 Maulud, akan diadakan beberapa rangkaian acara yang disebut Grebeg Maulud. Rangkaian Grebeg Maulud meliputi: Tabuhan Gamelan Pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari: Sebuah pembukaan dari Pembuka Maleman Sekaten. Berupa penabuhan dua buah gamelan yang dibawa dari keraton ke Masjid Agung Solo pada tanggal 5 maulud. Kedua gamelan tersebut terus ditabuh hingga menjelang pelaksanaan Grebeg Gunungan Sekaten, 7 hari kemudian. Jamasan Meriam Pusaka Kyai Setomi: Proses membersihkan meriam pusaka yang terletak di Bangsal Witono, disebelah utara Keraton Kesunanan Surakarta. Dilakukan 2 hari sebelum Grebeng Gunungan Sekaten Pengembalian Gamelan Pusaka ke dalam Keraton: Sebelum pemberian sedekah Raja, para abdi membawa gamelan kembali ke dalam keraton. Gamelan Kyai Guntur Madu langsung dimasukkan ke dalam ruang pusaka, sedangkan milik Kyai Guntur Sari diletakkan di depan...