Pletokan dibuat dari bambu, panjang 30 cm dengan diameter 1-1/2 cm. Bambu dipilih yang kuat dan tua supaya tidak cepat pecah. Bambu dibagi dua. Untuk penyodok, bambu diraut bundar sesuai dengan lingkaran laras dan bagian pangkal dibuat pegangan sekitar 10 cm. Potongan bambu yang lain, ujungnya ditambahkan daun pandan atau daun kelapa yang dililit membentuk kerucut supaya suaranya lebih nyaring. Peluru dibuat dari kertas yang dibasahkan, kembang, atau pentil jambu air. Peluru dimasukkan ke lubang laras sampai padat lalu disodok. Peralatan yang dibutuhkan berupa bambu diameter 1 atau 1,5 cm dan panjang 30-40 cm sebagai laras bedil (bentuk pipa) dan sebagai tolak adalah batangan belahan bambu yang dihaluskan. Sebagai peluru: bunga jambu air, kertas, daun-daunan dan sejenisnya. Cara Bermain: Cara menembak adalah pertama peluru dimasukkan dengan batang penolak sampai ke ujung laras. Peluru kedua dimasukkan dan ditolak dengan batang penolak. Peluru kedua ini mempunyai do...
Keris adalah senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris adalah badik. Senjata tikam lain asli Nusantara adalah kerambit. Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan,[1] sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya. Penggunaan keris tersebar pada masyarakat penghuni wilayah yang pernah terpengaruh oleh Majapahit, seperti Jawa, Ma...
Dalam Wacana dan Khasanah Kebudayaan Nusantara, Kujang diakui sebagai senjata tradisional masyarakat Masyarakat Jawa Barat (Sunda) dan Kujang dikenal sebagai senjata yang memiliki nilai sakral serta mempunyai kekuatan magis. Beberapa peneliti menyatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata Kudihyang dengan akar kata Kudi dan Hyang. Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya/penyakit. Senjata ini juga disimpan sebagai pusaka, yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya dengan meletakkannya di dalam sebuah peti atau tempat tertentu di dalam rumah atau dengan meletakkannya di atas tempat tidur (Hazeu, 1904 : 405-406) Sedangkan Hyang dapat disejajarkan dengan pengertian Dewa dalam beberapa mitologi, namun bagi masyarakat Sunda Hyang mempunyai arti dan kedudukan di atas Dewa. Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai p...
Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Barat dari daerah Bogor , Di daerah Bogor terdapat beberapa kesenian teater rakyat. Salah satu diantaranya seni Blantek. Seni Blantek yang berada di daerah Bogor ini termasuk rumpun seni tipeuh, oleh karena itu disebut juga topeng Blantek. Istilah Blantek dalam kesenian ini adalah campur aduk, tidak karuan, tidak semestinya atau masih dalam tahap belajar. Selain itu ada juga yang menyebutkan bahwa Blantek itu akronim dari Blan dan Tek. Blan asal kata dari musik rebanan yang dipergunakan untuk mengiri seni Blantek. Sedangkan tek asal kata dari kotek nama salah satu rebana pada alat musik kesenian tersebut. Blantek dalam arti tidak karuan campur aduk dan tidak semestinya didasari oleh anggapan bahwa kesenian ini dalam penyajiannya memasukkan unsur-unsur kesenian lain seperti rebana, ketuk tilu, dan topeng. Demikian pula bentuk kesenian ini tidak jauh berbeda dengan topeng yang berada di Cisalak. Kedua pengertian Blantek topeng Blantek...
Ongol-Ongol adalah salah satu makanan ringan tradisional di Daerah Jawa Barat, Indonesia . Bahannya antara lain terdiri dari tepung sagu aren kering (bahan utama), air, gula Jawa , daun pandan , kelapa dan garam .
Bandrék adalah minuman tradisional orang Sunda dari Jawa Barat , Indonesia , yang dikonsumsi untuk meningkatkan kehangatan tubuh . Minuman ini biasanya dihidangkan pada cuaca dingin, seperti di kala hujan ataupun malam hari . Bahan dasar bandrék yang paling penting adalah jahe dan gula merah , tetapi pada daerah tertentu biasanya menambahkan rempah-rempah tersendiri untuk memperkuat efek hangat yang diberikan bandrék, seperti serai , merica , pandan , telur ayam kampung , dan sebagainya. Susu juga dapat ditambahkan tergantung dari selera penyajian. Banyak orang Indonesia percaya bahwa bandrék dapat menyembuhkan berbagai penyakit ringan seperti sakit tenggorokan , batuk , dan lain sebagainya. Di Bandung , biasanya penjual menambahkan sejumput kerukan kelapa untuk...
Karedok atau keredok adalah salah satu makanan khas Sunda di Indonesia . Karedok dibuat dengan bahan-bahan sayuran mentah antara lain; mentimun , taoge , kol , kacang panjang , daun kemangi , dan terong . Sedangkan sausnya adalah bumbu kacang yang dibuat dari cabai merah, bawang putih , kencur , kacang tanah , air asam , gula jawa , garam , dan terasi .
Kolontong adalah Makanan Khas Indonesia Yang berasal dari Daerah Sunda Jawa Barat Makanan ini akan dapat kita Jumpai Didaerah Banten , Cianjur , Sukabumi , Bandung Dan Daerah Lainnya di Jawa Barat Selain Rasanya yang Manis dan Renyah Kolontong juga bisa dijadikan makanan Snack sebagai teman untuk minum kopi. Biasanya masyarakat Sunda membuat Kolontong disaat hari-hari besar Seperti Lebaran , Hajatan , Dan acara-acara lainnya, walaupun terbilang langka Kolontong ini harganya masih relatif terjangkau.
Merupakan warisan budaya dunia yang telah terdaftar di UNESCO sejak 2005. Keris termasuk jenis belati dengan ujung yang runcing dan tajam di kedua sisinya yang berkelok. Pada awalnya sering digunakan untuk peperangan dan pelengkap sesajian dan dibawa sejak mulai zaman majapahit.