Omed-omedan dalam bahasa Indonesia berarti tarik-menarik. Acara omed-omedan biasanya digelar sehari setelah perayaan Hari Raya Nyepi. Salah satu desa yang masih menyelenggarakan acara ini adalah Desa Sesetan, Denpasar, Bali. Para anak muda berusia 17-30 tahun di desa ini yang belum menikah akan turut berpartisipasi dalam acara omed-omedan. Omed-omedan, saling kedengin, saling gelutin. Diman-diman... Omed-omedan, besik ngelutin, ne len ngedengin. Diman-diman... Begitulah penggalan lirik lagu yang dinyanyikan para pemuda dan pemudi Desa Sesetan. Gelut berarti saling berpelukan, diman diartikan sebagai mengungkapkan rasa kasih sayang dengan ciuman, siam yang berarti siram, dan kedengin yang berarti tarik menarik. Ya, inti dari acara omed-omedan ini adalah peluk, cium, siram lalu tarik! Begitu terus, berulang sampai semua pemuda dan pemudi Desa Sesetan mendapatkan giliran. Tradisi Omed-omedan ini bertujuan untuk memperkuat rasa Asah, Asih, dan Asuh antar warga, khususnya warga Banja...
https://press.uchicago.edu/ucp/books/book/chicago/K/bo25832222.html
Permainan tradisional ini dilakukan secara berkelompok yang terbagi menjadi 2 kelompok. Masing-masing regu terdiri dari 5 orang sampai 11 orang. Masing-masing kelompok berperan sebagai goak serta mangsa. Selanjutnya, pemimpin dari goak harus berusaha untuk menangkap peserta yang berada di baris paling belakang kelompok lawan. Pelaksanaan permainan ini bisa dilakukan di lapangan dengan ukuran yang cukup luas. Agar permainan berlangsung lebih seru dan menyenangkan, permainan megoak-goakan ini kerap dilakukan di area berlumpur. Karena keseruannya, para wisatawan asing pun kerap tertarik untuk ikut bermain. Hanya saja, usaha untuk saling menangkap ekor yang dilakukan oleh kelompok yang menjadi goak dibatasi oleh waktu. Biasanya, batas waktunya adalah selama 5 menit. Kalau tak bisa menangkap ekor kelompok lawan dalam batas waktu tersebut, dipastikan goak kalah.
Gebug Ende” dapat dijelaskan sebagai olahraga yang berfungsi melatih ketangkasan dan keberanian dalam pertempuran. Konon olahraga ini merupakan latihan perang pasukan inti kerajaan Karangasem tempo dulu. Olahraga yang diwarnai dengan keterampilan ngebug (memukul) dan nangkis (menangkis), bukan saja dilakukan oleh orang dewasa tetapi juga oleh anak-anak. Hanya saja peralatan seperti pecut (alat ngebug) dan ende (alat menangkis) untuk anak-anak ukurannya lebih kecil dan tidak berbahaya. Cara memainkan: Permainan atau olahraga itu selalu dilakukan dalam bentuk bertanding tunggalan, satu lawan satu. Tiap pemain membawa sebuah pecut yang dibuat dari rotan dengan ukuran panjang 130 cm untuk anak-anak dan 145 cm untuk dewasa. Untuk memudahkan memegang, pada bagian pangkalnya dipasang antol yaitu ikatan tali sehingga pecut itu tidak gampang lepas. Pecut yang dipegang dengan sebelah tangan itu digunakan untuk menyerang lawan main. Sebelah tangan lainnya memegang ende yaitu alat pen...
Permainan makebo-keboan merupakan permainan tradisional yang dimana anak-anak akan mempemainkan "kerbau" yang lehernya diikat dengan beberapa utas tali, lalu diarak bersama-sama sambil bersorak-sorai menandakan kegembiraan anak-anak. Begitu juga dengan "kerbau" ini tidak tinggal diam. Dia meronta sambil menarik tali-tali pengikatnya. Tarik-menarik inilah yang memerlukan tenaga, kegesitan dan tipu daya dari setiap pemain. Pemain yang bergabung salam satu kelompok untuk melawan "kerbau" dituntut untuk memiliki rasa toleransi, gotong royong serta kerja sama yang baik antara sesama rekan kelompoknya. Dalam melakukan permainan kebo-keboan ini tidak dituntut persyaratan khusus yang mengikat. Tidak ada larangan bagi siapapun yang berminat untuk ikut melaksanakan permainan ini. Baik dari golongan bangsawan maupun dari lapisan masyarakat biasa. Penting untuk diperhatikan oleh anak-anak bahwa permainan ini membutuhkan tenaga yang tidak sedikit. Oleh karena itu...
Megala-gala merupakan permainan yang berasal dari provinsi Bali. Permainan ini tidak hanya ada di daerah Denpasar saja tetapi juga dimainkan di selururh daerah di provinsi Bali Megala-gala berasal dari satu suku kata yaitu gala yang artinya rintangan. Dalam permainan satu regu harus melewati suatu rintangan dari regu lain atau lawan untuk mencapai tujuannya. Adapun kesan yang ingin ditampilkan dalam permainan megala-gala ini adalah agar kita dapat merasakan kembali dan mengingatkan bagaimana keseruan dan kegembiraan dalam permainan tradisional yakni megala-gala. Fenomena tersebut diimplementasikan dalam garapan tabuh kreasi baru yang masih mengacu pada konsep garap musik tradisi dengan mengedepankan keutuhan, harmonisasi dalam karya dengan tetap berpijakan pada tradisi yang ada.
Beragam cara dilakukan masyarakat Bali dalam menyambut hari raya Nyepi Tahun Baru Caka 1941. Selain mengarak ogoh-ogoh, ada juga yang menggelar tradisi di desanya masing-masing. Seperti terlihat di Desa Paksebali, Dawan, Klungkung. Menjelang pergantian Tahun Caka, warga Puri Satria Kawan melaksanakan tradisi “Lukat Gni” atau Perang Api. Tradisi ini digelar secara turun-menurun pada malam pangerupukan. Hanya, kali ini tradisi tersebut tidak dipusatkan di Catus Pata Desa Paksebali, melainkan digelar di Merajan Agung. Sejumlah pemuda Puri Satria Kawan, Desa Paksebali terlihat bersiap melaksanakan tradisi lukat gni sekitar pukul 20.00 wita. Setelah Ida Sesuhunan di Pura Merajan Agung Puri Satria Kawan masolah (menari), beberapa pemuda Satria Kawan mulai naik ke utama mandala pura merajan. Lukat Gni merupakan sebuah prosesi peperangan dengan sarana api. Bahan yang digunakan berupa daun kelapa kering. Setelah diikat daun kelapa kering tersebut dibakar dan kemudian dipukul-pukulkan oleh ma...
Gocek taluh artinya mengadu telur. Tradisi ini digelar di Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Karangasem, Bali. Dilaksanakan di pinggir jalan desa sore hari yang biasa dilakukan saat Tilem sasih Kasa. Sebelum dilaksanakan prosesi megocek taluh, pagi harinya ada tradisi masegeh. Masegeh ini merupakan tradisi menuntun anak sapi (godel) keliling desa yang diikuti oleh warga laki-laki dengan membawa pohon bongkot (kecomrang) dihias. https://bali.tribunnews.com/2019/01/21/tribun-wiki-15-tradisi-unik-di-karangasem-ada-yang-berebut-daging-ayam-hingga-mengadu-telur
Tradisi narat atau daratan juga ada di Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Karangasem. Tradisi ini merupakan rangkaian dari pelaksanaan Usaba Puseh yang dilaksanakan setiap setahun sekali selama enam hari. Dalam sekali Usaba Puseh, daratan digelar dua kali yakni hari ketiga dan hari terakhir. Tradisi narat ini dilakukan oleh warga yang dalam kondisi kerauhan dengan memikul joli yang dihias dengan daun braksok dan keris. Saat suara gambelan bertalu-talu dan kencang, mereka akan berlari dan menebas tangan, punggung, maupun dada dengan keris. sumber: https://bali.tribunnews.com/2019/01/21/tribun-wiki-15-tradisi-unik-di-karangasem-ada-yang-berebut-daging-ayam-hingga-mengadu-telur?page=2 .