Salah satu peralatan dapur yang memegang peranan penting dalam kebutuhan rumah tangga adalah wajan. Wajan merupakan salah satu peralatan dapur yang digunakan untuk menggoreng, memasak sayur, menyangrai kacangkacangan ataupun menumis makanan. Masyarakat di daerah Aceh menyebut wajan dengan blangong sudu (Sulaiman, 1993/1994:33). Pada jaman dahulu wajan yang digunakan untuk memasak terbuat dari tanah liat ataupun besi. Namun sekarang sudah jarang sekali penggunaan wajan tanah liat atau besi untuk memasak, digantikan dengan wajan aluminium ataupun stainless steel. Wajan tradisional dari tanah liat penggunaannya masih terbatas untuk menyangrai dan memasak sayur. Untuk menggoreng masyarakat jaman dulu menggunakan wajan besi. Wajan besi warnanya hitam dan lebih berat jika dibandingkan dengan wajan tanah liat. Apabila tidak dirawat dengan baik biasanya wajan yang terbuat dari besi ini mudah berkarat. Wajan bentuknya cekung mirip parabola yang d...
Tatanan sanggul belakang yang berbentuk bokor mengkurep tidak diberi jebehan, tetapi diberi hiasan berupa burung merak. Untuk sanggul ukel tekuk gaya Surakarta (Solo) ciri – cirinya berbentuk lebar atas dan dilengkapi hiasan untaian bunga melati yang disebut once “bangun tulak”. Bagian bawah sanggul dipasang untaian melati yang ditempatkan menjuntai ke depan dada, yang dinamai menurut bahasa Jawa sebagai tibo dodo. Rambut pada sisi kiri-kanan kepala ditata sedemikian rupa sehingga memunculkan bagian yang sedikit melebar dan agak meruncing yang dinamai sebagai sunggar. Di bagian atas sanggul disematkan hiasan kepala yang disebut cunduk menthul, yang berbentuk flora fauna seperti: bunga seruni, kupu, kijang, gajah, dan lain-lain. Jumlah cunduk methul anatara 7 (pitu dalam bahasa Jawa) melambangkan pitulung, ataupun berjumlah 9 yang melambangkan walisanga. Angka 5 pada jumah cunduk menthul mel...
Merupakan sanggul resmi atau sanggul kebesaran yang berbentuk memanjang layaknya kupu-kupu tarung. Masyarakat Jawa jaman dulu meyakini, bahwa kupu-kupu yang hinggap di rambut (terutama kupu-kupu kuning) merupakan pertanda bahwa rezeki dan kebahagiaan akan menghampiri orang yang bersangkutan. Penggunaan sanggul ukel ageng bagi remaja putri dipakai dengan sematan pandan. Sedangkan bagi perempuan pada umumnya, sanggul ukel ageng dipakai dengan campuran pandan dan bunga mawar serta kenanga. Sedangkan bagi mereka yang sudah bersuami, sanggul ukel ageng dihias dengan bunga mawar tulak melati. Jenis sanggul ini tidak cocok dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Lebih cocok dikenakan pada situasi resmi, digabungkan dengan dodotan kebesaran. Sumber: http://www.dewisundari.com/berbagai-macam-sanggul-jawa/
Sanggul ukel konde berasal dari Solo, Jawa Tengah. Di daerah tersebut jaman dulu, baik remaja putri maupun wanita dewasa umumnya memiliki rambut panjang. Sehingga untuk memudahkan dalam beraktitas, rambut perlu digelung sedemikian rupa sehingga membentuk gulungan konde. Saat ini, sanggul ukel konde termasuk jenis sanggul yang dipakai secara resmi. Wujudnya tradisional, tetapi tetap digemari sampai sekarang. Sanggul ukul konde sudah umum dipakai oleh para gadis dan orang dewasa zaman dahulu karena umumnya rambut wanita selalu panjang,bentuk sanggul ini kecil terletak agak diatas kepala dan berbentuk bulat menonjol 1. PERALATAN YANG DIGUNAKAN Sisir Minyak rambut(cem ceman) Jepit dan Harnal Harnet Karet 2. ORNAMEN/PERHIASAN SANGGUL tusuk konde Tusuk konde dari kulit penyu yang diletakan kanan dan kiri sanggul 3. CARA MEMBUAT SANGGUL &nbs...
Sanggul resmi atau sanggul kebesaran ini bentuknya memanjang seperti kupu-kupu tarung. Menurut kepercayaan suku Jawa, kupu-kupu yang hinggap dirambut, terutama kupu-kupu kuning, merupakan perlambang bahwa rezeki dan kebahagiaan akan datang. Untuk itu cara penggunaan sanggul: Bagi putra-putri remaja, ukel ageng dipakai dengan pandan. Bagi umum, ukel ageng dipakai dengan pandan dan dicampur dengan bunga mawar serta kenanga. Bagi putra-putri yang sudah bersuami, ukel ageng dipakai dengan bunga mawar tulak melati. Ukel Ageng Bangun Tulak cocok dipakai sehari-hari, pada situasi resmi, dan pada dodotan kebesaran. Sumber: https://www.slideshare.net/neollapride24/sanggul-ukel-konde-dari-solo-jawa-tengah
Untuk merawat sanggul secara tradisional dipergunakan berbagai ramuan daundaunan, antara lain ; Batang padi kering yang sudah di bakar dan direndam dalam air, yang kemudian dijadikan bahan sebagai pengganti shampoo. Daun dadap serep di pakai untuk mendinginkan rambut. Air asam kawak dipakai untuk menghilangkan ketombe. Air santan dipakai untuk mengkilapkan, melemaskan dan menyuburkan rambut Daun pandan atau daun mangkokan dicampur dengan minyak kelapa untuk membuat minyak cem-ceman, guna memperlambat tumbuhnya uban, mengkilapkan rambut serta mengharumkan rambut. Sumber: https://www.slideshare.net/neollapride24/sanggul-ukel-konde-dari-solo-jawa-tengah
Supit Urang garuda mungkur, ialah bentuk gelung yang pada bagian belakangnya menggunakan hiasan garuda mungkur seperti yang dikenakan oleh tokoh wayang Setyaki, Samba, Abimanyu, dan lain-lain yang sejenis. Gelung Cupit Urang Sering juga diucapkan gelung supit urang atau sapit urang, adalah model gelung yang digunakan oleh Arjuna, Permadi, Pandu Dewanata, Sakri, Gatotkaca, Antareja, Laksmana, Ramawijaya sebelum menjadi raja, suryaputra (Karna Muda), Nakula, Sadewa, dll. Sebagian orang menyebut gelang semacam itu dengan nama gelung kadal menek. Gelung supit urang ada yang polos, ada yang memakai jamang, dan ada pula yang memakai garuda mungkur. Gelung wayang merupakan bagian dari pengetahuan seni kriya Wayang, baik Wayang Kulit purwa, Wayang Orang, wayang Golek Purwa dan beberapa jenis wayang lainnya. Gelung wayang merupakan bentuk stilir dari gelung rambut atau konde atau sanggul. Dalam dunia seni kriya Wayang Kulit Purwa dan Way...
Gelung wayang merupakan bagian dari pengetahuan seni kriya Wayang, baik Wayang Kulit purwa, Wayang Orang, wayang Golek Purwa dan beberapa jenis wayang lainnya. Gelung wayang merupakan bentuk stilir dari gelung rambut atau konde atau sanggul. Dalam dunia seni kriya Wayang Kulit Purwa dan Wayang Orang, dikenal adanya sekitar sepuluh macam bentuk gelung wayang. Berikut ini adalah jenis-jenis gelung wayang itu. Gelung Cupit Urang. Sering juga diucapkan gelung supit urang atau sapit urang, adalah model gelung yang digunakan oleh Arjuna, Permadi, Pandu Dewanata, Sakri, Gatotkaca, Antareja, Laksmana, Ramawijaya sebelum menjadi raja, suryaputra (Karna Muda), Nakula, Sadewa, dll. Sebagian orang menyebut gelang semacam itu dengan nama gelung kadal menek. Gelung supit urang ada yang polos, ada yang memakai jamang, dan ada pula yang memakai garuda mungkur. Supit Urang polos tanpa hiasan seperti yang dikenakan oleh tokoh wayang Anoman, Bima, Arjuna, Nakula-Sadewa, dan lain-lain ya...
Supit Urang Sanggan, ialah bentuk gelung yang bersumping seperti yang terlihat pada wayang Nakula dan Sadewa. Gelung wayang merupakan bagian dari pengetahuan seni kriya Wayang, baik Wayang Kulit purwa, Wayang Orang, wayang Golek Purwa dan beberapa jenis wayang lainnya. Gelung wayang merupakan bentuk stilir dari gelung rambut atau konde atau sanggul. Dalam dunia seni kriya Wayang Kulit Purwa dan Wayang Orang, dikenal adanya sekitar sepuluh macam bentuk gelung wayang. Berikut ini adalah jenis-jenis gelung wayang itu. Gelung Cupit Urang. Sering juga diucapkan gelung supit urang atau sapit urang, adalah model gelung yang digunakan oleh Arjuna, Permadi, Pandu Dewanata, Sakri, Gatotkaca, Antareja, Laksmana, Ramawijaya sebelum menjadi raja, suryaputra (Karna Muda), Nakula, Sadewa, dll. Sebagian orang menyebut gelang semacam itu dengan nama gelung kadal menek. Gelung supit urang ada yang polos, ada yang memakai jamang, dan ada pula yang memakai garuda mungkur....